Surprise Kecil untuk Pak Guru Dedi

Bel listrik terdengar meraung dari pengeras suara, pertanda waktu istirahat sudah habis. Saatnya siswa memulai kegiatan belajar berikutnya. Tidak begitu lama berselang murid sudah kembali berada di ruang kelas masing-masing. Begitu pula guru yang akan mengajar di setiap kelas, kecuali Pak Dedi!

Ilustrasi gambar (pexels.com)

Pak Dedi juga akan mengajar namun ia masih mencari-cari sesuatu di antara tumpukan buku yang ada di mejanya.

“Pak Dedi, ada jadwal mengajar sekarang, bukan?” ujar buk Aini dengan nada menegur.

Sejenak pak Dedi tertegun.

Bukannya ia tersinggung namun merasa heran saja dengan nada suara buk Aini barusan.

Tak pernah selama ini seorang guru muda seusia anaknya itu, begitu lancang menegur dirinya supaya masuk untuk mengajar.

“Iya, betul buk. Saya mau masuk ke kelas.” sahut Pak Dedi sembari  menoleh sekilas kepada buk Aini, sang guru piket.

Pak Dedi memperlambat langkah manakala sampai di koridor kelas yang akan diajarnya.

Ketika sampai di depan pintu kelas yang tertutup pak Dedi mengusap keningnya yang memang tak berkeringat.

Ia jadi heran. Pintu kelas tertutup. Tidak ada tanda-tanda di ruang kelas itu ada penghuninya. Sepi.

“Ada apa ini....?” Pak Dedi membatin. “Kenapa muridku seberani ini bolos seluruhnya?”

Pak Dedi dengan perlahan membuka handel tangan pintu ruang kelas. Ketika daun pintu terkuak perlahan, memang tak seorang pun siswa yang ada di ruang itu.

Pak Dedi mengedarkan pandangan mengamati ruangan itu. Yang ada hanya tas siswa, di atas meja siswa masing-masing.

Pak Dedi kaget ketika menoleh ke meja guru di ruang pojok depan kelas itu. Di atas meja terdapat kue tart mini.

Setelah menutup pintu kelas perlahan, pak Dedi melangkah mendekati meja guru. Menduduki kursi dengan mata tak luput dari kue ulang tahun yang ditaruh di atas meja.

Di atas kue tart terdapat barisan beberapa buah lilin kecil. Mata pak Dedi kini tertuju pada angka 55 yang tertancap di antara deretan lilin kecil.

Tiba-tiba pak Dedi menepuk jidatnya. Angka 55 itu mengingatkannya pada umurnya.

Tiba-tiba pintu kelas terkuak. 

Dari arah samping yang tidak terlihat dari dalam kelas. Siswa segera masuk satu per satu membentuk barisan satu berbanjar. Menyajikan lagu selamat ulang tahun.

“Selamat Ulang Tahun ya, pak. Semoga sehat selalu dan sisa umur jadi berkah...” ujar Muhrizal, sang ketua kelas.

“Terima kasih doanya, ya,” balas pak Dedi dengan suara berat karena merasa haru.

Kelas yang tadinya sepi berubah semarak oleh nyanyian dan tepuk tangan siswa.

Pak Dedi semakin haru ketika satu persatu siswa memberikan ucapan selamat ulang tahun.

Buk Aini, sang guru piket hari itu juga nongol di depan pintu kelas. Ia menyambung barisan siswa paling akhir siswa untuk mengucapkan selamat ulang tahun.

“Selamat Ulang Tahun ya pak Dedi. Maafkan saya tadi telah lancang  memerintahkan pak Dedi masuk kelas untuk mengajar,” ujar buk Aini.

“Haiiii...? Jadi, buk Aini telah ngerjain saya dan mengatur skenario ini?” seru pak Dedi.

“Iya, surprise kecil buat pak Dedi di ulang tahunnya bapak, tapi atas ide siswa di kelas ini, pak...” buk Aini jujur.

“Oke deh, tidak apa-apa buk Aini. Terima kasih buk Aini, terima kasih siswa semuanya...” ujar pak Dedi senang.***