Iuran Uang Minyak

Seperti biasa, Dusun Rimbo Panjang memang selalu sepi kalau sudah masuk waktu Magrib.  Selain karena belum disentuh penerangan listrik, anak-anak di dusun ini pergi mengaji ke surau. Tidak akan ditemui anak-anak di perempatan atau pertigaan jalan. Juga di warung-waung di seluruh dusun Rimbo Panjang. Di warung-warung yang diterangi oleh lampu stromking akan terlihat tanpa pengunjung.

iuran,uang minyak,mengaji,surau
Ilustrasi belajar mengaji (net/suaralira.com)

Lain halnya di sebuah surau yang berada di tengah-tengah dusun Rimbo Panjang. Suasana jadi riuh oleh suara puluhan anak-anak yang sedang berlatih mengaji. Sesekali terdengar suara Angku Mudo, sebutan untuk guru mengaji di surau. 

Suara Angku Mudo Syair terdengar sekali-sekali ketika ada murid ngaji yang minta bantuan diajarkan membaca bagian tertentu dalam al Qur’an .

Sebelum mengaji secara bergiliran, anak-anak surau memang latihan sendiri maupun bersama untuk membaca Al Qur’an.

Lampu stromking menyala memerah menerangi seisi ruangan surau. Tiba-tiba lampu stromking satu-satunya itu menyala redup. Terdengar suara anak-anak mulai menghilang. Angku Mudo Syair dengan segera menurunkan lampu gantung itu dan memompa tabung minyak.

Lampu stromking menyala terang kembali. Seiring dengan itu, kembali terdengar riuh suara anak-anak mengaji, melanjutkan latihan membaca al Qur'an.

Dalam surau, anak-anak ngaji duduk berkelompok dengan tertib. Kalau ada yang bergelut, tidak belajar membaca al-Qur’an, niscaya akan mendapat ‘oleh-oleh’ pukulan rotan dari Angku Mudo.

Pukulan atau cambukan rotan sudah tidak asing lagi di surau Dusun Rimbo Panjang. Toh, orangtua telah menyerahkan anaknya mengaji ke surau dan siap menerima hukuman pukul atau cambuk dengan rotan jika melanggar aturan dalam mengaji.

Anak-anak mengaji duduk menurut tingkatan kemampuan mengajinya. Ada kelompok mengaji al Qur’an pemula dan tingkatan mahir. Kedua kelompok ini masing-masing duduk melingkar.

Selain kelompok mengajai al Qur’an, ada pula kelompok mengaji papan tulis. Kelompok ini duduk berbanjar, menghadap papan tulis. Mereka terdiri dari kelompok kaji Alif, mengeja huruf hijaiyah yang ditulis di papan tulis.

Ada pula tingkatan kedua, mengaji ayat pendek dan tingkatan ketiga mengaji ayat panjang yang juga dituliskan di papan tulis.

Tiba-tiba suasana dalam surau jadi hening mana kala terdengar bunyi pukulan rotan pada lantai surau dari Angku Mudo. Pukulan rotan pada lantai ini menjadi pertanda bagi murid surau untuk diam dan tak ada lagi yang berbicara.

“Besok sudah hari Sabtu. Apa yang harus kalian bawa?” tanya Angku Mudo di tengah keheningan suara.

“Uang minyak, Ngku Mudo…!” jawab murid-murid mengaji serempak.

“Bagus…” sahut Angku Mudo seraya manggut-manggut.

“Ayah saya katanya belum punya uang, Ngku Mudo..” tukas seorang murid ngaji al-Qur’an tingkat mahir.

Semua mata tertuju pada anak yang bertanya. Sementara itu Angku Mudo Syair terdiam. Ia tahu kalau murid itu sudah mulai mahir membaca al Qur’an. 

“Kalau begitu, dengan apa kita beli minyak lampu stromking untuk menerangi kita mengaji?” tanya Angku Mudo kemudian.

“Iya, angku Mudo, saya paham. Nanti saya usahakan agar ayah menyiapkan uang minyak besok, ngku Mudo,” tutur anak itu lagi.

Iuran mengaji di surau disebut sebagai uang minyak. Murid yang mengaji di surau wajib membayar iuran uang minyak setiap minggu, tepatnya setiap hari sabtu. Dan guru ngaji  pun, memang menggunakan uang itu untuk membeli minyak tanah sebagai bahan bakar lampu penerangan stromking.

Selebihnya iuran uang minyak digunakan Angku Mudo untuk keperluannya dan disebut sebagai beli sabun Angku Mudo.

0 Response to "Iuran Uang Minyak"

Posting Komentar