Balada Sang Operator Sekolah

Ketika ada orang yang bertanya kepada saya tentang apa saja kerja operator maka saya tidak begitu banyak menanggapi pertanyaan itu. Paling-paling saya jawab hanya begini, “Ya,.., kerjanya tentang data, dan itu biasanya di depan laptop atau komputer,”

cerpen balada,operator sekolah,tugas fungsi
Ilustrasi operator (pixabay.com)

Di suatu ketika, saya iseng bertanya  kepada salah seorang operator sekolah. “Kerjanya operator itu gimana, ya?” 

Pertanyaan saya cukup pendek. Saya kira jawabannya juga singkat.. Namun ternyata jawabannya panjang sekali. Apa dia sekalian curhat, ya? Begitu pikiran saya ketika itu....

“Pada dasarnya, kami bekerja seperti akar yang bekerja dalam sunyi dan diam tanpa suara, tidak banyak mengeluh dalam melaksankan kewajiban, menjadi penyuplai utama dalam kehidupan baru sebuah pohon..,” jawab sang operator berfilosofi memulai curhatannya.

Namun saya melihat ada rona keraguan diwajahnya untuk melanjutkan cerita panjangnya.

“Ya, karena ditanya, saya coba menjawab…., aduh saya juga bingung,pak, mau saya jawab mulai darimana ya?” ujarnya kemudian seperti bebrasa-basi.

Saya hanya diam, tidak menyela ucapannya, apalagi langsung berkomentar agar operator sekolah itu mau dan leluasa dalam menguraikan curhatannya kepada saya.

“Begini pak, kami bekerja tidak kasat mata dan kadang-kadang tidak terdeteksi. Dimanapun dan kapanpun… harus bisa. 

Jadwal kami tidak jelas karena kami bukan guru mata pelajaran atau guru kelas. Kerja, wajib sesuai aturan yang berlaku, kerja sunnah  sesuai SMS/WA yang kami terima, baik lewat WA grup atau pun pribadi, tapi kami banyak kerja sunnahnya daripada wajibnya.

Wajib bagi kami punya laptop (meskipun punya kantor), punya HP android. Kenapa? Ini suatu kewajiban karena kita butuh akses informasi yang cepat dan akurat (kalau HP pasti beli sendiri karena tidak mungkin dibelikan kantor), punya paketan data, punya kemampuan manajemen waktu yang baik, terutama mengatur waktu untuk kerja dan keluarga.

Nah, ini yang sulit untuk disikapi. Coba bayangkan, kami bekerja bukan hanya pada waktu jam dinas tapi waktu di rumah pun, kami banyak menghabiskan waktu dengan laptop dan HP. Banyak kegiatan yang harus disesuaikan atau bahkan ditinggalkan untuk menyelesaikan data yang belum selesai.

Hm, kami seakan 'dicetak' menjadi orang ‘rumahan’ karena kerja kami duduk di depan laptop, (tidak mungkin keluar rumah).

Ada anjuran yang sudah merupakan kewajiban bagi kami, Bangunlah kamu sepertiga malam terakhir, kira-kira jam 12 sampai subuh. Itu sarapan bagi kami.

Biasanya kami jarang dikenal oleh teman-teman di lingkungan kerja kami (lingkup kecamatan) karena jarang bersosialisasi. Kami sering duduk di kantor bertemankan laptop dan kertas. 

Bekerja tidak banyak mengeluarkan keringat (duduk, berdiri, minum, ngemil, bicara, tertawa, menulis, mengetik).  Tapi di balik itu semua, pikiran kami terkuras.

Kami agak alergi dengan kata dan kalimat seperti ini; perbaikan, kesalahan data, tidak valid, tidak sinkron, rapat mendadak, perubahan data, data terbaru, segera dikumpulkan, terakhir hari ini, ditunggu jam ini, dan…ditunggu di dinas hari ini terakhir.

Beberapa pertanyaan yang tidak asing lagi bagi kami adalah, Bagaimana dek valid? Sudah selesai dek? Sudah sampai dimana pekerjaanya?...

Namun jarang sekali yang bertanya begini, Gimana dek sehat? Ada yang bisa dibantu dek? Ada kendala apa dek, koq belum selesai?

Berkacamata, 80%. Kami berkacamata ini karena frekuensi aktivitas melihat laptop/komputer sangat tinggi. Kaca mata itu, kata guru fisika, untuk mencegah radiasi oleh layar komputer pada mata. Nah, yang belum berkacamata berarti masih menunggu daftar antrian.

Terdakwa...! Kami jarang dijadikan saksi atau informan. Apabila ada kesalahan data, data tidak valid, atau sk dirjen tidak keluar..! Dipastikan, kami jadi terdakwa/tersangka tanpa lewat pengadilan.

Kunker...! Kunjungan Kerja. Bukan hanya anggota dewan yang sering melakukan kunker. Kami juga sering kunker, koq. Banyak tempat-tempat favorit yang sering kami datangi, seperti; kantor UPTD, Kantor dinas, Inspektorat, Bappeda, dan juga sering berkomunikasi dengan orang-orang penting, sekelas kabag, kasi dan manager BOS..

Sehat…! Kami harus pandai-pandai menjaa kesehatan karena kami dicetak tidak boleh sakit. Jika sekolah mengirim guru untuk ikut bimtek/workshop/sakit/ijin, tugasnya pasti bisa diiisi atau digantikan oleh guru honor atau guru pns yang lain.

Tapi jika operator yang sakit, siapa yang akan menggantikan, tugas kami? Itu sebab nya kami harus pandai menjaga kesehatan…..”

Sang operator segera menghentikan ceritanya. Lalu melirik jam tangan di pergelangan tangannya.

“Pak, mohon maaf, saya tidak bisa menjawab secara lengkap pertanyaan bapak tadi.  Itu hanya sebagian kecil saja, masih banyak tugas operator yang tidak bisa saya sebutkan, karena saya ada panggilan rapat operator di dinas sekarang juga.” ujar operator sekolah itu.

Saya hanya tercenung. Menurut saya, curhatannya sudah cukup panjang dan lengkap, namun pengakuannya sebagian kecil saja, masih banyak kerja dan tugas operator sekolah yang belum disebutkannya.

Hm, seandanya saya seorang penulis mungkin kisah kami operator ini bisa dijadikan sebuah cerpen. Sekian. Salam satu data!

Catatan: Cerpen ini diolah berdasarkan catatan yang dishare oleh seorang operator sekolah di media Whatshapp (OPSI/Operator Seluruh Indonesia).

0 Response to "Balada Sang Operator Sekolah"

Posting Komentar