Upaya Menghidupkan 'Roh' Pembelajaran

Upaya menghidupkan 'roh' pembelajaran – Menjadi guru itu sesungguhnya pekerjaan yang menyenangkan sekaligus memiliki banyak tantangan. Menyenangkan karena panggilan, ‘pak guru’, ‘buk guru’ atau ‘guru’ saja selalu disandang sekalipun sudah memasuki masa pensiun. Orang di sekitar maupun bekas murid akan selalu memanggil bapak atau ibuk.

Panggilan seperti ini tidak akan dijumpai oleh pegawai lain ketika sudah memasuki usia pensiun. Orang-orang di sekitar kita kemungkinannya lebih banyak bekas murid sendiri. Guru mungkin lupa dengan muridnya tapi murid tak akan pernah lupa dengan gurunya.

Ketika masih aktif mengajar, guru adalah sosok sentral di ruang kelas. Murid yang belajar di sebuah kelas sekian banyak, namun guru yang mengajar dalam alokasi waktu tertentu hanya satu orang. Tak pernah ada dua atau tiga orang sekaligus mengajar di kelas dan waktu yang sama.

upaya guru,menghidupkan roh,pembelajaran

Sebagai sosok sentral, guru mengelola semua aktivitas belajar dan mengajar. Ketika mengajar maka ketika itu pula ada murid yang belajar. Kegiatan belajar dan mengajar berlangsung dalam waktu bersamaan.

Menjadi sosok sentral di ruang kelas memerlukan keahlian dan keterampilan khusus sehingga dapat mengelola pembelajaran dengan baik.  Semua itu terangkum dalam persiapan, baik tertulis maupun tidak tertulis. Persiapan tertulis dikenal dengan perangkat pembelajaran. Dokumen ini sangat penting artinya buat pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

Namun perangkat pembelajaran semata tidak dapat diandalkan untuk mengelola kelas. Sehebat apapun perangkat mengajar yang dimiliki guru belum berarti apa-apa jika hanya berupa dokumen benda mati yang tidak operasional.

Dokumen tertulis ini perlu dilengkapi dengan persiapan tidak tertulis sehingga roh pembelajaran menjadi lebih hidup. Apa saja persiapan tidak tertulis yang akan ‘menghidupkan’ pembelajaran di kelas?

1.Gaya (style) mengajar

Dalam perangkat mengajar seorang guru tidak pernah bisa dituliskan bagaimana stil mengajar seorang guru. Yang ada hanyalah strategi dan metode pembelajaran. Gaya mengajar seorang guru bersifat spesifik. Sulit ditemukan dua atau tiga guru yang memiliki stil mengajar yang persis sama.

Gaya mengajar seorang guru akan menentukan hidup atau tidaknya perangkat tertulis seorang guru. Dengan gaya mengajar spesifik yang dimiliki seorang guru berpotensi untuk memberikan roh pada proses pembelajaran.
Baca : Penampilan Guru dan Suasana Belajar

2.Sikap dan kebiasaan

Masih berkaitan dengan gaya mengajar, ternyata sikap dan kebiasaan dalam mengajar akan menjadi penilaian tersendiri bagi siswa. Sikap mengajar dikenal dengan sikap otoriter, permisif dan demokratis. Guru tidak dapat memaksakan diri untuk memilih ketiga sikap mengajar tersebut.
Simak : Kebiasaan Unik Guru Ketika mengajar

3.Kharisma

Sering siswa menyebutkan dimana kharisma seorang guru dapat menghidupkan ruh pembelajaran. Kharisma adalah ciri karakteristik yang melekat pada diri seseorang sehingga orang lain mempercayai dan mentauladaninya. Kharisma seorang guru mampu menghidupkan ruh pembelajaran sehingga berlangsung tanpa hambatan yang berarti.

4.Kesehatan dan kebugaran

Kita dapat membayangkan jika seorang guru tampil dalam kondisi yang kurang sehat dan tidak bugar. Guru akan terlihat loyo dan menurunkan nuansa pembelajaran menjadi tidak menarik. Oleh sebab itu tidak bisa dianggap sepele kondisi kesehatan dan kebugaran seorang guru dalam pembelajaran.

5.Faktor lain

Upaya menghidupkan roh pembelajaran juga ditentukan oleh faktor intrinsik lainnya. Faktor tersebut bersifat relativitas yang tinggi. Artinya tergantung dari sudut mana siswa memandang penampilan guru ketika berada di ruang kelas. Misalnya, pak guru ganteng atau buk yang cantik, katanya cenderung berpotensi menghidupkan roh pembelajaran. Benarkah? Allahuwallam bissowaab…
Baca juga : Guruku Cantik Sekali
Fakta tersebut paling tidak mengingatkan bahwa guru perlu tampil menarik dan simpatik di ruang kelas karena menghadapi berbagai siswa dengan karakter dan latar belakang heterogen.

0 Response to "Upaya Menghidupkan 'Roh' Pembelajaran"

Posting Komentar