Menangani Siswa Bermasalah

Menangani siswa bermasalah – Siswa bermasalah di sekolah tidak selalu diartikan sebagai siswa yang menunjukkan sikap dan prilaku menyimpang. Masalah siswa mencakup semua aspek yang berkaitan dengan kemajuan belajar siswa.

Sebagai contoh, siswa bersikap dan perilaku baik namun menunjukkan prestasi belajar menurun dari waktu ke waktu. Ini dianggap siswa bermasalah. Siswa yang sering terlambat datang, selalu murung dalam belajar, dan lain sebagainya. 

Sudah pasti, siswa suka berkelahi, bolos belajar, melawan pada guru, mengganggu teman dalam belajar, termasuk siswa bermasalah karena perilaku menyimpang.

pennganan,anak,bermasalah

Menangani siswa bermasalah di sekolah memang tidak mudah.  Tidak semudah membalik telapak tangan. Jika keliru menangani masalah anak, bisa jadi guru yang bersangkutan terkena sasaran ketidakpuasan siswa maupun orang tuanya.

Mungkin banyak teori atau pendekatan yang sudah dibaca oleh guru sebagai referensi mengatasi masalah siswa di sekolah. Namun itu hanyalah sekadar panduan dasar. Penyelesaian masalah siswa tidak selalu cocok dengan hanya berpedoman kepada buku. 

Pengalaman emperis guru, pendekatan dan pemahaman atas karakter siswa bermasalah akan menentukan keberhasilan dalam mengatasi masalah siswa.

Sering guru mengambil tindakan tanpa memperhitungkan situasi dan kondisi siswa. Misalnya, guru mengatasi masalah siswa hanya berdasarkan atas hukum (aturan dan tata tertib sekolah) tanpa mempertimbangkan aspek lain, misalnya latar belakang pribadi siswa.

Penanganan anak bermasalah untuk saat ini mungkin lebih efektif pendekatan persuasif dan kekeluargaan. Tentu saja harus melibatkan orang tua siswa sehingga siswa merasa tidak diadili melainkan merasa telah dibimbing ke jalan yang lebih baik. 

Dengan pendekatan ini, siswa bermasalah akan mengakui kesalahan dan dapat berkata jujur kepada guru yang menanganinya maupun orang tuanya.

Saya hanyalah seorang guru non-profesional sekaligus blogger yang selalu berusaha belajar dan...belajar serta mengajar di dunia maya maupun alam nyata.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

3 komentar

Write komentar
13 November 2013 22.07 delete

Tepat sekali, guru harus mengenal karakter tiap2 anak didiknya. Jangan semata berdasar tata tertib sekolah.
Anak menjadi trauma utk berangkat ke sekolah krn sering mendapat teguran dan hukuman, bahkan ancaman akan dikeluarkan dr sekolah. Pdhl kenakalan yg dia lakukan masih dlm batas wajar.

Reply
avatar
14 November 2013 06.35 delete

Ya, itu pentingnya pendekatan persuasif atas karakter siswa, Sob. Ancaman justru berpotensi munculnya pembangkangan oleh siswa. Bahkan, siswa akan 'mencoba-coba' membuktikan seberapa jauh ancaman itu dilaksanakan oleh guru...

Reply
avatar
16 November 2013 20.34 delete

Justru ancaman itulah yg membuat siswa trauma. Krn dia merasa tdk melakukan sesuatu yg fatal, tp mendapat ancaman yg keras.

Reply
avatar