Dangau Ini Jadi Saksi Bisu

Ranti menepuk bahu Abdi. Memberi kode untuk berhenti. Abdi mengerem motor dan meminggirkan motor di pinggir jalan. Ranti turun dari jok boncengan.

Ilustrasi gambar (pixabay.com)

“Kok kesini?”

“Pokoknya abang ngikut saja deh...” ujar Ranti seraya berjalan, menuju simpang jalan kecil dan bersemak. Ia sudah hafal lokasi di sekitar itu.

Setelah memarkir motor agak jauh ke pinggir jalan, ia mengekor di belakang Ranti. Menuruni  jalan setapak yang ditumbuhi semak di kiri dan kanan.

Di ujung jalan setapak, permukaan tanah tidak lagi landai. 

Ranti berdiri di pinggiran sawah. Memandang ke arah barat. Hamparan sawah terbentang, terlihat menghijau dengan latar perbukitan. Langit siang jelang sore itu terlihat cerah membiru.

“Bagaimana, indah pemandangan disini, bukan?” tanya Ranti tanpa menoleh ke arah Abdi.

“Iya, benar Ranti. Abang suka pemandangan alam seperti ini,” sahut Abdi berkomentar.

“Ayo, kita jalan sedikit lagi ke dangau, itu milik orangtuaku. Kita beristirahat disana.” ujar Ranti.

Abdi kembali mengekor. Mereka sudah sampai di sebuah dangau kayu tanpa dinding di pinggiran sawah.

Abdi tertegun. 

“Ayo masuk, bang....” 

Ranti sudah duduk di lantai dangau yang rendah dan menurunkan kedua kakinya ke tanah.

Abdi segera duduk di samping Ranti.

“Kalau begini ceritanya, aku mau juga mengolah sawah disini...” cetus Abdi.

“Emangnya abang bisa turun ke sawah?”

“Bisa,”

Ranti terdiam sejenak. Meragukan kebenaran ucapan pria yang duduk di sampingnya itu.

“Kenapa diam? Tak percaya?” 

“Siapa yang mau percaya? Tak ada tampangnya abang itu bisa turun ke sawah. Kulitnya putih, tangannya halus.” tukas Ranti.

Abdi tersenyum.

“Ranti, sekarang memang aku terlihat hidup senang. Bekerja dengan pakaian rapi, tidak kena panas dan hujan...” ujar Abdi menghentikan ucapannya.

Lalu kembali melanjutkannya setelah ingat kisah hidupnya sebelum jadi pegawai negeri sipil.

“Dulu, sebelum jadi pegawai negeri, aku memang turun ke sawah. Habis, daripada menganggur usai menamatkan kuliah,” jelas Abdi.

“Jadi, abang pandai mencangkul?”

Abdi mengangguk.

“Menyabit padi?”

“Apalagi menyabit padi, pokoknya aku bisa mengolah sawah..."

Ranti terdiam.

“Lho? Kenapa diam? Masih belum percaya?”

Ranti tersenyum. 

“Sekarang aku percaya deh Abang. Tapi...?”

“Tapi apa, Ranti?” 

Abdi penasaran. Menyelidik raut muka ranti yang tertekuk.

“Apa Abang tidak minder atau gengsi punya teman seperti aku?”

“Kenapa mesti minder atau gengsi?”

“Aku tidak bersekolah tinggi, hanya tamat SMP. Sehari-hari lebih sering ke sawah membantu orangtuaku....”

“Ranti...!”

“Sedangkan Abang seorang pegawai negeri...”

“Stop!” Abdi melekatkan telunjuk ke bibir Ranti. “Jangan teruskan lagi...”

“Aku hanya bicara apa adanya dan... itu kenyataan, bang...”

“Oooh..., jangan-jangan, Ranti sedang berusaha mencari alasan untuk tidak menerima isi hati abang? Katakan saja, Ranti...” seru Abdi dengan suara bergetar.

Ranti mengangkat wajah cepat, memandang ke Abdi.

“Bang..., kalau hanya untuk menolak abang, tak perlu kita sampai ke sawah dan istirahat di dangau ini...”

“Hm, maaf Ranti...”

Ranti tersenyum.

“Jadi..., Ranti mau menerima abang?”

Ranti diam. Namun ia merapatkan duduk ke sisi Abdi. Meraih tangan Abdi lalu meletakkannya di pangkuannya.

Ranti mengangguk sambil tersenyum. Menyandarkan kepala di bahu Abdi.

“Dangau ini jadi saksi bisu kita jadian, bang...." gumam Ranti pelan.***