Anak 'Kanduang' dan Anak 'Nan Dikanduang' dalam Pergaulan Sosial Masyarakat Minangkabau

Anak 'kanduang' dan anak 'nan dikanduang' dalam pergaulan sosial masyarakat minangkabau - Minangkabau sejak dulu dikenal sebagai salah satu etnis yang memiliki tradisi merantau. Meninggalkan kampung halaman kemudian tinggal di suatu wilayah rantau.

merantau,anak kandung,kekerabatan,
Ilustrasi merantau (pixabay.com)

Ada yang merantau jauh, seperti ke luar dari wilayah Sumatera Barat. Misalnya, ke pulau Jawa atau provinsi lain di pulau Sumatera.

Namun ada pula yang merantau dekat. Merantau dekat biasanya masih di wilayah Sumatera Barat. Misalnya ke Padang, Batusangkar dan kabupaten/kota lain di Sumatera Barat.

Kenapa merantau? 

Masyarakat Minangkabau pergi merantau tidak hanya untuk mencari penghidupan baru seperti berdagang, mengikuti pendidikan dan lain sebagainya.

Ada pula penyebab merantau karena melaksanakan tugas. Seorang pegawai negeri atau swasta ditugaskan di daerah lain dan harus menetap di tempat tugas tersebut.

Biasanya merantau dekat, di tempat tinggal dimana merantau akan 'melekat' atau mengaku 'induak' pada suatu keluarga atau kaum.

Hal ini sesuai pepatah, orangtua ditinggalkan orangtua pula yang didapati. Kampung ditinggalkan, kampung juga yang didapati. Mamak yang ditinggalkan mamak pula yang dihadapi!

Orang yang merantau dekat juga akan mencari orangtua angkat atau orangtua asuh. 

Jika berpandai-pandai di rantau orang dengan orangtua yang didapati, tidak jarang akan dianggap orang tersebut sebagai anak kandungnya sendiri. Bahkan dicantumkan dalam daftar Kartu Keluarga orang tersebut.


Anak 'kanduang' dan anak 'nan dikanduang'

Dalam UU Perkawinan dan hukum yang berlaku di Indonesia ada 5 jenis anak. Salah satunya adalah anak sah atau anak kandung.

Dalam tata pergaulan masyarakat Minangkabau, selain anak 'kandung' ada pula istilah 'anak yang dikandung'.

Anak kanduang, jelas anak yang sah, anak yang dilahirkan dari perkawinan yang sah sesuai UU Nomor 1 Tahun 1974.

Anak yang dikandung (bahasa Minangkabau, anak nan dikanduang) memang' tidak ada legalisasinya. Istilah ini hanya berlaku konvensional dalam jalinan silaturrahmi kekeluargaan.

Anak nan dikanduang adalah anak orang lain yang dianggap sebagai anak sendiri. Dibimbing dan dibesarkan di keluarga sendiri.

Status anak nan dikanduang bisa saja sebagai anak asuh ataupun anak angkat.

Filosofi silaturrahmi masyarakat Minangkabau tersebut memang unik. Jika pandai bainduak di rantau, induak urang labiah taraso jo induak sendiri.
Demikian sekilas tentang anak kandung dan anak yang dikandung dalam sosial masyarakat Minangkabau.***

0 Response to "Anak 'Kanduang' dan Anak 'Nan Dikanduang' dalam Pergaulan Sosial Masyarakat Minangkabau"

Posting Komentar