Kurikulum 2013, Siswa Banyak PR (?)

Kurikulum 2013, siswa banyak PR (?) – Kurikulum 2013 secara konseptual memang memiliki kelebihan dibanding dengan kurikulum sebelumnya. 

Pembelajaran diarahkan pada bagaimana siswa belajar, bukan bagaimana guru mengajar. Siswa diberi peluang untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Muaranya adalah percepatan upaya peningkatan kualitas pendidikan.

Namun dikhawatirkan, kurikulum 2013 sarat muatan sehingga beban belajar siswa menjadi lebih berat. Mengarifi hal ini, guru diharapkan tidak terjebak dalam pembelajaran yang monoton. 

Di akhir pembelajaran selalu memberi pekerjaan rumah (PR) yang tidak sedikit. Selalu menganjurkan siswa untuk mencari sumber dan bahan belajar di rumah padahal pulang sekolah sudah sore. Ini patut menjadi bahan pemikiran.

kurikulum,2013,PR

Esensi kurikulum 2013 sebenarnya terfokus kepada aspek sikap dan tingkah laku. Dalam materi pembelajaran dari setiap mata pelajaran mengandung muatan dan nilai karakter yang baik. 

Sebagai contoh, ketika siswa belajar lensa mata manusia, terselip nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan berupa rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan-Nya. Kemudian sikap untuk memelihara kesehatan mata agar tidak mengalami kerusakan sebelum waktunya.

Karakter anak di suatu sekolah masih menjadi pertimbangan utama pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Begitu pula sarana dan prasarana yang tersedia.  

Namun keterbatasan fasilitas belajar yang dimiliki sekolah tidak menjadi alasan bagi guru untuk memberikan PR “seenaknya”.

Memberi PR pada siswa merupakan langkah yang cukup positif agar anak belajar di rumah. Dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang sudah dijelaskan di sekolah. 

Akan tetapi pekerjaan rumah yang terlalu banyak, apalagi semua mata pelajaran dalam setiap hari memberikan PR, apa jadinya? Siswa akan kewalahan dan kehilangan waktu istirahat.

Tentu saja, sebagai orang tua kita berharap, kurikulum 2013 tidak semestinya terlalu membebani siswa dengan berbagai tugas dan pekerjaan rumah. Siswa adalah individu yang sedang tumbuh dan berkembang. 

Proses pendidikan yang mereka lalui hendaknya bersifat humanis dan manusiawi. Yang menjadi catatan penting adalah pemberian tugas rumah sesuai dengan taraf berfikir dan perkembangan siswa.

Share this :

9 Responses to "Kurikulum 2013, Siswa Banyak PR (?)"

  1. Saya masih belum banyak paham INTI dari Kurikulum 2013 ini,. Terima kasih atas pencerahannya. Soal PR saya kira ini juga bisa didiskusikan lagi oleh para praktisi pendidikan lainnya, atau mereka yang berminat dalam pendidikan. Secara pribadi PR bisa berdampak positif bagi menunjang kreatifitas anak. Sebagiang yang lain kurang setuju terhadap pemberlakuan PR ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas Asep, PR itu sangat penting namun yang kurang setuju mungkin karena porsi PR itu yang terlalu membebani siswa....

      Hapus
  2. Tapi selain banyak PR, adik saya selalu pulang lama.. biasanya pulangnya jam 3 sore mas.. ckckc kasian banget jadi :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu akibat penambahan alokasi waktu pada mata pelajaran tertentu, mas...tapi mudah-mudahan mutu pendidikan menjadi jauh lebih baik meskipun siswa nyaris menyamai waktu orang kerja di kantor...hehehe.

      Hapus
  3. Pengalaman anak saya kemarin memang banyak PR dan bahkan terkadang belum diterangkan, dan siswa hanya diberi materi. Namun terus terang yang membuat bingung saya itu menilai hasil belajar anak. di rapor semua uraian dan tidak ada nilainya (seperti rapor TK), jadi tidak tahu sejauh mana keberhasilan belajarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, lama nggak muncul nie mas. Gmana kabarnya?

      Ya, mas. Ini sangat kita sayangkan sebagai orang tua. Tapi mau gmana lagi, sistem persekolahan sudah terlanjur seperti itu. Kita hanya berharap agar guru mempertimbangkan kondisi psikologis dan fisik siswa kalau memberi tugas rumah.

      Rapor yang bersifat deskriptif memang membingungkan kita mas, termasuk saya...

      Hapus
  4. Ternyata masih banyak yg tetap mengutamakan pengetahuan ya pak, padahal yg saya ketahui sistemnya kan tematik Integratif, dan lebih mengutamakan Sikap (spiritual dan sosial)

    BalasHapus
  5. Iya, pak. Paling tidak terbukti dari banyak keluhan orang tua soal pekerjaan rumah yang diberikan guru...

    BalasHapus
  6. Sebagai murid SMA, cuma mau bilang aja. Udah pulang sore, materi banyak, banyak pr, masih saja di tanya "kamu gak belajar?". Emangnya kami semua manusia sempurna yang harus bisa menguasai semua mata pelajaran hehehehehehehhheehhehhehheheeh

    BalasHapus