Menebus Kasih yang Tersandera

Rinto manggut-manggut sambil senyum dikulum. Ia dapat memaklumi keraguan Yana terhadap dirinya. Perempuan muda di hadapannya itu sudah pasti tidak mau dirinya dianggap sebagai pelakor.

Ilustrasi gambar (pixabay.com)

Rinto juga memahami kegagalan yang pernah dialaminya tidak ingin terulang kembali pada ibu muda dua anak tersebut.

“Bukannya aku keberatan mas...,” Akhirnya Yana buka suara sembari memainkan pipet plastik minuman di depannya dengan tangan kanan.

Lalu ia melanjutkan ucapannya. “Tapi aku hanya ragu dengan status mas Adi saat ini...,” tukas Yana.

Kembali Rinto menatap wajah Yana dengan mata agak dikecilkan. Ulah Rinto ini nyaris membuat Yana tertawa. Rinto terlihat lucu!

“Iya. Memang benar katamu. Statusku saat ini masih belum jelas, hitam-putihnya.... Apalagi saat ini aku masih tinggal serumah...”

“Kenapa mas Rinto tidak bisa, mengambil tindakan tegas terhadap istri mas...?”

Rinto terdiam.

“Itu artinya mas punya kesempatan untuk rujuk kembali. Atau, jangan-jangan masih mencintai istri mas” telak ucapan Yana.

Rinto tersedak. Kerongkongannya terasa kering dan sakit. Sesaat ia menyeruput jus alpukat di depannya.

“Yana...” Rinto nampak serius memandang wajah perempuan cantik di depannya. 

Pandangannya itu mengisyaratkan harapan agar Yana dapat memahami kondisinya saat ini.

“Iya..., aku paham sekarang. Naluriku mengatakan kalau situasi mas belum bisa berbuat apa-apa saat ini. Lagi pula aku sudah mendengar semuanya dari teman mas....” timpal Yana.

“Terima kasih pengertianmu, Yana...” ujar Rinto gembira. Ia ingin memegang tangan Yana yang putih berisi. Tapi urung dilakukannya.

“Bagaimana dengan anak perempuan mas...? Tadi mas bilang, kedua anak gadis mas sudah mengambil sikap terhadap kondisi mas saat ini,”

“Mereka menyerahkan semuanya padaku. Soalnya, mereka sudah tahu kalau mama mereka, tak mencintai dan bersikeras agar kami berpisah,” balas Rinto polos.

Yana sedikit lega mendengar penjelasan Rinto. Ia percaya penuh pada ucapan pria di hadapannya.

Dalam pikiran Yana semula, kedua putri mas Rinto yang sudah dewasa akan menjadi persoalan jika ia menerima mas Rinto kelak.

Oleh sebab itu ia telah bertekad untuk bernegosiasi agar kedua putrinya itu mau menerima dirinya sebagai ibu tiri.

Jika Rinto benar-benar serius, Yana akan membantunya keluar dari permasalahannya. 

Hatinya sungguh hiba dan lirih mendengar pengakuan mas Rinto. Selama bertahun-tahun tanpa diketahui pihak luar ia sangat tersiksa.

Itu bermula setelah gaji mas Rinto sudah tidak ada lagi karena membiayai pendidikan putra-putrinya.

Namun istri mas Rinto malah berubah pikiran. Bukannya membantu mencari jalan keluar dari persoalan dalam  memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ibarat peribahasa, kacang lupa kacang dengan kulitnya. Namun mas Rinto mengakui, telah mengikhlaskan keadaan yang menimpa dirinya itu. Ia pasrah.

Mas Rinto terpaksa memilih tinggal di rumah itu meskipun tidak sekamar dengan istrinya.

Mas Rinto bilang kalau ia belum punya bekal untuk keluar dan meninggalkan rumah itu.

“Mas, mau tidak, aku beri usul dan jalan keluar?” Tiba-tiba Yana menemukan suatu ide.

“Maksudmu?”

“Aku akan membantu mas, punya uang, agar mas bisa keluar dari permasalahanmu?”

“Oh, jangan Yana...!” seru Rinto cepat.

“Aku serius mas...,” gumam Yana agak kecewa.

“Aku hanya khawatir akan berhutang budi padamu....’”

“Tapi aku ikhlas mas..., “ tukas Yana.

Rinto terdiam.

"Jangan khawatir, mas. Aku serius dan ikhlas," tandas Yana memandang Rinto.

“Baiklah kalau begitu, Yana. Aku setuju dengan usulanmu...” sahut Rinto akhirnya memutuskan.

Yana tersenyum bahagia.

Ia hanya ingin membahagiakan mas Rinto dengan menerima pria itu apa adanya.

Dan..., menebus mas Rinto keluar dari sandera persoalannya, mungkin jalan terbaik untuk membahagiakan mas Rinto!

Semilir angin sore berhembus menyejukkan suasana.

Rinto bangkit dan membayar minuman ke kasir.

Dengan beraninya Rinto meraih tangan Yana. Melangkah memandang hamparan alam di hadapannya.***