Perjalanan Panjang ( Bagian Keempat )

Rusdi tidak kaget ketika tukang tambal memberitahukan benen motornya telah diganti dengan yang baru. Benen ban motornya rusak parah karena robek sehingga tidak dapat ditambal. Oleh sebab Itu ia harus mengeluarkan uang untuk beli benen baru dan upah pasang. Ia pun tak membantah dan segera membayar semua biaya yang ditimbulkan oleh kendaraannya.

perjalanan panjang,nostalgia,kereta api
Ilustrasi kereta api (doc.matrapendidikan.com)

Ban kendaraan bermotor tidak boleh kekurangan angin ketika dikendarai, apalagi menempuh jarak jauh. Hal ini akan memperbesar peluang untuk mengalami kempes di perjalanan. Namun sebelum berangkat dari rumah, Rusdi lupa untuk memeriksa angin ban kendaraannya.

Selain itu Rusdi telah mengendarai motornya dalam keadaan ban tanpa angin menuju tempat tempel benen. Tentu saja akan membuat benen kendaraannya menjadi rusak parah.

Itu pula sebabnya tadi Rusdi meninggalkan motornya di tempat tempel benen. Ia menyerahkan mana baiknya oleh tukang tempel benen. Bisa ditempel saja atau diganti dengan benen baru kalau memang tidak bisa dipakai lagi.

Kini Rusdi dan istrinya Salmina sudah berada di atas motor bebeknya. Mulai menyusuri jalan raya berliku di sepanjang pinggiran danau dengan kecepatan sedang. Kendaraannya kini terasa nyaman dikendarai. Ia berharap sampai di kampung halamannya tanpa kendala.

Jalan Raya Lintas Sumatera memang berliku-liku di sepanjang pinggiran danau Singkarak. Jika dipotret dari ketinggian, jalan berliku di pinggiran danau menjadi sebuah pemandangan yang bagus.

Di sebelah kiri jalan raya terdapat jalur jalan kereta api. Konon rel kereta api itu tidak pernah lagi dilewati oleh kereta api. Kereta api jurusan Sawah Lunto - Batu Tebal sudah berhenti beroperasi. Boleh jadi biaya operasi transportasi ini tidak tertutupi lagi oleh pendapatan dari penumpang kereta wisata ini.

Rusdi sudah kangen untuk naik kereta api lagi. Sudah lama ia tak lagi menaiki sarana transportasi unik ini. Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar dan SMP, Rusdi sering naik kereta api. Mulai dari kereta api berloko uap sampai loko diesel impor Jerman.

Yang paling menyenangkan bagi Rusdi ketika itu adalah dapat menumpang kereta api gratis. Caranya berdiri di gerbong batubara. Berwisata ria dari stasiun Simpang AA menuju Solok dan terus ke Sawah Lunto. Atau dari stasiun Simpang AA menuju Batu Tebal.

Kereta angin atau sepeda dan kereta api tak luput dari kisah masa lalu Rusdi di kampung halamannya, Sumani. Beda dengan masa kecil dan masa sekolah anak zaman sekarang.

Anak zaman milennial atau disebut juga zamannow lebih disibukkan oleh perangkat gadget pembelian orangtua mereka. Mau belajar pegang android. Mau tidur buka aplikasi media sosial. Mereka kadang-kadang digelari sebagai generasi menunduk. Menunduk ke arah gadget meskipun itu saat berbicara dengan orangtua sendiri.

Rusdi menghela nafas. Hembusan angin danau Singkarak makin terasa sejuk. Rusdi memperlambat laju kendaraannya. Meminggirkan kendaraannya dan berhenti.

Salmina yang dari tadi juga diam di boncengan belakang jadi heran. Ada apa gerangan suaminya menghentikan motornya? (Bersambung…)


0 Response to "Perjalanan Panjang ( Bagian Keempat )"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel