Kidung Sendu Masa Lalu

Kidung Sendu Masa Lalu

Kidung sendu masa lalu - Malam semakin larut. Terasa sepi dan sunyi. Tiada terdengar suara anak manusia. Begitu pun suara mesin motor atau kendaraan yang lewat di jalan raya di depan sana.
Hanya suara jengkrik malam yang terdengar sahut menyahut. Itu pun tidak mampu memecah kesunyian malam. Bahkan sebaliknya, menambah dinginnya hati dan perasaanku.
Hm, sudah larut malam begini. Sungguh mati. Mata ini tak mau terpejam. Mana mungkin bisa memejamkan bola mata. Hati ini semakin gelisah dipermainkan rasa sepi yang mendalam.


Foto : Illustrasi kidung sendu (pixabay.com)

Kembali untuk kesekian kalinya aku bangkit dari pembaringan. Perlahan kutengadahkan kepala, memandang jam dinding terpajang di dinding kamar tidur. Jarum jam menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit.
Aku menarik nafas dalam.
Entah mengapa tiba-tiba aku jadi teringat Anisa. Sosok bayangan wanita itu semakin jelas menari-nari dalam pikiranku.Namun hatiku semakin sedih. Kesedihan mengiringi kesendirianku di penghujung malam nan sepi.
Anisa pernah hadir sejenak dalam dunia nyataku tiga tahun lalu. Hanya sekali bertemu. Ya, hanya sekali bertemu dan itu terjadi di Pantai Muaro Lasak Kota Padang. Ternyata pertemuan pertama itu sekaligus untuk yang terakhir di dunia nyata.
Ketika itu, baru kenalan langsung akrab. Mungkin karena aku dan Anisa sama-sama jomblo. Tidak ada yang akan membatasi atau akan marah dengan keakraban aku dan Anisa.
Meskipun saling terbuka dan membuka hati, aku belum berani mengatakan sesuatu pada Anita. Aku khawatir Anisa salah paham. Jangan-jangan Anisa menganggapku lelaki yang mudah jatuh cinta.
Tidak. Aku tak mau Anisa menganggapku seperti itu.
Karena jarak memisahkan cukup jauh, aku dan Anisa berkomunikasi via HP. Sesekali kami saling telepon. Namun lebih sering chatting melalui facebook messenger.
Suatu ketika, aku menyampaikan isi hatiku melalui aplikasi media sosial itu. Ternyata Anisa membalasnya. Alangkah bahagianya hatiku. Rasanya aku ingin datang ke kampung Anisa meskipun jauh jaraknya.
Hari demi hari berlalu dengan indahnya meskipun kami hanya bertemu di dunia maya. Hasrat untuk bertemu kembali dengan Anisa di dunia nyata tak terperihkan lagi. Itu sebabnya aku beranikan diri untuk datang ke rumahnya meskipun belum pernah kesana. Dimana pun kampungnya akan kucari, begitu tekadku.
Apa hendak dinyana. Ternyata hasratku berbeda dengan Anisa. Agaknya memang Anisa keberatan atas kunjunganku ke rumahnya. Setiap aku sampaikan perihal itu, Anisa selalu mengalihkan pembicaraan di waktu chatting.
Herannya lagi, pesanku seakan dicuekin saat itu. Kuhubungi lewat telpon tapi tidak digubris. Begitu pula pesan singkat tak digubris. Akhirnya kuketahui nomor HP-nya pun diganti sehingga tak pernah nyambung ketika kuhubungi nomor yang ada padaku.
Akun facebook Anisa pun sudah tidak aktif lagi. Tak bisa lagi aku menghubungi Anisa dengan cara apapun. Hatiku telah dibawanya pergi mengilang dan tak tahu lagi rimbanya.
Seminggu kemudian, aku menerima pesan singkat dari nomor handphone yang tak kuketahui pengirimnya:
“Maafkan aku, Uda. Pasti uda telah kecewa dengan apa yang telah kulakukan. Akhir-akhir ini aku sengaja menonaktifkan semua akun media sosial dan mengganti nomor ponsel agar tidak bisa Uda hubungi lagi.
Pahit memang kenyataan ini. Tapi apa hendak dikata, aku hanyalah seorang wanita yang lemah. Tidak berdaya menghadapi keinginan orangtuaku. Aku akan menikah dengan pria pilihan orangtuaku.
Uda, sekali lagi maafkanlah diriku. Kuharap Uda akan menemukan pengganti diri ini seorang wanita yang lebih baik.” Anisa.
Aku terhenyak membaca pesan dari Anisa.
Braaannnkkkkkk…!!!!
Suara benda jatuh itu telah membuyarkan lamunanku. Ternyata suara itu berasal dari ponselku yang terjatuh dari tempat tidur. Tadi aku meletakkan HP terlalu ke pinggir sehingga tak sengaja tersenggol oleh tanganku.
Baca juga : Disini Cinta Bersemi Disini Cinta Berakhir
Angin subuh bertiup menelusup lewat ventilasi membuat aku kedinginan. Namun sesungguhnya hatiku jauh lebih dingin. Kidung sendu masa lalu bersama Anisa telah meliuk-liukkan hati dan perasaanku di subuh yang dingin ini.

Posting Komentar