Elegi Rindu untuk Seseorang di Pulau Formosa

Dari dulu aku hanya bisa memandangmu di dunia maya. Membaca status dan unggahanmu di media sosial. Menyapamu lewat kata-kata. Tak lebih bisa dari itu. Kontak telepon juga tak bisa, apalagi untuk bertemu di dunia nyata.

Ilustrasi elegi rindu buat seseorang (pixabay.com)

Itu pun sudah cukup berarti bagiku. Mengusir hari-hari sepi yang kulalui menit demi menit dan entah kapan akan berakhirnya.

Ya, kita memang tak mungin bertemu. Samudera telah membatasinya. Kamu nun jauh di seberang pulau kecil sana. Dibatasi samudera nan maha luas. Sementara aku disini, hidup di dusun kecil yang jauh dari keramaian.

Tiba-tiba kamu hilang tanpa kabar. Kubuka beranda medsosmu, kutulis pesan namun kata tak berbalas. Dengan berat hati aku berusaha untuk melupakamu. Mengubur cerita indah dunia maya. Sampai batas waktu yang tak dapat ditentukan. 

Kini, tiba-tiba kamu datang menyapa. Mengusik mimpi-mimpi indahku dulu yang sudah lama terkubur dalam, bersama perjalanan waktu yang tak pernah berhenti.

Pada mulanya aku sudah merasa cukup bahagia meskipun kamu hanya menulis kata, "hay..." Tiga huruf dengan tiga titik... itu sudah cukup membuat anganku mampu menyeberangi samudera dan sampai di pulau kecil Kepulauan Formosa sana.

Kemudian kamu bertanya "bagaimana keadaanmu sekarang, mas?" Meskipun hanya membaca tulisan, aku sudah dapat membayangkan seolah-olah kamu bertanya dengan suara lembut dan merdumu.

Jangan salahkan aku bila aku cepat-cepat menjawab chat itu. "Keadaanku masih terkabar baik, Suny..." Kamu pasti tidak heran lagi mengapa secepat itu aku balas. Karena aku sudah kangen padamu!

Semoga kamu baik-baik saja disana.***

0 Response to "Elegi Rindu untuk Seseorang di Pulau Formosa "

Posting Komentar