Cerpen : Roda Kehidupan

Roda depan sebuah sepeda nampak berputar pelan. Menyusuri pinggiran sebelah kiri jalan raya yang datar dan beraspal cukup bagus. Jari-jari ban sepeda masih terlihat satu per satu. Pertanda putaran roda cukup lambat. Bahkan ban sepeda yang sudah mulai botak masih jelas terlihat meskipun sedang berputar.

cerber,cerbung,roda kehidupan

Ilustrasi roda kehidupan (pixabay.com)

Sesekali terlihat putaran roda sepeda seolah-olah tersendat-sendat dan terhuyung menyisiri pinggiran jalan beraspal. Padahal ban sepeda tidak kempes, tidak juga mengalami kebocoran.

Pantas saja. Ternyata sepeda jenis ontel itu dikendarai oleh seorang lelaki tua. Nafasnya turun naik, pertanda sedang ngos-ngosan akibat menggenjot pedal sepeda.

Ia mengenakan topi kain lebar. Lengkap dengan seragam ‘dinas harian’ petani. Sementara di boncengan belakang terlihat tas nasi terikat erat. Tentu saja tas nasi lengkap dengan air, bekal yang telah dipersiapkan istrinya untuk bekerja seharian di sawah.

Pak tua itu tidak terlalu ambil pusing dengan keramaian lalu lintas pagi. Orang pergi berdinas, ia pun pergi berdinas. Bedanya, ia berdinas di sawah. Sementara para pengguna jalan raya lainnya berdinas di sekolah atau di kantor.

Kendaraan yang hilir mudik dengan suara bising sudah menjadi konsumsi pemandangan lelaki tua itu setiap berangkat tugas di pagi hari. Namun lelaki tua itu sedikit heran dengan pengguna jalan raya saat ini. Seakan mereka tidak tahu lagi aturan dan tata tertib berlalu lintas di jalan raya.

Memang, dulu pengguna jalan raya tidak seramai ini. Masih banyak pengguna jalan raya yang berjalan kaki dan mengendarai sepeda. Pengguna sepeda motor boleh dihitung dengan jari. Orang lebih banyak menggunakan jasa mobil penumpang umum untuk bepergian.

Pak tua itu dapat memaklumi kenapa pengguna jalan raya semakin ramai. Maklum, ilmu pengetahuan dan teknologi transportasi darat sudah berkembang dengan pesat. Mobil penumpang umum pun semakin jarang digunakan. Orang lebih cenderung menggunakan sepeda motor. Apalagi produksi sepeda motor semakin melimpah ruah.

Di sisi lain masyarakat pun semakin mudah untuk memiliki sepeda motor meskipun punya uang terbatas. Cukup berbekal KTP dan kartu keluarga. Orang sudah dapat memiliki sepeda motor baru. Akibatnya tidak ada satu keluarga pun yang tidak memiliki sepeda motor. Bahkan satu keluarga bisa memiliki lebih dari satu kendaraan roda dua ini.

Anak-anak sekolah pada umumnya menggunakan sepeda motor meskipun belum memiliki izin untuk mengendara. Maka wajar pengguna jalan raya di pagi hari umumnya didominasi oleh anak sekolah.

Pak tua yang masih menggenjot pedal sepedanya di pinggir jalan raya itu merasa sedikit aneh saja. Anak sekolah sekarang mengendarai sepeda motor, seakan tidak tahu aturan berlalu lintas di jalan raya. Menggeber-geber gas sesuka hati, kebut-kebutan di jalan raya.

Suatu ketika pak tua itu sempat diserempet anak sekolah. Untung pak tua tidak terjatuh dan masih dapat mengendalikan setang sepeda ontelnya. Pak tua itu hanya geleng kepala, tak dapat berbuat apa.

“Ampun deh anak sekolah sekarang. Sudah jelas nyerempet orang namun tak peduli dan merasa tak bersalah. Makin diajar makin kurang ajar, tak tahu aturan berlalu litas,” pak tua itu hanya ngomel dalam hati.

Namun lelaki yang sering disapa pak Wahyu itu tidak menyapu rata semua anak sekolah demikian. Masih banyak anak sekolah yang peduli dengan aturan berlalu lintas.

Tiba-tiba pak Wahyu meminggirkan sepeda ontelnya. Ia hendak menyeberang jalan karena sudah sampai di mulut gang kecil menuju sawahnya. Tapi ia itu nampak seperti kebingungan. Kendaraan semakin ramai sehingga sulit rasanya untuk menyeberangi jalan.

Tanpa disadari pak Wahyu, beberapa orang anak sekolah berhenti dan dengan isyarat tangan menyetop semua kendaraan. Anak sekolah melihat ada seorang pak tua dengan sepeda ontelnya kebingungan hendak menyeberang jalan.

“Pak, silahkan bapak menyeberang!” teriak salah seorang anak sekolah ketika semua kendaraan telah berhenti. Memberi waktu untuk pada pak tua itu untuk menyeberang jalan.

Pak Wahyu terpana. Namun ia\ merasa lega dan segera menyeberangi jalan. Sesampainya di seberang jalan, ia tersadar. Ternyata ia telah ditolong oleh segerombolan anak berseragam sekolah.

Pak Wahyu menoleh ke belakang. Ingin melihat dan mengetahui siapa anak-anak sekolah yang dengan santun telah menolongnya untuk menyeberang jalan di tengah keramaian lalu lintas.

Anak-anak sekolah pengendara sepeda motor yang santun itu telah berlalu. Yang dilihatnya hanyalah lalu lalang kendaraan sepeda motor.

“Terima kasih anak muda. Kalian sungguh terpuji dalam berlalu lintas. Semoga kalian menjadi orang yang sukses. Kalau kalian kelak menjadi Polantas, jadilah Polantas yang baik dan mengayomi pengguna lalu lintas...” kata pak Wahyu membatin berdoa.

Kemudian pak Wahyu menaiki pedal sepeda ontelnya. Meneruskan perjalanannya menuju tempat dinasnya di sawah, melewati jalan bercadas dan berbatu. 

0 Response to "Cerpen : Roda Kehidupan"

Posting Komentar