Penumpang Gelap

Loko diesel sepuluh gerbong batu bara yang sudah kosong berhenti di stasiun Singkarak sore itu. Seorang anak berseragam sekolah biru dan putih, naik diam-diam di antara deretan gerbong itu. Tak seorang pun yang melihatnya. Begitu pula masinis kereta api, tak sempat memperhatikan penumpang gelap di antara deretan gerbongnya.

Ilustrasi penumpang gelap (pixabay.com)

Kereta api diesel bergerak meninggalkan stasiun menuju kota Solok. Melaju di atas rel dengan lintasan lurus dengan kecepatan sedang. Gerbong yang sudah kosong menimbulkan suara yang memekakkan telinga.

Samsul, anak yang berdiri seorang diri di ujung salah satu gerbong. Merongoh sesuatu dari dalam bajunya. Sepucuk surat yang diterimanya dari Yeni, ketika keluar kelas usai jam belajar tadi.

Sebelum naik kereta api, Samsul memang sempat membacanya sekilas. Namun ia sudah maklum isinya yang mengecewakan.

Kini kembali dibukanya surat yang ditulis dengan tinta hitam di atas dua lembar kertas isi buku tulis itu.

Baca juga : Setumpuk Surat Cinta dari Yuni

"Maafkan aku, Uda Sam... Aku tak bisa membalas perasaan Uda. Lebih baik kita berteman saja. Anggaplah aku sebagai adikmu sendiri, kak Sam...."

Tak sempat dibaca seluruhnya isi surat sepanjang satu halaman itu. Samsul telah melipatnya dan menyimpannya kembali dalam bajunya.

Tiba-tiba laju kereta api terasa menurun. Samsul bersiap-siap untuk turun. Ia sudah maklum, kereta api akan memasuki area jembatan. Seperti biasanya, setiap kereta api yang lewat akan bergerak pelan, ketika melintasi rel di jembatan Kapuah itu karena sedang ada perbaikan ringan.

Mendadak Samsul cemas. Ternyata kali ini perkiraannya meleset. Laju kereta api tidak pelan seperti biasanya. Apakah jembatan kereta api di atas Sungai Kapuah ini sudah siap diperbaiki? Samsul bertanya dalam hati.

Kini hanya satu yang ada dalam pikiran Samsul disaat segenting ini. Melompat! 

Ya, melompat turun jika tidak ingin terbawa kereta api sampai ke kota Solok.

Huppp!!!

Samsul melompat, persis di tumpukan pasir yang ada di pinggiran jalan kereta api. Kedua kakinya memang tepat di tumpukan pasir. Namun laju kereta api saat melompat cukup tinggi membuatnya jatuh, berguling-guling, keluar onggokan pasir. Terpental sampai ke dalam sawah kering.

Samsul bangun dan duduk sejenak. Tubuhnya terasa pegal. Nafasnya ngos-ngosan. Kemudian memperhatikan tangan dan kakinya yang lecet. Sikunya mengeluarkan darah. Begitu pula lututnya. Baju seragam sekolahnya jadi kotor.

Untung bagian kepala sempat terlindungi. Ketika menjatuhkan diri dan berguling tadi, Samsul sempat melindungi kepala dengan kedua tangannya.

Tiba-tiba Samsul teringat sesuatu. Ia memeriksa bagian dalam bajunya, di bagian perut dan belakang. Namun ia tak merasakan apa-apa. Termasuk surat yang disimpannya tadi.

Samsul berusaha untuk berdiri. Setengah meringis kesakitan ia memeriksa tempat di sekitar ia menjatuhkan diri. Tidak ditemukan benda yang dicarinya. 

Samsul hanya menghela nafas. Menggeleng pelan. 

Lihat juga : Surat Kaleng Indah yang Tercecer

"Biarlah surat itu hilang karena aku telah bertepuk sebelah tangan," Samsul membatin seraya meninggalkan tempat itu.***


0 Response to "Penumpang Gelap"

Posting Komentar