Nyanyian Sendu Batang Kapuah - Bagian 1

Nyanyian Sendu Batang Kapuah - Bagian 1

Batang Kapuah, hanyalah nama sebuah kali kecil di Jorong Kapuah Kenagarian Sumani Kabupaten Solok. Warga sudah biasa menyebut sungai atau kali dengan sebutan batang air. Karena melewati jorong Kapuah maka sungai tersebut biasa dinamai dengan Batang Kapuah saja.

Batang Kapuah membelintang dari barat ke timur. Hulu sungai Batang Kapuah nun jauh di perbukitan sebelah barat Kenagarian Koto Sani. Airnya mengalir berliku-liku bagai ular menuju muaranya, persis di pinggang aliran sungai Batang Sumani. Setelah membaur dengan air Batang Sumani, air sungai ini kemudian menuju ke Danau Singkarak.

Nama jorong Kapuah, konon diambil dari nama sebuah tumbuhan kapuk. Sejenis tumbuhan kapas dimana daunnya bisa dijadikan obat penawar panas tubuh atau demam. Bahkan, bila dicampur dengan kuning telur, bisa pula digunakan untuk obat pereda sakit gigi.


Dahulunya ada sebatang pohon kapuk besar dan hidup berpuluh-puluh tahun. Tapi kemudian pohon itu dimusnahkan karena pohon itu sudah berpenghuni. Artinya, pohon itu dianggap mempunyai hantu jin dan menjadi tempat tinggalnya.

Sebenarnya, Batang Kapuah tidak begitu lebar, hanya kira-kira 5 - 7 meter. Namun dasar sungai cukup dalam. Nyaris menyerupai sebuah ngarai apalagi ketika musim kemarau tiba dan airnya nyaris tidak mengalir.

Warga sekitar sungai mandi ke tempat-tempat strategis di sepanjang pinggiran sungai Batang Kapuah. Maka tidaklah menjadi pemandangan aneh jika di sepanjang pinggiran sungai terlihat perempuan atau laki-laki mandi, terutama sore hari. Kadang-kadang tempat pemandian yang strategis itu menyerupai pasar sore karena ramainya.

Biasanya di tempat pemandian itu juga terdapat sumur kecil sebagai tempat mengambil air untuk minum. Selesai mandi, biasanya warga membawa air sumur pulang. Perempuan-perempuan yang terampil membawa air dengan ember yang di letakkan di kepala memakai simuluang, kain yang digulung dan dijadikan alas di kepala  tanpa dipegang.

Memang, dulunya tidak ada orang membuat sumur di rumah. Tapi lama kelamaan, tradisi itu telah berubah. Nyaris semua rumah sudah memiliki sumur di rumah meskipun mereka tinggal di sekitar sungai.

Ketika musim hujan tiba, sungai Batang Kapuah meluap. Membawa lumpur kotor bersama sampah dari hulu sungai. Menimbulkan bau busuk dan  bunyi gemuruh yang aneh. Bagi orang yang berdomisili di sepanjang pinggiran aliran sungai, bunyi gemuruh dan bau yang aneh itu adalah hal yang biasa. Bahkan dianggap sebagai nyanyian pengantar tidur saja.

Saat terjadi banjir pada sungai Batang Kapuah. Adalah saat yang mengasyikkan untuk menangkap ikan bilih di setiap lekukan sungai. Di lekukan-lekukanini, air kotor berputar-putar dan banyak ikan menyelamatkan diri disini. Ikan tak mau hanyut bersama air kotor dan deras ke arah muara.

Alat penangkap ikan yang sesuai adalah jala kecil atau tangguk. Tangguk yang dipakai adalah tangguk rapat, tangguk yang dibuat agak rapat sehingga membawa ikan sampai ke ukuran kecil (rinuak).

Ketika  mulai agak surut, air sungai Batang Kapuah menjadi jernih dan deras. Saat itu adalah saat yang mengasyikkan bagiku dan teman-teman mandi bersama sambil berhanyut-hanyutan tanpa pelampung.

Pada tempat dimana airnya dalam dan arusnya lambat, kami main terjun pacak. Sebuah permainan anak-anak dimana seorang anak naik ke atas tebing pinggiran sungai kemudian terjun menghambur ke dalam air. Yang berhasil membuat semburan air paling banyak dan tinggi dibilang ia hebat. Biasanya bisa dilakukan bila si penerjun melipat tangan dan bersila ketika berada di udara. Jika salah dalam melakukan aksi di udara maka pungggungnya akan sakit ketika menerpa permukaan air.

Karena keasyikan mandi-mandi dan terjun pacak, aku sering lupa tugas dan pekerjaan yang diberikan orang tua. Ayah akan memanggil dan menjemputku sambil membawa pelecut atau pemukul untuk menghukumku (Bersambung)

Posting Komentar