Bioteknologi Konvensional dalam Produksi Pangan

Bioteknologi konvensional dalam produksi pangan - Salah satu konsep pembelajaran IPA di kelas IX SMP/MTs adalah bioteknologi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan penerapannya, pembahasan materi ini lebih terfokus pada bioteknologi konvensional dalam berbagai jenis produk makanan dan minuman. 


bioteknologi,konvensional,produksi,pangan
Ilustrasi bioteknologi konvensional produk pangan (matrapendidikan.com)

Sering guru mata pelajaran IPA memberi tugas khusus tentang hal ini. Bisa saja guru memberi tugas kepada siswa membuat laporan hasil praktikum. Siswa membuat laporan setelah  siswa secara berkelompok melakukan praktik di laboratorium atau di rumah. 

Ada pula tugas membuat laporn tanpa melakukan percobaan. Siswa membuat laporan kerja kelompok dengan membaca bahan sumber. Hasil laporan ini kemudian dipresentasikan dalam diskusi kelompok di kelas.

Tugas yang paling sederhana adalah membuat laporan tentang produk bioteknologi konvensional kemudian diserahkan langsung kepada guru untuk penilaian. Namun pemberian tugas oleh guru mata pelajaran tergantung pada karakter dan potensi siswa di suatu sekolah. 

Sekadar membantu siswa dalam menyelesaikan tugas seputar bioteknologi konvensional, pada kesempatan ini akan dibahas sekilas tentang bioteknologi konvensional dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan bioteknologi konvensional akan dikembangkan khusus pada produksi pangan.

Bioteknologi adalah penerapan prinsip-prinsip ilmu dan teknologi untuk memproses materi melalui agen biologi untuk meningkatkan nilai tambah. Sebagai contoh, kedelai akan memiliki nilai tambah jika difermentasi menjadi tempe dan kecap. 

Begitu pula keju dan yoghurt yang merupakan hasil peoses pengolahan materi susu. Sedangkan produk nata de coco berasal dari air kelapa, sosis kering terbuat dari daging sapi yang difermentasi.

Bioteknologi terdiri atas bioteknologi konvensional dan modern. Bioteknologi konvensional pada umumnya menggunakan mikroorganisme sebagai agen biologi untuk menghasilkan produk yang diinginkan.

Jamur dan bakteri merupakan mikroorganisme populer yang menghasilkan enzim tertentu untuk melakukan proses metabolisme. 

Jamur rhizopus oligosporus adalah contoh agen biologi untuk menghasilkan enzim protease guna memberi nilai tambah pada kedelai sehingga dapat membuat tempe. Begitu pula jenis mikroorganisme acetobacter xylinum untuk menghasilkan produk pangan nata de coco.
Dalam kehidupan sehari-hari siswa sering makan atau minum produk bioteknologi konvensional seperti; tempe, tapai (tape), kecap, yoghurt, nata de coco, keju, obat antibiotik dan lain sebagainya. 
Baca juga : Proses Membuat Nata de Coco
Akan tetapi boleh jadi siswa belum mengetahui apa bahan, bagaimana cara dan proses pembuatan masing-masing produk bioteknologi konvensional tersebut.
Bioteknologi modern berhubungan dengan manipulasi atau rekayasa materi genetik, seperti DNA. Semangka tanpa biji, cloning domba dan anjing, itu semua adalah contoh yang sering kita dengan tentang produk bioteknologi modern hasil rekayasa materi genetik.

Demikianlah sekilas tentang bioteknologi konvensional dalam produksi pangan Mudah-mudahan bermanfaat buat siswa SMP/MTs khususnya dan pengunjung blog ini pada umumnya sebagai bahan informasi ringan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan.

0 Response to "Bioteknologi Konvensional dalam Produksi Pangan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel