Reuni Masa Lalu

“Khatib...khatib uni...khatib uda...!” Teriakan knek bis kota memanggil penumpang menyela bunyi bising keramaian dan kesibukan pagi di jalan Profesor Hamka. Teriakan khas kondektur bis kota berarti bis kota menuju Pasar Raya Padang akan melewati Jalan Khatib Sulaiman

cerpen,reuni,mantan pacar
Ilustrasi Reuni masa lalu (pexels.com)

Seorang lelaki muda berkostum putih dan hijau, menjinjing tas tipis ala map itu melintas menyeberang jalan di sela keramaian lalu lintas pagi di Air Tawar Kota Padang. Kemudian naik menyelinap di antara penupang yang berdiri di pintu bagian belakang bis kota berwarna kuning.

Jangankan di dalam, pintu bis kota saja sudah banyak yang berdiri. Apalagi dalam bis kota. Maisal Putra, lelaki muda itu berdiri berdesakan sambil berpegangan pada talang besi panjang di sisi atas bis kota.

Maisal Putra berdiri dekat dua anak sekolahan. Terbukti mereka menggunakan seragam putih abu-abu. Ketika Maisal putra melirik kedua anak sekolahan itu, salah seorang anak sekolahan berbisik pada temannya. Namun Maisal Putra tidak mendengar apa yang dibisikan mereka.

“Ntar ada orang kehilangan kerbau dek..., jangan bisik-bisik begitu,” celoteh Maisal Putra merasa agak tersinggung.

“Kami ndak pemaling kerbau, mas...” sahut salah seorang di antaranya.

Karena berdiri dalam posisi menyamping, Maisal Putra dapat melihat lokasi sekolah kedua anak sekolahan.

“Kelas berapa di SMEA, dek?” tanya Maisal Putra iseng.

“Baru kelas I, mas...” sahut siswa yang bertubuh agak gempal. “Mas, ngajar dimana?”

“Tamsis...Mas hanya sedang Praktik lapangan di SMA itu,” jawab Maisal Putra.

“Tinggalnya dimana, mas?” tanya siswa yang seorang lagi, bertubuh agak langsing.

“Jalan Cendrawasih, Gang Todak Asrama Tanpa Nama,” jelas Maisal Putra.

“Kami berdua di Patenggangan, mas...”

“Berarti kita dari arah yang sama. Naik bis kota ini di tempat yang sama, ya?” pintas Maisal Putra .

“Iya, betul mas. Kami berdua tadi kebetulan melihat mas naik ke bis kota ini,”

“Oh,”

“Tamsis kiri...!” Tiba-tiba Maisal berteriak dan turun di depan gerbang sekolah tempat ia mengajar praktek.

“Sampai jumpa, dek..”

“Iya, mas. Sampai jumpa.”

Maisal putra melangkah menuju areal sekolah dengan agak santai meskipun ia hampir terlambat. Ia jadi penasaran, lupa untuk berkenalan sehingga tidak mengetahui nama kedua siswa yang  baru dikenalnya di atas bis kota.

Rasa penasaran Maisal terbawa sampai ke tempat kostnya. Usai shalat Magrib, Maisal  Putra menjadi malas ke luar kamar.

“Mas, ada yang cari..” seorang teman kost masuk memberi tahu.

“Siapa?”

“Nggak tau, cewek dua orang,”

“Oh ya, terima kasih.” Maisal Putra bangkit dan melangkah ke ruang depan asrama. Alangkah terkejutnya Maisal Putra melihat dua perempuan itu.

“Lho? Ini adek-adek yang bertemu dengan mas di bis kota tadi, bukan?” seru Maisal Putra tak percaya.

“Hm, kita belum sempat berkenalan. Saya Maisal...” Maisal Putra menyodorkan tangan.

“Irma..” sahut Irma menyambut sodoran tangan Maisal Putra.

“Rini...” balas seorang lagi. Namun Rini sengaja menghindar dan duduk di bangku yang tak jauh dari Maisal Putra dan Irma.

Itulah pertemuan kedua Maisal Putra yang menjadi awal pertemuan berikutnya dalam situasi dan nuansa lebih dekat. Hari demi hari berlalu tanpa terasa bagi Maisal Putra dan Irma.

Namun kedekatan yang terjalin setelah beberapa bulan berubah menjadi ketidakpastian. Irma menghilang entah kemana. Rini memberi tahu kalau hubungan Maisal Putra dan Irma sudah berakhir.....

Maisal Putra menghela nafas. Setelah terdiam beberapa menit  mengenang masa lalu. Bahkan hiruk pikuk bunyi musik dari organ tunggal di pesta itu tak menghalangi Maisal  Putra untuk mengenang masa lalu bersama wanita, yang kini berada di hadapannya.

“Kok diam saja dari tadi, mas? Ingat masa lalu, ya?” tegur Irma. Perempuan yang telah mengundangnya hadir di pesta pernikahan anggota keluarganya itu.

“Ya, begitulah...” sahut Maisal Putra jujur.

“Nggak usah dikenang lagi. Itu semua sudah berlalu dan kenyataannya kita sekarang sudah mulai tua. Betul ‘kan, mas?”

“Ya, kamu benar, Irma. Tapi bagi mas, masa lalu itu adalah awalnya masa sekarang ini. Jadi wajar toh kalau mas hanya sekadar mengingat?”

“Ya, ya....Oh ya, terima kasih sudah memenuhi undangan saya pada pesta pernikahan anggota keluarga saya ini,” ujar Irma.

Maisal Putra mengagguk seraya melempar senyum, memperhatikan raut wajah Irma yang memang sudah jauh berubah.

0 Response to "Reuni Masa Lalu"

Posting Komentar