Dilematika hp di Tangan Siswa

Dilematika hp di tangan siswa - Ketika pembelajaran berlangsung dari jarak jauh. Siswa menerima materi setiap mata pelajaran dari rumah. Proses belajar dan mengajar berlangsung secara Daring.

Ilustrasi gambar (pexels.com)

Sistem belajar online yang diterapkan memerlukan fasilitas gadget, semisal android yang terkoneksi dengan jaringan internet.

Orangtua harus membekali anak dengan perangkat smartphone tersebut. Bagaimanapun caranya oleh orangtua, yang penting anak memiliki android untuk belajar!

Tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat smartphone. Fasilitas lain yang wajib ada adalah paket data! Perihal kesulitan pemenuhan fasilitas ini, pemerintah pun memberikan paket data gratis untuk siswa.

Namun ketika grafik kasus Covid-19 mulai melandai. Sekolah di wilayah tertentu dibolehkan menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) meskipun terbatas. 

Siswa tidak dibenarkan lagi membawa gadget android ke sekolah. Larangan membawa hp ke lingkungan sekolah kembali diterapkan. 

Penegakan disiplin sekolah itu tidak serta merta berjalan mulus. Masih kedapatan siswa secara diam-diam membawa hp android ke sekolah.

Bahkan guru di sekolah terpaksa mengadakan 'razia' hp. Tujuannya adalah meminimalisir dampak penggunaan hp selama belajar di sekolah. Misalnya, agar konsentrasi siswa tidak buyar, sebaliknya fokus belajar!

Fakta dilematis memang. Selama pembelajaran online, siswa sudah terbiasa belajar menggunakan android. Itu berlangsung cukup lama. 

Kemudian bermain game atau bermedia sosial melulu bagi anak yang malas belajar di rumah.

Ada yang sudah kecanduan main game maupun bermedia sosial.

Maka tidak mengherankan, jika siswa seperti ini diam-diam membawa hp ke sekolah. Disimpan dalam tas atau kantong celana. 

Jika luput dari pengawasan guru, saat pembelajaran berlangsung pun akan dimanfaatkan oleh siswa untuk membuka hp. 

Sekolah yang mulai menerapkan larangan membawa hp. Tidaklah membuat siswa kehabisan akal. Hp mereka sembunyikan dalam jok motor. Tindakan ini tentu membahayakan.

Paling tidak, mereka menitipkan hp pada tentangga di sekitar sekolah. Atau di tempat tertentu yang mungkin diluar jangkauan pengawasan guru.

Kemudian ketika ada kesempatan, mereka memainkan hp. Kesempatan dimaksud misalnya jam istirahat belajar. Kadangkala siswa terlambat masuk kembali belajar.

Boleh jadi mereka bolos belajar. Bolos belajar karena malas. Lalu menuju tempat dimana hp disembunyikan atau dititipkan.

Dapat dimaklumi, betapa susahnya mengubah kebiasaan memegang hp di kalangan sebagian kecil siswa. 

Oleh sebab itu perlu waktu. Guru di sekolah perlu menerapkan 'razia' secara berkesinambungan.

Sesungguhnya peran orangtua sangat penting dalam hal ini. Agar anak bijak menggunakan gadget serta mendukung disiplin sekolah dengan mengingatkan anak untuk tidak membawa hp ke sekolah.***