Kesulitan Belajar Siswa Broken Home

Kesulitan belajar siswa broken home - Dalam sebuah lingkungan sekolah terdapat berbagai macam latar budaya, sifat dan karakter dari setiap individu-individu yang berada di dalamnya. Mulai dari guru, siswa-siswi dan orangtua/wali siswa.

Banyak sekali ditemukan kasus seorang siswa yang dikeluarkan dari sekolah dengan alasan pembuat onar (trouble maker), tukang bolos dan hal-hal lain yang bersifat bertolak-belakang dengan sikap serta sifat ideal dari seorang siswa yang berpendidikan.

Sehingga funishment (hukuman), skorsing atau bahkan dikeluarkannya (DO/Droop Out) siswa adalah sebuah pilihan yang seakan diwajibkan atas siswa yang bersangkutan.

Hal tersebut di atas diperparah dengan sikap para orangtua/wali siswa yang kadang bersikap frontal dengan cara ikut memarahi atau memberi sangsi bagi sang anak.

Atau ada juga yang bersikap cuek tidak peduli seakan hal tersebut telah biasa terjadi. Kemudian masyarakat yang menjadi tempat di mana segala dinamika kehidupan berjalan pun ikut memberikan opini yang tidak kalah menghancurkan bagi kehidupan siswa yang bersangkutan. 

Dari sebuah judul tentang Kesulitan Belajar Siswa Broken Home, dapat diambil beberapa identifikasi permasalahan yang ada di dalamnya, antara lain; apa yang dimaksud kesulitan belajar siswa broken home, jenis-jenis kesulitan belajar, sebab-musabab kesulitan belajar, bagaimana pendekatan yang dapat dilakukan dan yang terakhir adalah bagaimana cara atau kiat dalam menanggulangi masalah tersebut secara berkesinambungan sehingga yang bersangkutan dapat berdiri di atas jalur belajar yang stabil dan terarah.

Pembahasan

Peserta didik yang dikatakan sebagai broken home pada dasarnya sehat secara fisik dan dalam kondisi yang secara kasat mata tidak ditemukan permasalahan.

Yang dimaksud broken home adalah latar belakang situasi keluarga yang tidak kondusif bahkan cenderung mengarah pada permasalahan yang mengakar dan mempengaruhi segala aspek kehidupan dalam sebuah keluarga.

Hal yang demikian jelas sangat mempengaruhi dari sisi psikologis peserta didik, di mana akan dirasakan sebuah tekanan dan guncangan yang hebat dalam diri peserta didik, khususnya apabila sebuah permasalahan keluarga yang menimbulkan perpecahan, perceraian atau kematian salah satu anggota keluarga.

Maka kesulitan belajar yang didasari oleh permasalahan keluarga atau broken home adalah keadaan dimana seorang peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya dikarenakan adanya permasalahan yang bersifat intern dalam keluarga dan berdampak.

Permasalahan yang seperti ini memang tidak begitu mendasar secara umum dan terlihat sebagai permasalahan yang berasal dari luar diri peserta didik, sehingga ada sebuah kecenderungan pandangan bahwasanya hal tersebut hanya merupakan masalah personal yang terlalu dibesar-besarkan.

Dilain sisi persoalan dalam keluarga atau rumah tangga kerap dianggap sebagai sebuah bentuk kegagalan dalam membentuk sebuah perencanaan dalam hidup, sehingga timbul gejolak yang akan berujung pada berbagai macam permasalahan dan perpecahan.

Jenis-jenis kesulitan belajar yang kerap menghinggapi peserta didik yang berlatar broken home dan yang merupakan hasil pengamatan antara lain :

-Kurangnya konsentrasi dalam mengikuti kegiatan belajar

-Seringnya berulah/nakal/ribut di dalam proses kegiatan belajar

-Jatuhnya prestasi belajar secara signifikan

-Labilnya kondisi emosional peserta didik di dalam keseharian dan dalam kegiatan belajar

-Hilangnya Mood atau keinginan yang memacu diri untuk belajar

-Adanya kecenderungan berperilaku menyendiri/mengasingkan dan tertutup terhadap orang lain, baik itu guru, siswa dan orang tua.

Dari beberapa jenis temuan di atas terlihat bahwasanya, pada kasus siswa yang berlatar broken home kesulitan belajar yang dialami tidak tahu bukan didasari oleh sisi kemampuan intelektualnya melainkan pengaruh lingkungan keluarga (ekstern) dan pada akhirnya berdampak pada penurunan prestasi akademik, tingkah laku, emosional dan secara menyeluruh yang akhirnya mempengaruhi diri seorang peserta didik.

Namun demikian tidak menutup kemungkinan seorang siswa/peserta didik yang berlatar broken home dapat memiliki intelegensi yang baik dan prestasi yang membanggakan pula, hal yang demikian bersifat kasuistik dan hanya terjadi pada orang yang memiliki mental dan dasar ketetapan psikologis yang kuat dan ditopang oleh pemikiran yang rasional positif, sehingga apa pun yang terjadi dalam kehidupan keluarganya tidak akan mempengaruhi dari aktivitas akademiknya.

Dari berbagai indikasi yang dapat ditemukan dari siswa yang mengalami masalah atau kesulitan dalam belajar dengan berlatar belakang broken home, dapat ditemukan beberapa faktor penyebab, antara lain :

-Pertengkaran dalam rumah tangga (orang tua)

-Perceraian dalam rumah tangga (orang tua)

-Adanya kepergian atau kematian dari salah satu anggota keluarga atau orang terdekat.

-Permasalahan rumah tangga (perselingkuhan, kriminalitas, perebutan harta, dll) yang diketahui oleh anak (siswa). 

Setelah mengetahui penyebab dari terbentuknya sisi broken home pada peserta didik maka tentu wajib untuk dicari kemudian dirumuskan tindakan yang dapat diambil, sebagai sebuah solusi dan penyelesaian atas sebuah permasalahan yang berimplikasi pada hal-hal yang bersifat menghambat dari sebuah perkembangan peserta didik, baik secara akademik maupun non akademik.

Kemudian pendekatan atau tindakan yang dapat dilakukan pada kasus siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan latar broken home itu antara lain :

-Melakukan identifikasi dari permasalahan yang dialami oleh peserta didik. Di mana seorang tenaga pengajar/Guru harus melatih kepekaan dan selalu bersikap welcome terhadap informasi-informasi yang ada, terkait dengan permasalahan personal internal peserta didik.

-Melakukan pendekatan secara personal pada siswa dan orang tua. Maksudnya di sini adalah adanya upaya dari para tenaga pengajar/Guru untuk lebih terjun ke dalam permasalahan peserta didik, meskipun tidak secara langsung berada dalam situasi yang ada dalam keluarga. Di sini Guru berperan sebagai tempat curhat dan motivator pembangun dari semangat dan keyakinan peserta didik yang bermasalah lebih jauh kemudian seorang guru dapat berbicara langsung pada orang tua siswa, dalam bentuk sharing dan hearing, dengan catatan tetap berdiri sebagai seorang yang moderat atau fasislitaor dalam menanggulangi permasalahan yang ada.

Setelah melakukan berbagai tindakan/pendekatan terhadap masalah kesulitan belajar siswa dengan latar belakang broken home, maka selanjutnya akan dirumuskan beberapa kiat yang dapat dilakukan sebagai sebuah bentuk antisipasi dan penanggulangan terhadap permasalahan kesulitan belajar siswa, yakni :

-Menanamkan dasar yang kuat dalam diri peserta didik sehingga memunculkan sikap tegar dan tabah dalam menghadapi sebuah masalah atau cobaan. Dalam hal ini erat kaitannya dengan sisi spiritual/religius/keagamaan.

-Membangun komunikasi yang rileks dan enjoy sehingga siswa dapat dengan leluasa untuk bercerita tentang persoalan pribadinya

Membuat sebuah wadah atau forum yang memberikan kesempatan pada siswa untuk berdiskusi secara jujur dan terbuka terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi, sehingga timbul adanya sebuah bentuk kepercayaan dalam sebuah komunitas yang saling mendukung satu sama lain. Semisal pertemuan, kajian muda-mudi, taushiyah rutin, dsb.

-Menanamkansecara terus menerus sebuah bentuk arahan yang mengarah pada pendewasaan peserta didik, sehingga kematangan secara pemikiran dapat menguatkan diri dari siswa tersebut

Kesimpulan

Kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik dengan latar belakang broken home, pada dasarnya berasal dari faktor luar/ekstern akan tetapi dampak yang timbul adalah adanya indikasi terhadap sisi intern siswa dimana seorang peserta didik akan terlihat mengalami sebuah gangguan terutama dari sisi mental psikologis siswa tersebut yang berujung pada terhambatnya sebuah proses akademik, bahkan mungkin pada tingkatan yang lain akan mengarah pada terhentinya sebuah proses akademik dikarenakan tidak adanya lagi semangat atau kemampuan untuk belajar dan menuntut ilmu.

Jenis-jenis dari kesulitan belajar siswa dengan latar belakang broken home ini bervariasi, tergantung pada sisi mental dan psikologis siswa tersebut, yang di antaranya adalah adanya sikap trouble maker/pembuat onar, melamun, tidak dapat berkonsentrasi, sangat agresif, emosi yang meluap-luap, dsb.

Sebab-sebab dari gangguan belajar siswa dengan latar broken home sendiri pun bervariasi, namun yang perlu di ingat bahwasanya semua sebab berasal dari lingkup rumah atau keluarga, baik itu dalam hal ekonomi atau hubungan sosial dalam keluarga tersebut.

Penaggulangan dari permasalahan tersebut tentunya datang dari pengajar/guru, orangtua dan peserta didik itu sendiri, di mana semua harus berperan aktif dalam menggapai sebuah perubahan kerah yang lebih baik dengan cara nasihat, tindakan, bantuan secara moral, maupun materi. Dan penekanan yang lebih jelas adalah harus adanya sebuah usaha untuk mencapai sebuah perubahan.

Ketajaman analisis dan kepekaan intelektual serta emosional mutlak diperlukan seorang pengajar/guru, sehingga dalam menghadapi berbagai persoalan siswa dapat memberikan sebuah langkah penyelesaian baik sebagai fasilitator atau sebagai seorang mediator, namun tidak melepaskan sisi profesionalitas sehingga kredibilitas seorang guru tetap terjaga dan kinerjanya pun tetap maksimal.***

Penulis : Intan Cahya 

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, M. 2017. Perilaku Sosial Anak Remaja. https://jurnal.ar-raniry.ac.id

diakses 25 Mei 2022

Imam, Ma’rif M. 2020. Kesulitan Belajar Pada Siswa Broken Home.

https://mahasiswaindonesia.id/kesulitan-belajar-pada-siswa-broken-home/ diakses 25 Mei 2022.

Imam, Muhammad. 2021. Pengaruh Keluarga Dalam Pertumbuhan Anak.

Gantulangi, W. 2018. Dampak Keluarga Pada Prestasi Belajar Siswa.

https://ejurnal.pps.ung.ac.id diakses 25 Mei 2022

Gumilang, M Randi. 2021. Kesulitan Belajar Pada Siswa Broken Home.

https://pdfcoffee.com/qdownload/artikel-psikologi-pendidikan-pdf-free.html.

diakses 25 Mei 2022

Roy Novianto, Arazi Zakso, Izhar Salim. 2018. Analisis Dampak Broken Home

Terhadap Minat Belajar Siswa SMA Santun Pontianak. https://jurnal.untan.ac.id

diakses 25 Mei 2022

Sholihah, N. 2020. Perilaku Keagamaan Peserta Didik Dalam Keluarga. Jurnal

Ilmu Pendidikan Islam. Vol.04. https://journalfai.unisla.ac.id diakses 25 Mei

2022

Purnaningsih, Felisitas. 2017. Motivasi Belajar Remaja yang Mengalami

Broken Home. https://repository.usd.ac.id Diakses 25 Mei 2022

Sari, DP. 2021. Dampak Keluarga Broken Home Terhadap Aktivitas.

https://repository.amsu.ac.id diakses 25 Mei 2022

Wiwin. 2019. Peranan Guru dalam Mengatasi Siswa. https://core.ac.uk diakses

25 Mei 2022