Berenang di Laut Mati Tidak Akan Tenggelam

Berenang di laut mati tidak akan tenggelam - Tahukah kalian bila berenang di laut mati kita tidak akan tenggelam seperti di laut pada umumnya. Mengapa demikian? Hal ini berkaitan dengan pembelajaran ilmu kimia yaitu pada sifat koligatif.

Ilustrasi gambar (velascoindonesia.com )

Sebelum memasuki inti pembahasan, maka kita harus mengenal terlebih dahulu apa itu ilmu kimia.

Secara bahasa kimia berasal dari bahasa Yunan “khemia” dengan arti perubahan materi.

Secara istilah, Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, dari skala atom hingga molekul  dan perubahan energi yang menyertai suatu perubahan materi atau zat.

Namun menurut para ahli yaitu menurut Chang (2005: 3) ilmu kimia di definisikan sebagai ilmu yang mempelajari materi dan perubahannya.

Lalu apakah yang dimaksud dengan sifat koligatif? Sifat koligatif larutan menurut Raymond Chang dalam bukunya yang berjudul “Chemistry 10th Edition”, sifat koligatif larutan adalah sifat yang hanya bergantung pada jumlah partikel terlarut dalam suatu larutan dan tidak bergantung pada sifat alami partikel terlarut.

Jadi, semakin banyak zat terlarut, maka sifat koligatif akan semakin besar. Sifat koligatif larutan bergantung pada jumlah dari partikel terlarut saja, dalam bentuk atom, ion, maupun molekul. Sifat koligtaif larutan dibedakan antara larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit.

Sifat koligatif larutan meliputi penurunan tekanan uap jenuh, kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan tekanan osmotik larutan. 

Larutan elektrolit didefinisikan sebagai larutan yang dapat menghantarkan arus listrik secara baik. Oleh karena itu, sifat koligatif larutan elektrolit merupakan sifat larutan yang di dalam pelarutnya mempunyai kemampuan untuk mengion.

Hal ini mengakibatkan larutan elektrolit mempunyai jumlah partikel yang lebih banyak daripada larutan non elektrolit pada konsentrasi yang sama.

Disebabkan larutan ini mempunyai jumlah partikel yang lebih banyak. Hal ini dijelaskan oleh Van’t Hoff yang selanjutnya disebut faktor van’t Hoff yang merupakan suatu perbandingan yang terdapat pada sifat koligatif larutan elektrolit dengan larutan non elektrolit. 

Sementara itu, larutan nonelektrolit kebalikannya. Larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik karena molekul-molekul terlarutnya tidak terionisasi di dalam larutanya.

Hal ini menyebabkan tidak terbentuknya beda potensial dalam larutan, sehingga listrik tidak dapat mengalir.

Sifat koligatif larutan non elektrolik pun dapat di definisikan yaitu sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat terlarut). Zat nonelektrolit tetap berbentuk molekul di dalam larutannya.

Dalam konsentrasi yang sama jumlah partikel larutan nonelektrolit lebih sedikit daripada larutan elektrolit.

Penurunan tekanan uap: Adanya zat terlarut dalam suatu pelarut cair mengakibatkan penurunan tekanan uap jenuh.

Hal ini sesuai dengan Hukum Raoult yang menyatakan besarnya tekanan uap larutan adalah hasil kali fraksi mol pelarut dalam larutan dan tekanan uap dari pelarut murni pada suhu tertentu (Ralph H. Petrucci, General Chemistry Principles anda Modern Applications Ninth Edition, New Jersey, Pearson Education, 2007), Makin banyak jumlah zat terlarut dalam larutan, makin sedikit bagian pelarutnya sehingga tekanan uap juga makin rendah. Hal itu menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan tekanan uap (∆P). 

Kenaikan titik didih: Titik didih dari suatu larutan adalah temperatur ketika tekanan uapnya sama dengan tekanan eksternal.

Oleh karena terjadinya penurunan tekanan uap larutan oleh keberadaan zat terlarut non-volatil, dibutuhkan kenaikan temperatur untuk menaikkan tekanan uap larutan hingga sama dengan tekanan eksternal.

Jika partikel zat terlarut ditambahkan dalam suatu pelarut, maka akan menyebabkan kenaikan titik didih, dimana titik didih larutan lebih besar dari titik didih pelarut.

Kenaikan titik beku: Hanya partikel-partikel pelarut yang memadat (membeku), meninggalkan partikel-partikel zat terlarut membentuk larutan yang konsentrasinya lebih pekat. Titik beku dari suatu larutan adalah temperatur di mana tekanan uap larutan sama dengan tekanan uap pelarut murni. 

Pada temperatur ini, dua fasa pelarut  padat dan larutan cair berada dalam kesetimbangan. Oleh karena terjadinya penurunan tekanan uap larutan dari tekanan uap pelarut, larutan membeku pada temperatur yang lebih rendah dibanding titik beku pelarut murni. 

Tekanan osmotik larutan: Osmotik adalah peristiwa berpindahnya zat pelarut dari larutan yang lebih encer ke larutan yang lebih pekat melalui membran semipermeabel.

Tekanan osmosis didefinisikan sebagai tekanan yang diberikan untuk menahan perpindahan netto partikel pelarut dari larutan dengan konsentrasi pelarut tinggi menuju larutan dengan konsentrasi pelarut rendah. 

Setelah memahami sifat-sifat koligatif larutan maka akan terjawab mengapa saat berenang di Laut Mati kita tidak akan tenggelam.

Hal tersebut berkaitan dengan sifat koligatif larutan yakni penurunan tekanan uap jenuh larutan, dimana apabila ke dalam suatu pelarut dilarutkan zat yang tidak mudah menguap, ternyata tekanan uap jenuh larutan menjadi lebih rendah daripada tekanan uap jenuh pelarut murni.

Dalam hal ini uap jenuh larutan dapat dianggap jenuh hanya mengandung uap zat pelarut.

Nama Laut Mati berasal dari bahasa Arab yang disebut Bahrul Mayyit yang artinya ‘Laut Mati’. Sebenarnya, Laut Mati bukanlah laut melainkan danau yang sangat besar dengan ukuran panjang lebih dari 50 km, lebar lebih dari 15 km, dan luas permukaan lautnya lebih dari 500 km2.

Karena ukurannya yang sangat besar inilah makanya diputuskan untuk menyebut danau ini disebut sebagai laut. Laut Mati juga merupakan tempat terendah di bumi, sekitar 300 m lebih rendah dari permukaan laut.

Air yang berada di laut mati memiliki kadar garam yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 10 kali lipat tingginya dibanding kadar garam rata-rata lautan pada umumnya. Air atau pelarut yang ada di laut mati akan sulit menguap karena tekanan uap pelarut menurun disebabkan karena konsentrasi kadar garam yang sangat tinggi.

Semakin banyak jumlah zat terlarut, maka pelarut semakin sukar menguap. Adanya zat terlarut menyebabkan penurunan tekanan uap cairan. Karena memiliki konsentrasi zat terlarut sangat tinggi, hal ini menyebabkan air di Laut Mati lebih padat daripada air tawar.

Menurut hukum Archimedes jika “massa jenis benda lebih kecil daripada massa jenis air, maka benda tersebut akan mengapung”. Massa jenis tubuh manusia 0,985 gr/cm3 adalah sedangkan massa jenis air Laut Mati adalah 1,24gr/cm3.

Karena massa jenis tubuh manusia lebih kecil, makanya manusia bisa mengapung di Laut Mati dan menjadikan kita tidak akan tenggelam. 

Bila kalian mengunjungi Laut Mati, selain mencoba sensasi mengambang di atas air, nyatanya air dan lumpur dari Laut Mati sangat berguna bagi kesehatan terutama kesehatan kulit.

Ini karena berbeda dengan garam dapur, garam di Laut Mati sangat pahit dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit seperti gatal-gatal hingga jerawat. Sementara, lumpur Laut Mati adalah lumpur hitam yang mengandung magnesium, natrium, kalium, dan kalsium yang juga sangat baik untuk memperbaiki sel kulit mati, melancarkan sirkulasi darah, membantu menjaga kesehatan, dan khususnya bagi wanita untuk mempercantik serta menghaluskan kulit..

Tidak heran jika banyak pengunjung berlomba-lomba mengoles tubuhnya dengan lumpur dan membiarkannya kering sebelum akhirnya di bilas dengan air garam dari Laut Mati.***

Sumber : https://velascoindonesia.com/misteri-laut-mati-dan-faktanya/

Penulis :

Gisella Aulia Runantika, Pelajar SMA Indocement.

0 Response to "Berenang di Laut Mati Tidak Akan Tenggelam"

Posting Komentar