Menua Bersama (Tamat)

Menua bersama (tamat) - Dua puluh tujuh tahun silam. Pak Zulian yang masih bujangan, mengajar di sebuah sekolah swasta di kota Bukittinggi.

Ilustrasi gambar (pixabay.com)

Sang guru muda sangat dekat dengan seorang murid bernama Meliana. Diam-diam hubungan guru dan murid itu berubah menjadi hubungan istimewa.

Baca juga:

Dua Mantan (3)

Tetapi setahun kemudian Meliana menamatkan SMA-nya. Meliana tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Meliana menghilangkan diri entah kemana. Sampai suatu ketika pak Zulian muda menerima sepucuk surat dari seorang siswa.

"Pak, maafkan saya. Mungkin bapak kecewa dengan sikap saya karena tak berbicara apa-apa dan menghilang setelah tamat sekolah.

Saya menjauhkan diri dari bapak karena orangtua akan menikahkan saya dengan pria pilihan mereka. Saya takut bapak akan kecewa.

Sekali lagi maafkan saya, dan surat ini mungkin yang terakhir kali untuk kita..."

Begitu bunyi surat yang ditulis Meliana untuk pak guru muda Zulian...

'Hai...kok melamun?" Pak Zulian mengibaskan telapak tangan ke arah wajah Meliana.

Meliana gelagapan. "Tadi bapak juga melamun, bukan?"

"Hehe, iya ya?" pak Zulian tersipu. Lalu pak Zulian menatap Meliana.

"Tadi pagi kamu telah ngerjain saya, menyandera saya, tega benar ya?"

"Hm, maafkan saya, pak..." ujar Meliana.

"Tak apa-apa, tapi saya senang kok..." 

"Ceritakan dong tentang bapak sehingga sampai mengajar di kampung ini?" 

"Oke deh..." Pak Zulian mulai bercerita.

Setelah Meliana mengirim surat terakhir itu, pak Zulian menikah. Kemudian pindah mengajar ke suatu kabupaten yang jauh dari kota Bukittinggi karena diangkat jadi PNS.

Beberapa tahun kemudian pak Zulian pindah tugas lagi.

"Ya, bapak bertugas di kampung ini sampai sekarang," ujar pak Zulian mengakhiri ceritanya.

"Hm, ibuk bagaimana keadaannya, pak?" tanya Meliana.

Pak Zulian tersedak. Terbatuk-batuk seraya geleng-geleng kepala.

"Maaf pak. Sebenarnya saya sudah tahu semuanya tentang bapak," cetus Meliana.

Pak Zulian terkesima. "Airin yang cerita?"

"Iya, pak..."

"Sebenarnya maksud kamu ke kampung ini dan membawa saya ke tempat ini, apa ya?"

Meliana terdiam. Ada rasa kecewa terselip dihatinya dengan pertanyaan pak Zulian.

Namun kekecewaan itu lebur seketika tatkala Pak Zulian meraih kedua tangannya. Meliana tak ingin menarik tangannya dari genggaman pak Zulian.

Terdengar suara orang batuk-batuk yang sengaja dari pojok warung.

Pak Zulian menarik tangannya cepat melepaskan tangan Meliana.

Meliana tersenyum malu. 

"Bagaimana kalau kita sambung kembali tali yang dulu terputus, Meli?"

"Apa bapak masih mau, saya sudah tua dan punya cucu, pak?"

"Saya justru lebih tua dari kamu meskipun belum bermenantu..." tukas pak Zulian.

Meliana terdiam sejenak. Namun kemudian mengangguk.

"Sekarang saya nurut bapak saja..." ucap Meliana sembari menekur.

Pak Zulian merasa senang mendengar ucapan nenek muda sekaligus mantan muridnya itu.

"Kalau begitu, mari kita menua berdua, menjalani sisa hidup ini bersama..." sambung pak Zulian.

Dan, suara mantan gurunya itu, semakin berwibawa terdengar di telinga Meliana.*** (Tamat)