Penerapan Sifat Koligatif Larutan pada Kenaikan Titik Didih

Penerapan sifat koligatif larutan pada kenaikan titik didih - Hai guys! Apa kabar? Semoga kalian sehat selalu ya. Pada artikel ini, aku akan membahas tentang penerapan sifat koligatif larutan.

Tapi yang akan menjadi topik utamanya adalah penerapan sifat koligatif : Kenaikan Titik Didih. 

1. Pengertian Sifat Koligatif Larutan 

Menurut id.m.wikipedia.org, sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya bergantung pada konsentrasi partikel zat terlarutnya. 

Jadi dapat disimpulkan jika zat terlarutnya banyak maka sifat koligatifnya akan semakin besar.

Nah, begitu juga kalau zat terlarutnya sedikit maka sifat koligatifnya akan semakin kecil.

Jadi gitu guys, pembahasan mengenai pengertian Sifat Koligatif Larutan. Gimana? Udah pada paham kan? Kalo sudah, yuk kita lanjut ke materi selanjutnya Yaitu Macam-macam sifat koligatif larutan. Kalian harus banget tau ini. Tunggu apa lagi? Ayo kita simak penjelasannya.

2. Sifat Koligatif Larutan


A. Penurunan Tekanan Uap (ΔP)

Adanya zat terlarut dalam suatu pelarut cair mengakibatkan penurunan tekanan uap jenuh. Hal ini sesuai dengan hukum Raoult yang menyatakan besarnya tekanan uap larutan adalah hasil kali fraksi mol pelarut dalam larutan dan tekanan uap dari pelarut murni pada suhu tertentu. (Ralph H. Petrucci, General Chemistry Priciples anda Modern Applications Ninth Edition, New Jersey, Pearson Education, 2007).

Jadi guys, makin banyak jumlah zat terlarut dalam larutan, makin sedikit bagian pelarutnya sehingga tekanan uap juga makin rendah.

Rumus Tekanan Uap Jenuh Larutan non-elektrolit :

[P = Xp× P°]

Keterangan : 

P = Tekanan Uap Jenuh Larutan (cmHg).

Xp = Fraksi Mol Zat Pelarut

P° = Tekanan Uap Jenuh Pelarut Murni (cmHg)

Rumus Tekanan Uap Larutan non-elektrolit : 

[ΔP = P° - P]

Keterangan : 

ΔP = Penurunan Tekanan Uap Jenuh (cmHg).

P° = Tekanan Uap Jenuh Pelarut Murni (cmHg).

P = Tekanan Uap Jenuh Larutan (cmHg).

Rumus penurunan tekanan uap non-elektrolit : 

[ΔP = Xt× P°]

*Xt = Fraksi Mol Zat Terlarut

B. Kenaikan Titik Didih (ΔTb)

Zat terlarut dalam larutan menghalangi gerakan molekul-molekul pelarut sehingga sukar lepas dari fase cair menjadi gas.

Makin tinggi kemolalan, zat terlarut makin banyak sehingga titik didih makin tinggi. 

Jadi guys bisa kita simpulkan bahwa kenaikan titik didih bergantung pada kemolalan larutan.

Rumus Titik Didih Larutan non-elektrolit :

[ΔTb= m × Kb]

Atau

[ΔTb = Tb larutan - Tbpelarut]

Keterangan : 

Tb Pelarut (T°b) = Titik Didih Pelarut (°C )

TbLarutan = Titik Didih Larutan (°C )

ΔTb = Kenaikan Titik Didih Larutan (°C )

m = molalitas (m)

Kb= Tetapan Kenaikan Titik Didih Molal (°C m-1 )

C. Penurunan Titik Beku ( ΔTf )

Titik beku larutan bergantung pada kemolalan larutan. Jika kemolalan larutan bernilai besar, maka titik beku larutan makin rendah. Nah, Begitupun sebaliknya yaa.

Rumus Penurunan Titik Beku larutan non-elektrolit

[ΔTf = m × Kf]

Keterangan : 

Tfpelarut (T°f) = Titik Beku Pelarut (°C )

Tflarutan = Titik Beku Larutan (°C )

ΔTf= Penurunan Titik Beku Larutan (°C ) 

m = molalitas (m)

Kf= Tetapan Penurunan Titik Beku Molal (°C m-1 )

D. Tekanan Osmotik (π)

Tekanan osmotik adalah gaya yang diperlukan untuk mengimbangi desakan zat pelarut melalui selaput semipermiabel ke dalam larutan. Membran semipermeabel adalah suatu selaput yang dapar dilalui molekul-molekul pelarut dan tidak dapat dilalui oleh zat terlarut.

Tekanan osmotik bergantung pada jumlah partikel dalam larutan. 

Rumus Tekanan Osmotik larutan non-elektrolit

[ π × V = n × R × T ]

[ π = (n÷v) RT ] atau [ π = M × R × T ]

Keterangan : 

π= Tekanan Osmotik (atm)

V = Volume Larutam (L)

n = Jumlah Mol Zat Terlarut

M = Molaritas ( M )

R = Tetapan Gas (0,082 L atm mol-1 K-1)

T = Suhu Mutlak ( K )

O iya guys, tadi kan semua rumus-rumus diatas itu untuk senyawa non elektrolit.

Nah, di bawah ini ada rumus-rumus untuk senyawa yang bersifat elektrolit.

3. Larutan Elektrolit dan Non-Elektrolit 

Menurut studiobelajar.com, larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan listrik, sedangkan larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan listrik.. 

Larutan elektrolit dapat dibedakan menjadi elektrolit kuat dan elektrolit lemah.

Apa sih elektrolit kuat? Jadi guys elektrolit kuat adalah elektrolit yang mempunyai daya hantar relatif tinggi walaupun konsentrasinya relatif kecil.

Nah, sedangkan elektrolit lemah mempunyai daya hantar yang relatif rendah walaupun konsentrasinya relatif besar.

4. Penerapan Sifat Koligatif Larutan : Kenaikan Titik Didih

Oke guys, setelah mengenal sifat koligatif larutan sekarang kita masuk ke topik utama artikel ini. Yuk, yaitu penerapan sifat koligatif larutan : kenaikan titik didih dalam kehidupan sehari - hari. 

Kalian pasti tidak menyadari kalau penerapan sifat koligatif larutan itu ternyata ada di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Hmm, pasti kalian penasaran kan? Kalo gitu aku kasih tau deh penjelasannya agar kalian ga bingung. Lets Go kita simak !!!

a). Air Mendidih

Guys, kalian semua pernah kan masak air sampai mendidih? Pasti kalian pernah masak air untuk bikin kopi, teh, susu dll.

Nah, air mendidih merupakan salah satu penerapan sifat koligatif : kenaikan titik didih.

Titik didih zat cair adalah suhu tetap pada saat zat cair mendidih. Pada suhu ini, tekanan uap zat cair sama dengan tekanan udara di sekitarnya. Sehingga penguapan terjadi di seluruh bagian zat cair.

Oiya, titik didih zat cair itu diukur pada tekanan 1 atm. "Atm itu apasih?" Atm adalah singkatan dari atmosfer. Jadi bisa dibilang 1 atm adalah 1 atmosfer.

Titik didih larutan selalu lebih tinggi dari titik didih pelarut murninya. Karena partikel-partikel zat terlarut suatu larutan menghalangi peristiwa penguapan partikel-partikel pelarut. Jadi, penguapan partikel-partikel pelarut membutuhkan energi yang lebih besar.

Perbedaan titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni disebut sebagai kenaikan titik.

Contohnya nih guys, air mendidih pada 100°C pada tekanan 1 atm. Kalau air tersebut kita tambahkan garam maka titik didih nya menjadi lebih dari 100°C pada tekanan yang sama.

Itu berarti, air pada larutan garam mengalami kenaikan titik didih. Kenaikan titik didih ini bergantung pada konsentrasi garam dalam air.

Jadi semakin banyak garam dalam air maka kenaikan titik didihnya semakin tinggi juga.

b). Penggunaan Panci Presto

Panci presto biasanya digunakan untuk masak daging-daging. Orang-orang menggunakan panci ini karena ingin memdapatkan daging yang empuk ataupun daging dengan tulang lunak dalam waktu yang singkat.

"Kenapa bisa ya?" Karena panci presto menggunakan prinsip dasar kenaikan titik didih, yaitu air akan mendidih pada suhu 100°C pada tekanan 1 atm.

Panci presto juga terbuat dari bahan stainless yang tebal dan kuat serta memiliki penutup yang rapat, jadi uap air yang dihasilkan saat proses pendidihan tidak akan keluar dan hanya terkumpul dalam panci presto.

Nah, air yang terkumpul tersebut membuat tekanan air dalam panci presto naik, sehingga menyebabkan temperatur didihnya juga naik menjadi >100°C.

C ). Distilasi

Distilasi adalah proses pemisahan senyawa dalam larutan dengan cara pendidihan. Larutan yang akan dipisahkan dengan zat terlarutnya, suhunya dinaikkan secara perlahan agar zat terlarut menguap dan dapat dipisahkan dengan pelarutnya.

Jadi, sangat penting sekali mengetahui titik didih zat terlarut agar waktu yang diperlukan untuk mendidihkan larutan tersebut dapat kita ketahui.

d ). Cairan Anti-Beku

Apakah kalian tahu? Senyawa etilen glikol merupakan suatu zat yang sering digunakan sebagai cairan antibeku dalam radiator kendaraan.

Sebenarnya cairan ini berfungsi untuk mencegah air radiator untuk untuk membeku dengan menurunkan titik beku larutan dalam radiator.

Eitss... tapi ternyata cairan antibeku ini juga akan menaikkan titik didih larutan dalam radiator.

Hal ini akan bermanfaat untuk radiator tersebut dimana adanya kenaikan titik didih akan mencegah air radiator untuk mendidih.

e ). Pemurnian Gula

Kalian pasti tahu kalau gula itu terbuat dari tebu. Tebu akan diekstrak menjadi cairan tebu lalu digunakan untuk pembuatan gula kristal untuk dikonsumsi.

Dalam pembuatan gula, ada suatu tahap pendidihan cairan tebu. Suhu cairan mendidih akan bergantung pada konsentrasi gula dalam cairan tsb.

Dengan mengetahui tingkat kenaikan titik didih ini maka itu akan digunakan untuk mengetahui tingkat kejenuhan larutan. Sehingga bermanfaat dalam proses kristalisasi.

f ). Pengukuran Massa Molar

Kenaikan titik didih dapat digunakan untuk menentukan massa molar zat terlarut dengan adanya variabel mol pada rumusnya. 

Contohnya larutan elektrolit seperti natrium klorida, senyawa tersebut mengalami disosiasi saat pelarutan.

Hal ini akan menjadi lebih kompleks dalam pengukuran massa molar suatu zat menggunakan kenaikan titik didih.

Oke guys, pembahasan materi ini selesai sampai disini. Semoga kalian ngerti ya apa yang tadi di jelaskan di artikel ini, mulai dari pengertian sampai macam-macam sifat koligatif larutan. 

Semoga artikel ini berguna untuk kalian semua. Mohon maaf jika ada kekurangan. Terimakasih.***

Sumber : 

@id.m.wikipedia.com 

@studiobelajar.com

@Buku intan pariwara

Edit by me

Pict by : pinterest 

edit by me    

Pict by : https://images.app.goo.gl/ffjyoC9PmWz77hdV7

Biodata Penulis:

Nama : Dinda April LLiani

Pelajar : SMA Indocement

Alamat : Kec. Citeureup, Bogor.

0 Response to "Penerapan Sifat Koligatif Larutan pada Kenaikan Titik Didih"

Posting Komentar