Ketika Mimpi Itu Jadi Kenyataan

Ketika mimpi itu jadi kenyataan - Dibawah terpaan sinar rembulan  Meliza menatap lepas ke lautan, mengukir senyum indah di wajahnya. Mengingat kehidupan yang dulu begitu sulit dan sekarang ia bisa menikmati pendidikan di salah satu fakultas ternama di pulau jawa.

wanita,mimi,nyata
Foto : Ilustrasi mimpi jadi nyata (pixabay.com)

Meliza menatap jam tanganya sambil terus menunggu kapal yang akan ia tumpangi untuk sampai ke pulau kalimantan.

Terbayang saat dua tahun lalu Meliza menerima surat beasiswa untuk kuliah. Satu hal yang tak dapat di percaya sampai sekarang pun Meliza merasa bahwa ini semua masih mimpi….

*****

Sadar diriku bukan siapa-siapa aku harus berusaha ekstra keras dari anak-anak kebanyakan untuk menggapai semua mimpiku, terlahir di daerah perbatasan. Membuat aku dapat menyaksikan perkembangan pendidikan di  negara Malaysia, membuat aku ingin sekolah disana tapi apa boleh buat, ini semua sudah takdir, 

Andai dulu aku lahir beberapa kilometer saja dari gubuk bambu ini, pasti aku bisa menikmati pendidikan yang lebih baik. Semuanya tak cukup dengan andai-andai.

Hari ini guru baru akan datang ke sekolah kami, aku harap dia dapat bertahan lama, soalnya guru yang kemaren-kemaren  hanya bertahan beberapa minggu tidak sampai satu bulan.

Aku menumpukan semua harapanku padanya. Sudah hampir dua minggu kami libur tak ada guru yang mengajar, jadi apa boleh buat. Kami anak-anak perbatasan, terurama aku tidak mengharapkan gedung sekolah bertingkat seperti di ibukota.  Tapi cukup dengan adanya guru yang mengajar di sekolahku, sudah membuat aku bahagia.

Aku meminta agar orangtuaku membangunkan ku jam lima pagi agar tidak terlambat. Perkataan ibuku sontak membuat aku kaget, “Jangan terlalu berharap, kita bukan siapa-siapa, jika kau gagal meraih semua mimpimmu, pasti kau akan kecewa nantinya, lebih baik kau mulai membantu ibu bekerja di ladang. Sudahlah berhenti untuk bermimpi, aku tidak bisa membiaya sekolahmu ke tingkat yang lebih tinggi.”

Mendengar semua perkataan beliau membuatku ingin menangis sekencang-kencangnya, tapi apa beloh buat. Untuk beberapa hari kata-kata ibu membuatku putus asa, menyerah dengan takdir.

Tapi hari ini, tanpa sengaja aku bertemu dengan guru baru itu, di pasar. Aku belum mengenal namanya dari daerah mana dia. Aku membantunya untuk belanja hingga aku dan guru itu mulai akrab, namanya bu Tita, dia sangat cantik dan cerdas terlihat dari cara bicaranya, sungguh aku ingin seperti dia.

"Meliza, sejak ibu mengajar di sini ibu tak pernah melihatmu di sekolah" tanya bu guru Tita padaku.

Sebenarnya ini pertanyaan yang aku tunggu-tunggu, berharap dia dapat membantuku, untuk sesaat aku diam aku bingung harus cerita dari mana.

"Sebenarnya saya sangat ingin sekolah, saya ingin menjadi orang sukses di Jakarta tapi ibu bilang tidak punya uang untuk melanjutkan pendidikan saya" ucapku menunduk.

"Meliza, sekarang pemerintah sudah memprioritaskan, pendidikan itu nomor satu, Meliza tau kenapa?”

Aku hanya bisa menggeleng

"Karena masa depan berada di tangan kalian, generasi penerus bangsa, dan untuk itu semua, pemerintah sudah mempersiapkan beasisiwa bagi siswa miskin tapi berpreatasi"

Mendengar semua pernyataan bu guru Tita, aku tetsenyum. Sejak saat itu aku mulai giat belajar dan… benar saja, aku mendapatkan itu semua.

Aku sangat berterima kasih pada bu Tita walaupun semenjak aku tamat dari SD aku belum pernah bertemu dengannya dan sudah ku coba untuk mencarinya di berbagai media sosial tapi tetap saja aku tak menemukannya dan dia juga tak lagi mengajar di SD tempat duluh aku pernah berekolah.

******
Dan akhirnya, kapal yang ditunggu-tunggu Meliza pun datang. Ia akan memberikan kejutan untuk ibu, ayah dan adik-adiknya. Optimis itu penting, namun semuanya tergantung seberapa jauh kita percaya. Tapi juga harus di sertai usaha dan kerja keras, tak cukup dengan modal do'a dan keyakinan. (*Kiriman : Sara Ayusti )
Simak juga : Ajari Aku Cara Belajar
*) Sara Ayusti, Siswi SMPN 2 Lintau Buo, Kab.Tanah Datar, Sumbar

0 Response to "Ketika Mimpi Itu Jadi Kenyataan"

Posting Komentar