Cerpen - Pertanggungjawaban Hati

Laki-laki paruh baya bertopi hitam dan mengenakan kaos orange dengan stelan jeans biru usang itu memandang lurus ke depan.  Jauh ke Kampung Hulu di seberang sungai Musi. Kedua tangannya bertumpu pada besi pagar pembatas dermaga pelabuhan wisata untuk menahan kecondongan tubuhnya.


ilustrasi gambar,jembatan ampera,pertanggungjawaban hati
Ilustrasi pertanggungjawaban hati (foto: matrapendidikan.com)

Boat wisata berlalu lalang hilir mudik dan tongkang pembawa batu bara yang melintas di tengah sungai tidak lagi menjadi perhatiannya.
Hati Suryadi, lelaki paruh baya itu mendadak galau manakala teringat kembali ucapan Marisa ketika tadi ia berjumpa di depan pintu masuk dermaga pelabuhan wisata Sungai Musi.
“Mas, sekali lagi saya katakan, mas sudah mengetahui kalau saya sudah punya suami dan anak. Sama dengan mas, juga sudah punya istri dan anak.” ujar Marisa serius dan dingin.
“Iya, saya tahu, Marisa….”
“Sudahlah mas, cerita ini tidak usah dilanjutkan lagi” potong Marisa seraya berlalu dan meninggalkan Suryadi.
Suryadi melongo menatap punggung Marisa berlalu di tengah keramaian. Ia tidak menyangka Marisa akan marah dan berbicara tegas dan sedingin itu. Selama berteman dan bertugas dengan Marisa, tak pernah Suryadi mendengar Marisa setegas itu.
Di matanya, Marisa adalah seorang perempuan sekaligus ibu yang lembut, bertingkah laku maupun bertutur kata. Itu pulalah yang membuat Suryadi diam-diam suka dan jatuh hati kepada perempuan yang juga sudah bersuami dan punya anak itu.
Suryadi menghela nafas.
Tarikan nafasnya terasa berat, seakan dadanya dihimpit oleh sekian kiloan benda berat. Tiba-tiba ia membalikkan tubuh, membelakangi sungai Musi. Kini ia bersandar di pagar pembatas dermaga pelabuhan wisata sungai Musi.
Hatinya mendadak pilu. Ia merasa selama ini sudah tertipu oleh hati dan angannya sendiri.
Pantassss…!
Tiba-tiba bibir Suryadi mendesis. 
Ia kini menyadari kalau Marisa tidak menyukainya sedikitpun. Akhir-akhir ini memang Marisa terasa menghindari dirinya. Kalau pun sempat bertemu atau berpapasan, Marisa selalu cuek. Bahkan berusaha untuk membuang muka dan berusaha untuk menghindari pertemuan.
Suryadi geleng-geleng kepala sendiri sambil tersenyum sendiri. Seakan menertawakan kebodohannya dirinya yang tidak tanggap keadaan dan sikap Marisa akhir-akhir ini terhadap dirinya..
Suryadi menyadari dan maklum dengan dirinya sendiri kalau ia diam-diam suka dan jatuh hati kepada Marisa. Ia menyukai Marisa sudah lama dan rasa suka itu datangnya tiba-tiba. Siapakah orangnya yang mampu menepis datangnya rasa suka pada seseorang?
Suryadi pun tidak akan menghianati hati dan perasaannya sendiri. Ia memang suka dan jatuh hati pada Marisa. Apapun yang terjadi ia telah siap mempertanggungjawabkan hati dan perasaannya itu dengan berterus terang kepada Marisa.
Dulu, ketika menyadari ia diam-diam telah jatuh hati pada Marisa. Suryadi berjanji akan mengatakannya pada Marisa. Ia pun berjanji pada dirinya untuk tidak merusak Marisa dan keluarganya.
Kalau tadi Suryadi telah berterus terang tentang perasaannya kepada Marisa. Itu bukan untuk mengajak Marisa berselingkuh. Tidak. Suryadi hanya butuh sedikit perhatian dari Marisa.
Suryadi hanya berharap agar Marisa sudi menyediakan sesudut kecil hati untuk  dirinya. Itu saja! Tidak lebih.
Tapi semua angannya itu salah. Jangankan untuk menyediakan sedikit lorong hati buat Suryadi, justru Marisa tidak menyukai dirinya..
Kini Suryadi sudah merasa plong di hati dan perasaannya. Ia telah berhasil mempertanggungjawabkan perasaan hatinya meskipun Marisa akan membenci dirinya untuk selama-selamanya.
Biarlah Marisa menganggap dirinya tidak tahu diri karena Suryadi hanya mepertanggungjawabkan hati dan perasaannya yang konyol. Telah terlanjur jatuh hati kepada Marisa selama ini.
Laki-laki itu memang harus berani menghadapi dan menerima resiko apapun akibat hati dan perasaannya yang terlanjur konyol, menyukai orang lain yang tak menyukai dirinya.
Lihat juga : Cerpen Ketika Rindu Tak Selalu Menyiksa
Sementara itu mentari telah berada beberapa jengkal di atas garis tiang jembatan Ampera pertanda malam akan tiba ketika Suryadi melangkah meninggalkan Dermaga Pelabuhan Wisata Sungai Musi.***

0 Response to "Cerpen - Pertanggungjawaban Hati"

Posting Komentar