Sepak Takraw

Motor butut keluaran 96 itu terlihat bergerak pelan. Melewati jalan kampung yang berbatu-batu dan bercadas. Bunyi mesin dan getaran bodi motor menyatu menimbulkan suara berisik dan bising. Bahkan bunyi bagian bodi motor terdengar seperti mau copot satu per satu.

Ilustrasi cerpen sepak takraw (matrapendidikan.com)

Dadang, pengendara motor terlihat santai kendati pinggangnya mulai terasa pegal karena getaran bodi motor melewati jalan rusak itu.

Sebenarnya Dadang sudah lama tidak melewati jalan kampung ini. Dulu, jalan menuju Kampung Karet ini masih bagus. Konon kendaraan roda empat dan truk ikut melewatinya menyebabkan jalan itu jadi rusak.

Dadang lebih memperlambat laju motornya manakala melihat seorang pria berjalan kaki di depannya.

"Permisi, Pak..." Sapa Dadang menoleh sekilas, sekadar minta izin untuk mendahului pria paruh baya itu.

"Dadang...!"

Dadang menghentikan motornya ketika mendengar namanya dipanggil. Menoleh ke belakang.

Lelaki paruh baya itu membuka maskernya. Rasanya Dadang mengenalnya. Lantas ia turun dari motornya.

"Pak Subari?" seru Dadang.

"Iya, betul saya Subari..."

"Mau kemana, pak?"

"Nonton pertandingan Sepak Takraw."

"Oh, sama dong Pak. Yuk, kita bareng....," ajak Dadang.

Pak Subari membonceng di belakang. Kini bunyi berisik motor mulai berkurang.

"Hobi nonton sepak takraw juga ya, Pak." 

"Sebenarnya tidak terlalu hobi. Tapi saya ingin mengawasi cucu saya yang telah duluan pergi ke lapangan melihat pertandingan sepak takraw itu."

"Cucu bapak yang mana?" 

"Yang di Jakarta. Ia pulang kampung dan telah menetap di kampung ini."

"Oh..."

Dadang memarkir motor di halaman rumah penduduk, tidak jauh dari keramaian penonton yang sedang keasyikan menyaksikan serunya pertandingan.

Dadang mengekor di belakang pak Subari. Mencari tempat menonton yang bagus.

"Kita berdiri disini saja, Dadang." Dadang menurut saja. 

Sementara di lapangan sedang bertanding dua klub sepak takraw. Antara tim berbaju orange dan biru. 

Pak Subari terpesona dengan permainan seorang pemain tim biru. Smash memutar tubuh di udara sambil menyepak bola sering membuahkan angka buat tim biru.

Sementara Dadang ternyata bukan terpikat dengan akrobatik pemain takraw tim biru. 

Dari tadi, perempuan berbaju merah dan bercelana biru yang duduk di sisi lapangan tim orange itu justru menyita perhatiannya.

Ternyata perempuan berkulit putih dan berwajah cantik itu juga memperhatikan Dadang. Mereka saling berpandangan mata meskipun dari jarak cukup jauh. 

Tanpa disadarinya, Dadang dan perempuan itu telah terlibat main mata jarak jauh!

Dadang merasakan getaran-getaran indah ketika sekali-sekali perempuan itu tersenyum dan mengangguk pelan kearahnya. Hanya Dadang yang merasakan indahnya senyum dan tatapan dari jauh perempuan cantik itu. 

"Kamu suka, Dadang...?" 

Pak Subari bertanya mendadak. Rupanya orangtua tak dapat dikecoh. Lelaki paruh baya itu tahu kalau perhatian pria di sampingnya ini bukan pada permainan sepak takraw. 

Cucunya, Mina yang mengenakan baju merah dan jeans biru, sejak tadi jadi perhatian Dadang. 

Pak Subari juga sadar kalau Dadang dan cucunya terlibat main mata jarak jauh.

"Oh, suka sekali pak..." jawab Dadang sekenanya.

"Suka apanya?" tukas pak Subari.

"Ya, aksi pemain... tim biru, pak. Hm, mainnya bagus," jawab Dadang gugup. Ia berbohong.

"Dadang... "

"Iya, pak?"

"Yang berkaos merah dan jeans biru itu, cucu saya, Mina namanya..." cetus pak Subari.

Spontan wajah Dadang bersemu merah. Ia merasa jengah. Tak menyangka kalau perempuan lawan main matanya adalah cucu pak Subari sendiri.

"Tapi, cucu saya itu sudah menjanda, ditinggal mati suaminya dan belum punya anak." ujar Pak Subari pelan, suaranya terdengar berat. Ada kesedihan dibalik ucapan pak Subari.

Dadang menghela nafas. Seakan ikut merasakan kesedihan pak Subari. ***