Siswa Lebih Dulu Menilai Guru

Siswa lebih dulu menilai guru – Salah satu komponen penting dalam pembelajaran adalah penilaian.  Kegiatan penilaian sudah pasti dilakukan oleh guru setelah menyelesaikan pembahasan materi pelajaran. Tentu saja guru tidak sembarang menilai. Guru telah mempersiapkan perangkat penilaian, termasuk soal-soal penilaian.

Sebelum guru melakukan itu, ternyata siswa lebih duluan melakukan penilaian terhadap guru. Tidak ada perangkat penilaian yang dibuat oleh siswa. Begitu pula soal-soal penilaian. Penilaian terhadap guru ternyata bersifat spontanitas dalam bentuk observasi belaka.

siswa,menilai,guru

Saat pertama berdiri di depan kelas. Saat itu pula, guru akan menjadi pusat perhatian oleh semua siswa. Sekian pasang mata tertuju pada guru. Mulai dari kepala sampai ke ujung sepatu. Raut wajah guru begini, hidungnya begitu, bibirnya begini…dan seterusnya. Baca juga: Guru Tokoh Sentral di Kelas

Cara dan gaya guru berbicara. Sudah pasti menimbulkan penilaian tersendiri pada masing-masing siswa. Begitu pula kebiasaan-kebiasan guru ketika mengajar. Ada yang sering garuk kepala tanpa disadari, mengulang-ulang kata atau ucapan-ucapan tertentu yang mungkin bisa di hitung oleh siswa.

Semua itu boleh jadi menjadi diskusi hangat dan menarik bagi siswa di kantin sekolah. Kekurangan atau kelebihan guru akan terkuak dalam diskusi non formal tersebut. Gaya siswa menceritakan guru kadang-kadang melebih gaya juru kampanye pada pemilu legislatif atau presiden. Baca juga: Inilah Ciri Guru yang Baik

Begitu panjang proses penilaian yang dilakukan siswa terhadap guru. Bahkan, sekian tahun yang akan datang akan diingat terus oleh siswa. Guru bisa lupa kepada siswa setelah sekian tahun mendatang. Namun siswa tidak akan pernah lupa pada guru. Kecuali dilupa-lupain…hehehe.

Fenomena ini patut menjadi perhatian khusus oleh guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran di ruang kelas. Jika guru berhasil memberi kesan baik dan simpati, besar harapan untuk merengkuh proses belajar berikutnya yang lebih menyenangkan. Ujung-ujungnya akan mempermudah usaha guru untuk mengelola pembelajaran efektif dan efisien.

Namun jika gagal, siswa akan merasa “terpaksa” mengikuti pelajaran. Jika ada kesempatan untuk minta izin keluar, itu akan mereka lakukan. Begitu pula untuk bolos belajar, atau mereka pilih saja untuk tidak hadir di sekolah pada hari-hari tertentu.

Begitu besar pengaruh penilaian siswa terhadap guru. Oleh sebab itu, guru perlu mengetahui dan mendalami dinamika perkembangan siswa lebih jauh. Semuanya bertujuan untuk menciptakan pelayanan pembelajaran yang baik.

Saya hanyalah seorang guru non-profesional sekaligus blogger yang selalu berusaha belajar dan...belajar serta mengajar di dunia maya maupun alam nyata.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
26 Juni 2014 17.53 delete

YUpz, sepakat dengan bapak Uda, siswa dan siswi kadang tanpa kita ketahui sering memperhatikan cara kita mengajar, dan kadang kalau siswa yg perpikiran kritis, kadang berani bertanya dan menegur kalo pembelajaran yg kita lakukan misalnya cuma monoton itu2 saja ... :) nice artikel pak :)

Reply
avatar
26 Juni 2014 19.01 delete

Ini pasti berbeda dengan kita bersekolah pada zaman dulu. Tapi itulah dinamika pendidikan yang tak lepas dari perkembangan zaman. Mungkin kita perlu lebih membuka diri menghadapi anak-anak kritis tersebut, pak Eka...

Reply
avatar
27 Juni 2014 16.47 delete

Guru yang baik adalah guru yang disegani siswanya bukan ditakuti, dan selain itu guru yang baik adalah guru yang bisa menjadi sahabat kedua bagi siswa -siswanya setelah orang tua, benarkan pak :D

Reply
avatar
27 Juni 2014 18.57 delete

Iya, pak Ibrahim. Guru yang ditakuti biasanya sering membuat siswa tertekan. Dapat atau tidak, dijadikan sahabat kedua setelah orang tua murid sesungguhnya berawal dari penilaian siswa terhadap guru melalui cara dan gaya guru bicara serta sikap dalam mengajar...

Reply
avatar