Nasib Pendidikan di Era Pandemi (Bagian Kedua)

Pengantar admin | Artikel ini merupakan bagian kedua dari artikel yang dikirim saudara Badri Tamami, Pengurus Komisariat PMII UIA Bekasi dengan judul Nasib Pendidikan di Era Pandemi. Disajikan dengan format penerbitan matrapendidikan.com (Admin).

Orangtua dampingi anak belajar (pixabay.com)

Najwa Shihab menjelaskan “Ilmu jangan hanya obyek hapalan, ilmu untuk memahami dan menuntaskan persoalan.S Sekolah juga perlu terus membuka diri pada perubahan, guru jangan segan beradaptasi dengan pembaharuan. Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bertahan”.

Rakyat perlu para penegak yang beribawa, bekerja demi keadilan dengan bangga. Karena kita tak hanya membayar seragam mereka hanya untuk bersandiwara.

Peran anak dituntut untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru, dengan mengikuti daring  menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dalam pembelajaran tersebut secara tuntas. 

Anak harus belajar secara virtual, di mana dialog interaktif antara guru dan anak tidak semudah kalau secara tatap muka.

Pembelajaran daring menjadi tantangan bagi dunia pendidikan dengan situasi Indonesia yang memiliki ribuan pulau. Bagaimana teknologi dapat digunakan? Bagaimana penyediaan akses internet pada daerah-daerah terpencil dimana barang elektronik tanpa akses internet pun masih menjadi suatu kemewahan. 

Ini merupakan tantangan bagi semua pihak, saat ini kita harus bekerja keras bersama bagaimana membawa teknologi menjawab permasalahan nyata yang terjadi pada mahasiswa dan pelajar yang kurang beruntung dalam hal ekonomi maupun teknologi yang berada di daerah-daerah terpencil. 

Tingkat pemahaman anak atas materi yang diberikan tentulah sangat berbeda-beda, banyak yang tingkat pemahaman kurang, karena ketidaksungguhan dalam proses pembelajaran. 

Ada dan tidak adanya orang tua tau lainnya  yang melakukan pendampingan. Di samping itu fasilitas anak yang memiliki alat tersebut masih minim untuk melakukan akses pembelajaran jarak jauh, misalnya seperti : Handphone, Laptop, Provider yang digunakan dan jumlah kuota yang dimiliki.

Peran orangtua di saat pembelajaran daring sangat diperlukan oleh anak, terutama pada anak-anak tingkat SD/MI, orangtua dituntut untuk selalu memotivasi dan membimbing anak-anaknya agar dapat menjelaskan apa yang dijelaskan oleh pengajar  dan dapat membantu mengerjakan tugas-tugas sekolah atau biasa di sebut pekerjaan rumah (PR). 

Peran penting bagi setiap orangtua untuk memberikan fasilitas seperti : handphone, laptop, internet, kuota dan bahan-bahan lainnya untuk mengerjakan tugas yang diberikan. 

Hal ini memicu kesenjangan karena di saat pandemi ini banyak sekali pemutusan hubungan kerja misalnya pada kalangan buruh, pemotongan gaji karena dampak pandemi dan berkurangnya penghasilan bagi para pedagang. 

Jangankan untuk memberikan fasilitas pendidikan, untuk makan sehari-hari saja sulit. Dengan demikian, ketika anak tidak bisa mengikuti pembelajaran, sehingga  besar kemungkinan menimbulkan keputusaasaan dan menimbulkan putus sekolah. 

Keterbatasan sarana dan prasarana tentunya banyak terjadi, karena tidak semua orangtua dapat mampu memberikan semua fasilatas untuk buah hatinya. Karena minimnya mata pencarian pada situasi sekarang.***(Tamat).

Simak juga Nasib Pendidikan di Era Pandemi (Bagian Pertama)

Pengirim : Badri Tamami, Pengurus Komisariat PMII UIA Bekasi.

0 Response to "Nasib Pendidikan di Era Pandemi (Bagian Kedua)"

Posting Komentar