Rukayah

Rukayah - Kembali Muharman menoleh ke pojok ruangan. Mengamati seorang perempuan muda yang duduk menyendiri menyantap kuliner di pesta pernikahan itu. Sementara gemuruh musik Melayu mengalun keras melalui sound system di kiri dan kanan pentas.

Ilustrasi gambar (pixabay.com)

Biduanita musik organ tunggal menyanyikan lagu dangdut lawas, "Bukan Tak Mampu". Tembang yang pernah populer di masanya dan dinyanyikan Mirnawati D.

Muharman membuang pandangan ke arah lain dengan cepat. Bahkan merubah posisi duduknya menjadi membelakang. Ketika tiba-tiba perempuan muda itu juga menoleh kearahnya dari jarak jauh dengannya.

Ia merasa mengenali perempuan itu. Tapi Muharman tidak ingat siapa nama dan dimana pernah bertemu.

"Hallo, bapak guru... " 

Perempuan muda itu sudah berdiri di samping Muharman seraya menyodorkan tangannya. 

Muharman agak menengadah menoleh dan menyambut uluran tangan perempuan muda yang menyapa dengan sebutan pak guru.

Tangan Muharman diraih dan punggung tangannya ditarik ke pipi perempuan itu. Muharman menduga perempuan dengan aroma wangi di sampingnya itu adalah mantan muridnya.

Ini dirasakan caranya menyalami layaknya Muharman disalami muridnya di sekolah atau dimana saja.

"Bapak sudah lupa dengan Aya, murid bapak dulunya?" ujarnya seraya duduk di kursi kosong di sebelah Muharman.

Muharman memperhatikan raut wajah perempuan muda itu.

"Wajahmu masih bapak ingat tapi namamu sudah lupa..." cetus Muharman kemudian.

"Rukayah, pak..."

"Oh... Iya, Rukayah. Bapak ingat sekarang. Aya, si murid pendiam, duduk di dekat pintu kelas dan jarang senyum?"

"Betul, pak...."

"Wah, kamu sudah jauh berubah sekarang, Aya..."

"Berubah bagaimana, pak...?"

"Dulu pendiam, kini ceria dan...." Muharman menggantung ucapannya.

"Ah, bapak bikin penasaran Aya. Dan... bagaimana, pak?"

Muharman tersenyum.

"Dan, makin cantik...hehe."

"Duh, bapak....masih seperti dulu, suka memuji murid-muridnya..." balas Rukayah malu.

"Ah, betul bapak begitu? Tapi benar kok, Aya jauh semakin cantik sekarang..."

"Hm, kenapa ibuk tidak diajak ke pesta ini, pak?" Rukayah mengalihkan persoalan.

Muharman tersedak. Terbatuk-batuk! Lalu meraih dan menyedot minuman botol plastik gelas.

"Kamu sendiri, mengapa sendirian dan tidak didampingi suamimu?" tanya Muharman kemudian.

Rukayah terdiam. 

Pertanyaan mantan gurunya ini memojokkan dirinya. Tapi berhadapan dengan mantan gurunya ini, Rukayah tidak punya alasan berbohong.

"Perjodohan kami tidak berlangsung lama, pak..." cetus Rukayah dengan suara pelan.

Meskipun hampir tidak kedengaran di sela-sela alunan musik organ tunggal, Muharman dapat menangkap perkataan Rukayah.

"Maafkan bapak ya, sudah mengundang kesedihanmu dengan pertanyaan bapak tadi..." ujar Muharman merasa bersalah.

Muharman menekuk wajah.

Rukayah tersenyum hambar seraya mengamati wajah gurunya yang tertunduk.

"Hm, Bapak belum menjawab pertanyaan Aya tadi..."

"Sulit menjelaskannya Aya..." sahut Muharman seraya mengangkat wajah dan memandang Rukayah.

"Jadi, isu yang Aya dengar tentang Bapak, benar ya, pak?"

"Aya! Kamu sudah mendengar semuanya tentang Bapak?" seru Muharman.

Rukayah mengangguk. "Maafkan Aya, Pak..."

"Ya, begitulah keadaan Bapak saat ini. Tapi, ya dijalani saja apa adanya. Bukankah begitu, Aya?"

"Iya, pak..." jawab Rukayah sembari manggut-manggut.

Rukayah memandang Muharman dari samping. Perhatian mantan gurunya itu kini tertuju pada artis pentas yang sudah mengakhiri lagu Bukan Tak Mampu.

Sedih dengan nasibnya sendiri tapi lebih sedih lagi mengetahui nasib mantan gurunya. 

"Seandainya usia pak Muharman tidak terpaut jauh, tentu saya akan bersedia mengobati luka di hatimu, pak..." Rukayah berkata membatin.

"Hai! Mengapa Aya melamun sambil memperhatikan Bapak? tegur Muharman ketika menoleh kembali pada Rukayah.

Rukaiyah jadi malu!***

0 Response to "Rukayah"

Posting Komentar