Tak Sebebas Burung Tekukur

Seekor burung tekukur hinggap di pohon kelapa di belakang sebuah rumah yang sepi ditinggal penghuninya. Bertengger di salah satu pelepah pohon kelapa. Kemudian memiringkan kepala mengamati suasana di pekarangan rumah yang sudah ditumbuhi rumput dan semak rendah.

burung tekukur,burung balam,cerpen,halaman
Ilustrasi burung tekukur (pixabay.com)

Beberapa saat kemudian, seperti biasanya burung yang disebut burung balam di Minangkabau itu turun dan hinggap di tengah halaman rumah yang tak berpenghuni itu. Kemudian berjalan santai di tanah berumput hijau untuk mencari makanan.

Suasana di halaman rumah itu memang sepi. Burung jenis tekukur itu merasa leluasa mencari makan di atas rerumputan halaman rumah. Bebas dari gangguan manusia.

Namun tanpa disadari hewan aves itu. Sebuah kamera hp android telah merekam gerak-geriknya dari balik jendela kaca rumah tetangga yang tak berpenghuni itu.

Dengan zoom sekian kali, gerak gerik burung tekukur yang sedang mencari makanan di halaman itu terlihat jelas.

Nadim, pemilik ponsel android itu, menghentikan proses perekaman burung balam di halaman rumah tetangganya. Sejenak ia memperhatikan kembali hasil rekamannya dengan durasi sekian menit.

Nadiem duduk di tepi kasur tempat tidur di kamarnya.

Tiba-tiba ia jadi galau. Entah kenapa hatinya merasa iri dengan kebebasan seekor burung tekukur yang sedang mencari makanan di halaman rumah tetangganya.

Hidupnya bersama anggota keluarganya  tidak seberuntung burung di halaman rumah itu. 'Dikekang' sejak beberapa hari yang lalu sehubungan dengan penyebaran Coronavirus Desease (Covid-19) yang semakin mengkhawatirkan.

“Terbang bebas, hinggap dan mencari makanan kemana mereka suka. Tidak seperti yang dialami diri dan keluarganya. Berdiam diri dalam rumah, bekerja dari rumah (Work From Home),” Nadiem membatin.

“Lho? Abang lagi kenapa, koq bermenung?”

Maria, istri Nadiem bertanya heran dan menghampirinya.

“Mama lihat tuh di halaman. Ada burung tekukur sedang mencari makanan dengan bebasnya,” sahut Nadiem tanpa mengalihkan pandangannya. Pura-pura memperhatikan burung yang sedang mencari makanan di halaman rumah tetangganya. Menyembunyikan kegalauan hati di hadapan istrinya.

Setelah mengikuti arah perhatian suaminya, Maria memang melihat seekor burung tekukur sedang berjalan di halaman rumah tetangganya itu.

“Mereka masih bebas berkeliaran tanpa takut virus Corona ya, pa? Tidak seperti kita yang harus berdiam diri dan bekerja dari rumah,” komentar Maria.

“Iya, ma. Kita memang harus ikut instruksi pemerintah demi upaya memutus mata rantai penyebaran  Covid-19,” balas Nadiem.

“Tapi Mama enggak habis pikir, bagaimana dengan orang yang mata pencaharian mereka di luar rumah, seperti pedagang, ojek online dan lainnya. Kalau mereka disuruh di rumah, mereka mau makan apa?,” ujar Maria kemudian.

Nadiem tersentak. Pernyataan kritis sang istrinya barusan membuat Nadiem harus mengalihkan pandangan dan menoleh pada istrinya.

“Iya, Ma. Dan itu sangat dilematis.” Kata Nadiem serius menanggapi istrinya.

Maria mengangguk kecil.

“Mungkin betul apa yang dikatakan Rini, anak kita tempo hari kepada papa.”

“Apa itu, Pa?”

“Untuk menyikapi dilema ini, orang-orang yang kebetulan diberi kelebihan riski atau mendapatkan pangkat dan jabatan, tidak haya bicara pencegahan penyebaran Covid-19.

Justru lebih penting lagi adalah memikirkan dampak kebijakan Work From Home terutama orang-orang yang kurang mampu. Kalau perlu mereka turun tangan secara materi kepada tetagga-tetangga sekitarnya. Katakanlah itu orang kaya atau berkecukupan, beramal sedekah buat tetangga di sekitarnya.”

 “Mama juga setuju, Pa.” sahut Maria kemudian. “Masalahnya,orang yang dikira berkecukupan atau kaya justru kadang-kadang tak kalah sengitnya mengeluh kekurangan. Sebab kebutuhan dan pengeluaran mereka juga sangat banyak.”  

“Betul juga pendapat Mama. Tapi bagi mereka yang mengaku dan merasa beriman kepada Allah.., insyaallah, tidak akan merasa seperti yang mama katakan tadi,.”

Nadiem kembali melongok ke luar jendela. Seekor burung nuri di halaman tadi tidak dilihatnya lagi.

“Lho? Kemana burung nuri tadi?”

“Mungkin nuri itu mendengar suara percakapan kita sehingga mereka kabur, Pa.” sahut isri Nadiem santai.

Nadiem tersenyum kecil. Memandangi istrinya yang cerdas dan tak kalah pintar ngomong dengan dirinya.***

0 Response to "Tak Sebebas Burung Tekukur"

Posting Komentar