Identifikasi Disimilaritas Individu Serta Implikasinya Terhadap proses pembelajaran

Identifikasi dismilaritas individu serta implikasinya terhadap proses pembelajaran - Penulisan artikel ini bertujuan untuk membahas beberapa aspek disimilaritas secara umum pada setiap individu berdasarkan faktor internal dan eksternal yang meliputi antara lain disimilaritas pada aspek: latar belakang sosial, biologis, psikologis, mental intelektual dan lain sebagainya serta implikasinya dalam proses pembelajaran di kelas.

Ilustrasi gambar (pixabay.com)

Penulisan artikel ini berdasarkan hasil riset kepustakaan (library research), yang bermaksud untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan disimilaritas individu dan implikasinya dalam proses pembelajaran di kelas.

Secara filosofis, manusia adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang.

Sejak ratusan tahun sebelum Nabi Isa As, manusia telah menjadi objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat manusia, maupun objek materiil manusia sebagai apa adanya manusia dan dengan berbagai kondisinya.

Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berfikir (homo sapiens), makhluk yang berbentuk (homo faber), makhluk yang dapat dibentuk (homo educandum), dan seterusnya, merupakan pandangan-pandangan tentang manusia yang dapat digunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan dilakukan terhadap manusia tersebut.

Berbagai pandangan tentang manusia tersebut membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks (Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono, 2008).

Manusia sebagai individu bukan berarti sebagai keseluruhan yang tidak dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yakni manusia perseorangan sebagaimana pengertian dari individu itu sendiri yang berasal dari bahasa Latin yang artinya tidak terbagi.

Kita sering mendengar sebuah ungkapan bahwa manusia itu individualis artinya manusia hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak mau berbagi dengan yang lain.

Manusia sebagai makhluk individu yang dapat mengalami kegembiraan atau kecewa akan terpaut dengan jiwa raganya.

Tidak hanya dengan mata, telinga, tangan, kemauan, dan perasaan saja akan tetapi dalam kegembiraannya manusia dapat mengagumi dan merasakan suatu keindahan, karena ia mempunyai rasa keindahan, rasa estetis dalam individunya. 

Setiap individu lazim memiliki ciri-ciri khas yang melekat dalam dirinya, sehingga memberikan identitas khusus, yang disebut kepribadian.

Tidak seperti kerumunan hewan yang tidak memiliki kepribadian dan akal, ternyata masyarakat yang juga dapat disebut sebagai kerumunan atau himpunan manusia dengan memiliki kepribadian yang menuntut setiap individu untuk: (a) Memiliki kedudukan dan peranan tertentu dalam lingkungannya; (b) Memiliki tingkah laku yang khas dan berbeda dari yang lain; (c) Memiliki sikap saling menghormati; (d) Memiliki sikap saling toleransi; (e) Memiliki sifat yang baik di masyarakat (Casram, 2016).

Layaknya manusia pada umumnya, peserta didik juga dipandang sebagai individu-individu yang berbeda.

Individu menunjukkan kedudukan peserta didik sebagai perseorangan atau personal. Oleh karena itu sebagai perseorangan, peserta didik memiliki sifat-sifat atau karakteristik yang menjadikannya berbeda dengan individu yang lain.

Perbedaan antar peserta didik dapat disebabkan oleh dua faktor utama yaitu internal dan eksternal. Dalam dunia pendidikan, perbedaan individual peserta didik merupakan hal penting yang perlu dipertimbangkan.

Segala bentuk kebijakan maupun pelaksanaan kegiatan belajar mengajar disekolah harus disesuaikan dengan karakteristik, bakat, kemampuan, kapasitas, gaya belajar, bahkan tingkat kecerdasan peserta didik.

Hal ini sejalan dengan pendapat Yeti dan Mumuh (2014: 72) yang menyatakan bahwa peserta didik dalam kegiatan pendidikan merupakan objek utama yang kepadanyalah segala yang berhubungan dengan aktivitas pendidikan dirujukkan.

Melalui uraian di atas, terlihat jelas bahwa perbedaan individual dalam peserta didik merupakan hal penting yang harus diketahui oleh pelaksana pendidikan terutama guru sebagai seorang pendidik karena adanya perbedaaan individual dalam peserta didik membawa implikasi terhadap pembelajaran yang dilakukan di sekolah.

Adapun faktor–faktor yang mempengaruhi dismilaritas individual dalam belajar di sekolah kebanyakan berasal dari faktor internal siswa dari pada eksternal.

Latar belakang sosial siswa seperti latar belakang keluarga dan teman-temannya adalah merupakan aspek dari faktor eksternal yang mempengaruhi perbedaan individual siswa dalam belajar.

Sedangkan faktor internal yang mempengaruhi perbedaan individual dalam belajar adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan biologis, mental intelektual/kognitif dan psikologis.

Aspek biologis meliputi kesehatan/kesegaran fisik dan alat indra (fungsi alat indra mata dan telinga) serta jenis kelamin dan gender.

Aspek mental intelektual terdiri dari kecerdasan/ intelegensi dan kognitif yang meliputi kemampuan mengenal/mengamati, berpikir, kemampuan mengingat serta faktor apersepsi (dasar pengetahuan/ pengalaman yang dimiliki siswa).

Aspek psikologis adalah kepribadian, sikap, minat, dan motivasi siswa terhadap belajar/pelajaran.

Ketiga aspek di atas, dari aspek biologis, aspek mental intelektual dan aspek psikologis adalah aspek yang banyak mempengaruhi dismilaritas individual dalam menerima pelajaran, sedangkan aspek-aspek yang akan mempengaruhi perbedaan individual dalam menyerap pelajaran adalah aspek psikologis dan aspek mental intelektual siswa.

Disimilaritas latar belakang

Perbedaan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing dapat memperlancar atau menghambat prestasinya, terlepas dari potensi untuk menguasai bahan.

Disimilaritas kesiapan belajar

Perbedaan latar belakang, yang meliputi perbedaan sosio-ekonomi, sosio-cultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak.

Akibatnya siswa-siswa pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat persiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.

Disimilaritas kecakapan motorik

Kecakapan motorik atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi gerakan syarat motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan.

Disimilaritas jenis kelamin dan gender

Istilah jenis kelamin dan gender sering dipertukarkan dan dianggap sama. Jenis kelamin merujuk kepada perbedaan biologis dari laki-laki dan perempuan, sementara gender merupakan aspek psikososial dari laki-laki dan perempuan berupa perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dibangun secara sosial budaya.

Perbedaan gender termasuk dalam hal peran, tingkah laku, kecenderungan, sifat, dan atribut lain yang menjelaskan arti menjadi seorang laki-laki atau perempuan dalam kebudayaan yang ada.

Disimilaritas kognitif

Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Setiap siswa memiliki persepsi tentang hasil pengamatan atau penyerapan atas suatu obyek.

Yang berarti ia menguasai segala segala sesuatu yang di ketahui, dalam arti dirinya terbentuk suatu persepsi, dan pengetahuan itu diorganisir secara sistematik untuk menjadi miliknya.


Disimilaritas kecakapan berbahasa

Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupan.

Kemampuan tiap siswa dalam berbahasa berbeda-beda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan pemikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis, dan sistematik.

Kemampuan berbahasa sangat di pengaruhi oleh aspek kecerdasan dan aspek lingkungan serta aspek biologis (organ bicara).

Disimilaritas bakat

Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan dan pemupukan secara tepat sebaliknya bakat tidak berkembang sama, maka lingkungan tidak memberikan kesempatan untuk berkembang dalam arti ada rangsangan dan pemupukan yang menyentuhnya.

Disimilaritas kepribadian

Kepribadian adalah pola perilaku dan cara berpikir yang khas yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan.

Kepribadian seseorang dapat kita tinjau melalui dua model yaitu model big five dan model brigg myers.

Secara psikologis, siswa mempunyai perbedaan dengan karakteristik mereka masing-masing.

Ada yang mudah tersenyum, ada yang pemarah, ada yang berjiwa sosial, ada yang egois, ada yang pemalas, ada yang bodoh, ada yang pintar, dan seterusnya.

Usaha pendidik mengatasi disimilaritas individu dalam pembelajaran

Berdasarkan penjabaran di atas, dalam progres proses belajar mengajar ada beberapa siswa dengan disimilaritas tiap-tiap individu (Chandra, 2013).

Disimilaritas tersebut normal terjadi dan tidak dapat dielakkan. Seorang pendidik yang baik, tidak dapat mengelak dari disimilaritas tersebut menganggap semua kecerdasan siswa adalah serupa.

Oleh sebab itu, diperlukan usaha untuk mengatasi disimilaritas tiap-tiap individu.

Usaha itu seperti cara membimbing yang beragam, usaha mengatasi disimilaritas antara siswa laki-laki dan perempuan di kelas dengan harapan pendidik menyampaikan pemahaman bahwa belajar matematika tidak hanya untuk siswa laki-laki.

Pendidik berlaku adil dengan tidak hanya berpihak pada siswa laki-laki saja, yaitu memberikan tanggung jawab kepada siswa perempuan untuk berpartisipasi dalam proses belajar mengajar.

Partisipasinya merupakan usaha untuk membantu siswa yang tidak paham tentang suatu pelajaran.

Jamaris Martini memodifikasi sebuah orientasi baru dalam psikologi pendidikan, mengatasi disimilaritas kompetensi siswa di dalam kelas dapat dilakukan dengan cara yang beragam dalam hal memberikan materi pembelajaran.

Siswa dengan IQ yang tinggi dapat menerima materi yang diajarkan dengan cepat. akan tetapi, siswa yang memiliki IQ dibawah rata-rata diperlukan dua kali pemahaman dalam proses pembelajaran.

Siswa memerlukan perlakuan khusus untuk mengatasi kesenjangan dengan siswa lainnya.

Pendidikan menguraikan materi pembelajaran untuk semua siswa, selanjutnya pendidik menyuruh siswa untuk mengerjakan soal-soal latihan yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Berikutnya pendidik memberikan pertanyaan kepada siswa jika materi yang disampaikan masih belum dipahami oleh siswa.

Usaha mengatasi ini dibutuhkan pemikiran yang matang dan metode yang tepat untuk berkomunikasi dengan siswa lain agar dapat menemukan jawaban benar.

Perlu diperhatikan bawah keinginan siswa yang satu terhadap siswa yang lainnya tidak boleh dipaksakan karena akan menjadi sebuah tekanan bagi mereka.

Pendidik hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk meningkatkan kompetensi mereka melalui pretasi yang dicapai.

Berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa disimilaritas tiap-tiap individu merupakan hal yang wajar ditemui dalam situasi yang tidak ditentukan.

Dalam hal ini perlakuan dan tanggung jawab baru lebih berguna dalam mengatasi disimilaritas tersebut.

Pendidik berlaku bijak dalam mengatasi usaha disimilaritas dengan kata lain pendidik bertindak dan berperilaku sesuai dengan ciri dan karakteristik yang relevan dengan apa yang diperlukan siswa serta memberikan perlakuan yang khusus pada siswa yang kurang.

Pendidik juga hendaknya memberikan materi pembelajaran yang relevan dengan disimilaritas pada tiap-tiap siswa.

Usaha mengatasi disimilaritas ini dapat dilakukan menggunakan penerapan mastery learning yang mengacu pada kualitas pembelajaran dengan kata lain pendidik dan siswa mencapai sebuah kesepakatan tentang waktu dan materi pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa.

Dalam hal ini kompetensi siswa diperlukan untuk berkomunikasi dengan materi pembelajaran yang diberikan kepada siswa. Dengan demikian, siswa yang belum paham diberi kesempatan untuk melakukan pengulangan terhadap materi yang sama.

Cara ini merupakan salah satu cara bagi pendidik untuk berkomunikasi dengan siswa sekaligus mengetahui cara berpikir siswa dalam sekolah maupun di luar sekolah.

Usaha mengatasi ini dapat dikatakan sukses karena telah melibatkan siswa dan guru melalui dua cara, yaitu kualitas pembelajaran mengacu pada diskusi kelompok dan partisipasi dalam bentuk pertanyaan oleh siswa.***

(Penulis : Nuhla Tazkiyyatu Tsaqifa (192.372.045), Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Kelas Internasional Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyyah Madani Yogyakarta Tahun Akademik 

Daftar Pustaka

Casram, C. (2016). Membangun Sikap Toleransi Beragama dalam Masyarakat Plural. Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama Dan Sosial Budaya, Volume 1 Nomor 2.

Dalila Turhusna dan Saomi Solatun. (2020). Perbedaan Individu dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Tangerang, Volume 2 Nomor 1.

 Djamarah, Syaiful Bahri. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Firmansyah. (2021). Analisis Perbedaan Individual dan Implikasi dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi. Volume 21 Nomor 3.

Isnaini, Nidya Fitri, Melisa, Arisco Mardiansyah, Hadi Purwanto. (2021). Perbedaan Individu: Intelegensi dan Bakat Serta Implikasinya dalam Pengajaran. Jurnal Dedikasi Pendidikan, Volume 5 Nomor 1.

Lin Aprilia, Sutaryadi, Tutik Susilowati. (2013). Penanganan Perbedaan Individual dalam Proses Pembelajaran Stenografi. Jurnal Ilmiah Universitas Sebelas Maret Surakarta. Nidawati, Variasi Individual dalam Pembelajaran. Jurnal Ilmiah UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Roni Rodiyana, Wina Dwi Puspitasari. (2021). Karakteristik dan Perbedaan Individu dalam Efektivitas Pendidikan. Jurnal Educatio. Volume 7 Nomor 3.

Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono. (2008). Perkembangan Peserta Didik, cet. 4. Jakarta: Rineka Cipta.

Wahidah. (2019). Memahami Perbedaan Individu Pembelajar dalam Proses Belajar Mengajar. At-Tarbawi: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Kebudayaan Volume 6 Nomor 2.

Yeti, H., & Mumuh, M. (2014). Manajemen Sumber Daya Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.