Kurikulum 2013 : Kualitas atau Kuantitas?

Kurikulum 2013 kualitas atau kuantitas – Kurikulum 2013 merupakan sebuah program terstruktur produk teknologi pendidikan Indonesia yang lebih dinamis. 

Dinamisasi ini tercermin dari struktur dan muatan kurikulum untuk menyikapi perkembangan zaman. Ini merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN).

Isi  kurikulum 2013 memang meningkat dari kurikulum sebelumnya. Dari 32 menjadi 38 jam perminggu. Perubahan ini dikatakan sebagai peningkatan secara kuantitas. 

Jika hanya terjadi perubahan pada kuantitas, maka itu hanya akan menambah beban belajar siswa dan beban mengajar para guru. Baca : Mencermati Struktur Kurikulum 2013

kurikulum,kualitas,kuantitas

Perubahan yang diharapkan adalah terjadinya peningkatan kualitas pelayanan terhadap siswa dalam pembelajaran. Harapan ini diisyaratkan oleh kurikulum 2013 melalui pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Baca juga: Kurikulum Jembatan Mutu Pendidikan

Pembelajaran berorientasi pada bagaimana siswa belajar, bukan bagaimana seorang guru dalam mengajar. Siswa belajar secara kreatif dan inovatif dibawah bimbingan guru melalui peran strategisnya dalam pembelajaran. Baca juga: Peran Guru dalam Kurikulum 2013

Hasil belajar yang diharapkan pada diri siswa lebih mengedepankan dalam aspek sikap dan tingkah laku, di samping aspek pengetahuan dan keterampilan. 

Indonesia membutuhkan anak-anak yang cerdas namun lebih dibutuhkan lagi anak yang bersikap dan tingkah laku yang baik serta berbudi pekerti yang luhur. Cerdas di otak, cerdas pula di hati sanubari.

Share this :

8 Responses to "Kurikulum 2013 : Kualitas atau Kuantitas?"

  1. etitute memang nomor satu ya pak, karenanya yg harus dikedepankan adalah tingkah laku dan budi pekerti bagi siswa sebelum ilmu pengetahuan dan ketrampilan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali buk Indri...Anak cerdas namun bertingkah laku bobrok hanya akan memusingkan orang tua. Inilah pentingnya mengedepankan attitude dalam pendidikan anak...

      Hapus
  2. Sikap memang yang paling utama pak, karena dgn Budi Pekerti dan berakhlak mulia, peserta didik sebagai Calon Generasi Penerus Bangsa sangat di butuhkan, dan pengetahuan serta ketrampilan pun sangat dibutuhkan dlm pembangunan bangsa Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, pak Eka...Mudah-mudahan kurikulum 2013 lebih efektif untuk menjangkau sasaran kualitas pembelajaran untuk mengembangkan budi pekerti dan budi mulia. Terima kasih pak...

      Hapus
  3. yaap! Benar banget, mas.. kita butuh generasi yang cerdas otak dan hati.. !!! *prokprokprok

    BalasHapus
  4. Implementasi Kurikulum 2013 selain meningkatkan kemampuan akademik juga membenahi akhlak, diharapkan siswa memiliki akademik dan moral yang baik juga, menurut saya begitu. Bagaimana menurut pendapat saudara Pak? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, misi utamanya memang seperti itu mas. Mengembangkan kecerdasan otak maupun akhlak peserta didik. Di tingkat birokrasi pendidikan, kurikulum 2013 dinilai sangat bagus. Akan tetapi konsep pragmatis seperti itu bisa menjadi mentah kembali. sebab, dalam implementasinya di lapangan tidak cukup hanya dengan kesiapan guru untuk menerapkanya.

      Bukankah kurikulum 2013 ini sarat materi, sementara sarana dan prasana pendukung untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 secara utuh masih perlu dipertanyakan. Begitu analisa saya, mas Arif....

      Hapus