Karena Hujan di Bulan Desember

“Numpang berhenti dan berteduh ya, buk?” Seorang pemotor minta izin setelah memakirkan motornya di samping sebuah warung kecil di piggir jalan raya. Ia tak mungkin meneruskan perjalanan karena hujan turun terlalu deras. Lagi pula ia tidak mengenakan baju hujan kecuali jaket karet berwarna hitam.


minum kopi,di warung,musim hujan
Ilustrasi kopi di musim hujan (pexels.com)

“Oh, ya, silahkan, Pak,“ sahut sang penjaga warung menoleh sekilas dan meneruskan pekerjaanya menyusun kue untuk ditaruh di meja warung.  
Lelaki setengah baya, pemotor yang menumpang berteduh membuka helm pelindung dan jaketnya. Menaruhnya di ujung bangku tempat duduk warung.
Pemotor, Umaedy tercenung sejenak tatkala sudah duduk di bangku panjang warung. Sepertinya ia sendiri pengunjung warung jelang tengah hari itu.
“Masih sepi ya, buk?” ujar Umaedy
“Ya, begitulah, pak. Maklum dari pagi tadi hujan masih turun dan belum ada tanda akan berhenti,” sahut perempuan berusia tigapuluhan tahun itu seraya menyusun kue yang bakal dipajang di meja warung.
Diam-diam Umaedy memperhatikan perempaun muda dari arah samping. Tidak terlalu cantik tetapi terpancar aura menarik dan menwan. Kulitnya tidak terlalu putih. Hidungnya mancung. Bekas jerawat kecil di pipinya tidak merusak aura menarik perempaun penjaga warung itu.
 “Sedia kopi, buk?” tanya Umaedy kemudian.
“Ada, pak…”
“Saya butuh kopi, setengah gelas saja cukup, buk”
“Tunggu sebentar, ya pak?” Suara itu terdengar lembut dan manja.
Umaedy mengangguk ramah.
 “Ini, kopinya…,” Penjaga warung itu menaruh kopi di atas meja di hadapan Umaedy.
“Hujan melulu akhir-akhir ini ya, pak?” ujar perempuan itu seraya melirik Umaedy yang tengah menyedu kopi panas.
“Benar, buk. Mungkin karena saat ini bulan Desember. Kata orang pintar, bulan Desember banyak curah hujannya. Bulan penghujan,” balas Umaedy.
Perempuan itu, Winda, kembali menilik laki-laki tamu warungnya dengan penasaran. Perasaannya orang ini, mirip seperti laki-laki yang dilihatnya di internet saat googling.
“Perasaan saya, kita berteman di facebook ya, buk?”cetus Umaedy seraya menyeruput kopi yang dihidangkan perempuan penjaga warung.
Winda, wanita penjaga warung itu tersentak kaget. Ia tak menyangka apa yang sedang dipikirkannya sama dengan yang sedang dipikirkan tamu warungnya.
“Perasaan saya juga begitu dari tadi, pak.” Sahut Winda.
Umaedy menyeruput kopi yang dihidangkan penjaga warung. Luar biasa, enak dan wanginya. Buatan penjaga warung ini sesuai selera Umaedy.
“Hm…Hampir tiap minggu bapak lewat disini.” cetus Winda kemudian.
“Iya, benar. Saya mengantar perbekalan anak di Batusangkar,”
“Anaknya bapak sekolah disana ya?” balas Umaedy.
“Oh, begitu…”
“Kalau boleh tahu, anak-anaknya ibuk pada kemana?” Tanya Umaedy.
“Pergi sekolah, pak. Masih kecil-kecil, keduanya masih SD,”.
“Bapaknya anak-anak, kemana, buk?”
“Enggak tahu, pak…”
“Lho?”
“Sudah pisah, pak…”
“Oh…Saya minta maaf, telah lancang mengungkit pribadi ibuk,” ujar Umaedy merasa bersalah telah menanyakan suami penjaga warung itu.
 “Ah, tidak juga pak. Bagi saya itu sudah biasa, pak.”
“Syukurlah kalau begitu,”
Umaedy kembali menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. Namun aroma dan sensasinya masih terasa oleh Umaedy.
Sementara di luar, hujan sudah mulai teduh.. Kopi di gelas sudah tandas. Umaedy ingin meneruskan perjalanan.
“Berapa kopinya, buk?” tanya Umaedy kemudian seraya merongoh dompet di kantong belakang celananya.
“Kali ini boleh gratis, sekalian promosi, pak..?” sahut penjaga warung membuat Umaedy tercegang.
“Banar, buk?”
Perempuan itu mengangguk.
“Oh, terima kasih banyak, buk. Saya jadi ingat, orang jualan online di internet yang pakai promosi, hehe..”
“Saya juga jualan online kok, pak…”ujar Winda.
“Wah, ibuk ini luar biasa,” puji Umaedy.
“Tidak juga, pak….”
“Kalau begitu saya pamit, buk..” ujar Umaedy bangkit.
“Iya, silahkan, pak. Lain waktu mampir lagi disini ya, pak?”
Umaedy telah berlalu dari warung kecil di pinggir jalan. Sementara Winda mengemasi gelas minuman tamu warungnya.
Lihat juga : Cerpen Ketika Rindu Tak Selalu Menyiksa
Winda tersenyum sendiri ternyata pak Umaedy itu orangnya lucu dan asyik kalau berbicara. Bergegas Winda meraih Androidnya dan membuka akun facebooknya. Mencari teman facebook yang bernama Umaedy.
Winda tersenyum sendiri.

0 Response to "Karena Hujan di Bulan Desember"

Posting Komentar