Bapak Zainul, Guru Tanpa Mata Pelajaran di Sekolah

Bapak zainul, guru tanpa mata pelajaran di sekolah - Ternyata waktu 12 tahun tidakkah terasa begitu lama setelah dijalani. Ya, tahun 2009 lalu, itulah yang terakhir saya berjumpa dalam kontek tugas sebagai sesama ASN di SMPN 2 Lintau Buo (dulu SMPN 4 Lintau Buo) dengan Bapak Zainul.

Bapak Zainul masih tetap enerjik (matrapendidikan.com)

Beliau adalah mantan ASN Tata Usaha dan Kepala Perpustakaan SMPN 2 Lintau Buo. Semasa berdinas, Bapak Zainul adalah seorang guru, guru tanpa mata pelajaran.

Saya menganggap beliau sebagai guru Filsafat Hidup. Bukan disiplin ilmu, yang memang tidak diajarkan di sekolah, bahkan mungkin juga di perguruan tinggi.

Meskipun saya seorang guru namun kepada beliau saya berguru tentang hidup dan kehidupan. Tentang syariat, hakikat dan makrifat serta filosofi berbagai hal dalam kehidupan. 

Beliau adalh guru, yang mengajari saya tanpa kurikulum. Pun tanpa perangkat pembelajaran dan administrasi keguruan lainnya. Beliau mengajari saya hanya dengan metode bercerita. 

Bercerita tentang hidup dan kehidupan tanpa ruang kelas khusus. Di ruang perpustakaan, kantor tata usaha dan dimana saja saya mau mendengar beliau. Metode 'mengajar' beliau sangat unik dan mudah ditangkap oleh otak dan pikiran saya. Itulah Bapak Zainul, guru tanpa mata pelajaran di sekolah.

Pertemuan mengharukan

Kini, Bapak Zainul sudah memasuki usia 70 tahun namun masih terlihat sehat dan enerjik.

Di resepsi pernikahan Sari, putri ketiga bapak Zainul (matrapendidikan.com)

Itu semua saya lihat ketika berjumpa, saat menghadiri resepsi pernikahan putri ketiga beliau, Syarifah Aini, S.Pd dengan Zulhendri Yohanas, S.Pd., Senin (18/1/2021).

Ketika sampai di tempat resepsi, Bapak Zainul menyalami dan memeluk saya. Tanpa saya duga berulangkali pula beliau menyusut air mata dengan sapu tangannya menahan haru. Begitu pula ketika hendak melepas saya dan istri kembali pulang ke rumah. 

Nyaris besanan

Ada kesamaan di sisi tertentu, antara keluarga saya dan keluarga Bapak Zainul. Kami sama-sama dikaruniai putra dan putri sebanyak 5 orang. Sama-sama memiliki 3 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan.

Kami kami nyaris berbesanan namun Allah SWT belum menyetujuinya. Saya dan istri tidak berkecil hati karena semuanya sudah ketentuan dari Yang Maha Kuasa. Meskipun begitu, beliau tetap menjadi guru Filsafat Hidup bagi saya.

Selamat mantu pak Zainul, semoga tetap sehat wal 'afiat. Aamiin...***