Disrupsi Kesehatan dan Mental Dampak Covid-19

Disrupsi kesehatan dan mental Dampak COVID-19 - Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang begitu besar, tak hanya di Indonesia bahkan dunia. Saat pandemi COVID-19, siswa diminta untuk melakukan social distancing, physical distancing bahkan learning from home.

Ilustrasi gambar (pexels.com)

Learning from home ini membawa dampak buruk bagi psikologis siswa, dari pertemuan dan momen-momen dengan teman sebayanya menjadi berkurang.

Pengaruh lainya siswa sulit mengerti pelajaran karena hanya diberikan tugas tanpa penjelasan, atau mendapat penjelasan namun tidak paham penjelasan tersebut karena jaringan yang kurang memadai, terlalu banyak tugas, menunda-nunda tugas hingga tidak konsentrasi belajar karena harus membantu orangtua.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mengkritik pelaksanaan pembelajaran daring yang dianggap mengesampingkan kesehatan mental siswa.

Dikutip dari kanal berita CNN Indonesia, pada Sabtu (17/10/2020) di Gowa Sulawesi Selatan seorang siswa ditemukan tewas dengan mulut berbusa di kamarnya yang diduga stres akibat tugas terlalu berat saat menjalani pembelajaran secara daring.

Konsep merdeka belajar lewat pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sejatinya dianggap solusi bagi pendidikan di masa pandemi, justru membuat siswa stres dan psikologi anak terganggu. 

Beberapa kasus lainnya yaitu KPAI menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalkan seorang anak usia 8 tahun karena kekerasan yang dilakukan orang tuanya sendiri ketika mengalami kesulitan belajar jarak jauh secara online ujar Komisioner KPAI Retno Listyarti dalam keterangannya yang diterima Jawa Pos.com, Rabu (16/9). Siswa SD Negeri berusia 8 tahun meninggal karena dianiaya orang tuanya karena sulit diajarkan materi.

Ia mengalami pukulan pada bagian belakang kepala karena ketidaksabaran orang tuanya, lalu anak ini meninggal dan dikuburkan diam-diam oleh keluarganya dalam kondisi masih pakai seragam putih merah.

Kemudian pada 27 Oktober lalu di Tarakan Kalimantan Utara, seorang siswa MTS umurnya 15 tahun dia mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, hal ini terjadi karena banyaknya tagihan tugas yang mengancamnya tidak bisa naik kelas.

KPAI juga mencatat bahwa kekerasan terhadap anak meningkat di masa pandemi ini terutama dari dunia pendidikan.

Dari survei KPAI terhadap 25.000 anak, menunjukkan kalau anak-anak itu 67% itu mengalami kekerasan.

Bentuk kekerasannya memang bermacam-macam, termasuk yang paling banyak kekerasan verbal 63%, misalnya orangtua membandingkan dengan dengan keluarga saudaranya yang lain atau seorang guru memberikan motivasi yang berupa ancaman.

Hal ini akan berdampak terhadap kesehatan mental anak atau siswa.

Menurut WHO, kesehatan mental adalah kondisi dari kesejahteraan yang disadari, yang didalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stress kehidupan yang wajar untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan serta berperan serta di komunitasnya.

Begitupun menurut Kementrian Kesehatan, kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin berada dalam keadaan tentram dan tenang sehingga memungkinkan individu untuk menikmati kehiupan sehari-hari dan menjalin hubungan positif dengan individu lain, serta dapat menggali potensi diri secara maksimal.

Untuk menjaga kesehatan mental ini, bu Rosmini Dosen fakultas psikologi UI mengatakan bisa dilakukan dengan adanya rasa empati dari semua pihak.

Dari pihak pemerintah bisa berupa pembekalan dalam pelaksanaan pembelajaran daring terhadap guru dan orangtua.

Pembekalan terhadap orang tua sangatlah penting, karena orangtualah yang banyak berinteraksi dengan siswa dan hampir 50% keluarga-keluarga di Indonesia kepala keluarganya tamatan SD.

Kita bayangkan jika mereka diberikan beban (mengajari anak) yang mereka tidak mempunyai bekal, terus bagaimana mereka akan menyelesaikannya. Sedangkan dari guru minim penjelasan.

Selain pemerintah, guru dan orangtua juga harus memiliki rasa empati terhadap siswa. Dalam memberikan tugas pun guru hendaknya memperhatikan keadaan maupun kemampuan siswanya.

Karena pemerintah pun telah memberikan kebijakan berupa menyerahkan kurikulum kepada Lembaga sekolah masing-masing.

Dalam menyampaikan materi, guru pun dituntut lebih kreatif sehingga materi bisa ditangkap dengan baik oleh para siswa.

Selain itu, guru hendaknya berinteraksi dengan orangtua siswa, sehingga ketika siswa mengalami suatu perubahan sikap guru bisa menanyakan kepada orangtuanya, karena selama pembelajaran daring ini orangtualah yang selalu berinteraksi dengan siswa.

Bagi orangtua sendiri, selama pandemi ini hendaknya lebih memperhatikan kesehatan mental sang anak. Jangan terlalu memaksakan untuk meraih sebuah prestasi ataupun peringkat.

Jangan khawatir kalau anak gagal, khawatirlah kalau anak tak sanggup berjuang, sehingga mudah menyerah, tak sanggup bangkit dan berjuang.

Fokusnya bukan mengutuk kegagalan lalu menyalahkan maupun mengkritik hasilnya, melainkan memberi dukungan, melatih anak belajar berjuang, apresiasi usahanya sehingga anak pun punya daya untuk berusaha, bukan tenggelam dan mengutuk dirinya.

Karena anak akan tumbuh dalam perasaan disayangi jika ia merasa diterima, merasa dipercaya, merasa dipahami, merasa diberi dukungan.

Anak yang selalu dilihat salahnya, kurangnya, tidak becusnya, berisiko merasa bahwa dirinya memang tidak layak, tidak percaya pada kemampuannya, dirinya pun merasa frustasi. 

Oleh karena itu tips lain yang bisa dilakukan oleh siswa untuk menjaga kesehatan mentalnya yaitu dengan cara membuat jadwal harian.

Misalnya jam 8-10 pagi adalah jadwal belajar dan harus dilakukan secara disiplin, sehingga secara tidak langsung orangtua kita pun segan untuk memerintah kita pada jam-jam tersebut, tekanan dari orangtua pun juga berkurang.

Jika orangtua kita belum juga memahaminya, maka tugas kita yaitu meminta pengertian atau memberi pengertian pemahaman kepada orangtua kita mengenai jadwal belajar tersebut.

Tips selanjutnya, menghentikan kebiasaan begadang, tidak terlalu banyak interaksi dengan gadget ataupun laptop karena untuk bermain, memiliki hobi yang kreatif, jangan lepas komunikasi dengan teman meskipun hanya melalui media sosial, olahraga dan yang paling penting adalah selalu mendekatkankan diri kepada Allah SWT.*** (Oleh : Umi Lailatus Sa’adah, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim)

0 Response to "Disrupsi Kesehatan dan Mental Dampak Covid-19"

Posting Komentar