Kesejahteraan Guru, Luar Biasa...!!!

Kesejahteraan guru luar biasa - Pihak guru pantas bersyukur berkaitan dengan profesinya sebagai pendidik.  Pemerintah benar-benar telah memperhatikan kesejahteraan guru. Bukti nyata perhatian pemerintah itu dengan diluncurkannya program sertifikasi guru sesuai dengan Undang Undang Nomor 14 tentang Guru dan dosen.

Dengan golongan IV A, seorang guru yang telah bertugas 20 tahun ke atas sudah bisa mengantongi tunjangan sertifikasi antara 4 sampai 5 jutaan per bulan. Ini belum termasuk gaji regular non sertifikasi. Luar biasa bukan? 

Seiring dengan peningkatan kesejahteraan tersebut, program sertifikasi juga bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah khususnya, dan di negeri ini  pada umumnya. Kini, program sertifikasi sudah berjalan lebih kurang delapan tahun sejak lahirnya undang undang Nomor 14 Tahun 2005.

kesejahteraan guru, meningkat,program sertifikasi

Apa yang telah berubah sejak adanya program sertifikasi? Kesejahteraan guru, boleh dikatakan sudah menunjukkan kecerahan. Guru boleh merasa lega dan senang dengan gaji yang luar biasa besar itu. Dengan berbekal ini, harapan masyarakat dan pemerintah, guru dapat memacu kualitas profesionalisme dan semangat mengajarnya di ruang kelas.  

Kualitas pendidikan? Apakah wajah pendidikan di negeri ini juga sudah berubah seiring dengan berubahnya wajah kesejahteraan guru? Sebagai admin matra pendidikan, blog personal artikel tentang pendidikan, tidak bisa menjawabnya. Maklum, masih awam masalah mutu pendidikan.

Fakta di lapangan, dunia pendidikan, khususnya di sekolah masih digerayangi oleh berbagai persoalan internal. Mulai dari manajemen, sarana prasarana dan lingkungan belajar sampai pengelolaan peserta didik.

Ternyata, peserta didik  lebih cepat menerima informasi dari lingkungan luar berupa media cetak, elektronik dan jaringan. Prilaku siswa yang dianggap menyimpang oleh pihak guru ternyata dianggap wajar oleh siswa. 

Pantasan, siswa sekarang semakin susah diatur. Diam-diam sebagian kecil guru ‘makan hati’ oleh tingkah polah siswa yang sedikit ngelantur.

Apalagi pendekatan guru terhadap siswa yang berprilaku menyimpang ini bersifat agresif dan konvensional. Ini pantangan siswa! Sebaliknya, siswa itu suka pada guru yang dapat menangani siswa dengan pendekatan persuasif. 

Metode taut bathin dan kekeluargaan. Siswa ingin diberlakukan sebagai sahabat dalam satu sisi. Namun di sisi lain siswa pasti akan menghargai dan menghormati gurunya.

Sepertinya, siswa membutuhkan figur yang pantas digugu dan ditiru namun bersikap demokratis dalam menghadapi siswa. Siswa butuh keteladanan dan sekali-sekali juga butuh kejujuran. Siswa akan bangga dan senang jika gurunya jujur berkata jika telah melakukan kelalaian dalam bertugas. 

Misalnya, terlambat masuk kelas karena sesuatu hal. Jika siswa terlambat masuk kelas, mereka jujur dan minta maaf. Kenapa guru harus gengsi melakukan hal itu jika terpaksa terlambat masuk mengajar?

Predikat guru profesional memang menghadapi banyak tantangan dalam menjalani tugasnya sebagai pendidik. Tunjangan sertifikasi yang luar biasa besarnya harus ditebus dengan berbagai rintangan dan tantangan. Namun jika tidak lagi sanggup dengan semua itu, lambat laun akan mengeluh juga.

Share this :

10 Responses to "Kesejahteraan Guru, Luar Biasa...!!!"

  1. mungkin sudah sepatutnya bagi rekan2 Guru yg sudah bersertifikasi ini bersyukur ya pak, dan berpikir bagaimana agar kesejahteraan tersebut berdampak positif pada sistem pembelajaran yg ada di sekolahnya masing2, agar menjadi contoh bagi rekan2 guru lainnya yg belum mendapat tunjangan sertifikasi.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, pak Eka. Harapan kita, pendidik profesional benar-benar mampu merubah pola pembelajaran ke arah yang lebih baik. Jika hanya mampu mengubah "penampilan" dan"administrasi" dikhawatirkan hanya akan menimbulkan masalah baru bagi guru.

      Terima kasih, pak Eka.

      Hapus
  2. nah, skrg kita kembalikan kpd para gurunya, sudahkah menjalankan tugasnya dgn baik dan bnr? skrg kan sudah terjamin tuh, jgn kemudian mengajar murid seenaknya aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Sob. Masyarakat dan orang tua siswa akan melakukan kontrol sosial kepada guru. Jadi, tak ada salahnya guru berprediket profesional melakukan auto-correct sehingga bisa memberikan sesuatu yang bernilai tambah kepada peserta didik.

      Hapus
  3. semoga dengan di perhatikannya kesejahteraan guru..makin membuat pendidikan di negeri ini menjadi lebih baik dari sebelumnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin. Menjadi lebih baik dari segi sistem, pelaksanaan dan hasilnya, mas Pur. Terima kasih, mas...

      Hapus
  4. mudah-mudahan... dengan demikian, guru-guru bisa lebih baik lagi dalam segala halnya.... supaya bisa 'tercetak' pelajar-pelajar yang cerdas, dengan demikian semoga bisa segera tercipta masyarak-masyarakat Indonesia yang cerdas di masa yang akan datang... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentunya masyarakat yang cerdas intelektual dan emosional. Iya kan Sob?

      Hapus
  5. kebanyakan guru sekarang hanya sebatas sebagai tenaga pengajar...bukan sebagai tenaga pendidik..jadi kalo anak muridnya sering bertindak tak wajar...ya itu mungkin karena gurunya yang tidak mampu untuk mendidik....,
    btw-aku lagi bikin lomba GA, dicari 32 orang blogger yang suka nulis dan corat coret untuk jadi pemenang dan mendapat hadiah guft menarik dari Makassar, Toraja dan Martapura Kalimantan Selatan...salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berangkat dari fenomena yang teramati, mungkin ada benarnya apa yang sobat katakan itu. Meskipun label yang diberikan kepada guru sertifikasi, yaitu "pendidik profesional" namun mendidik itu tidak mudah. Jangankan mendidik, mengajar pun belum tentu mudah, sob. Barangkali, perlu kerja sama dan dukungan lebih intensif dari pihak guru itu sendiri, orang tua dan masyarakat sekitarnya.

      Terima kasih komentar dan informasinya, sob.

      Hapus