Pentingnya 'Self-Management' untuk Mengurangi Kecenderungan 'Misbehavior' Peserta Didik

Pentingnya 'self-management' untuk mengurangi kecenderungan 'misbehavior'

 peserta didik - Perilaku sosial peserta didik yang dinilai tidak tepat pada situasi tertentu dimana perilaku tersebut muncul sehingga mengganggu proses pembelajarannya, dapat disebut sebagai misbehavior.

Ilustrasi gambar (pixabay.com)

Perilaku ini dapat mengurangi waktu pembelajaran, bahkan merusak kepuasan kerja guru.

Salah satu cara untuk mengurangi masalah ini adalah dengan memberikan strategi untuk merubah perilaku peserta didik tersebut, yaitu self-management.

Self-management merupakan strategi untuk merubah tingkah laku ataupun kebiasaan yang dilakukan oleh seorang individu dalam bentuk latihan pemantauan diri, pengendalian rangsangan, dan pemberian penghargaan pada diri sendiri.

Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui seberapa pentingnya self-management dalam menurunkan kecenderungan peserta didik dalam melakukan misbehavior pada saat pembelajaran di dalam kelas.

Sekolah merupakan suatu lembaga formal yang memberikan fasilitas bagi siswanya untuk dapat mengembangkan potensi diri mereka.

Sekolah memiliki peran yang penting setelah keluarga untuk membantu anak, tidak hanya di bidang akademik, namun juga dari segi moral, agama, emosional, dan kemampuan sosial mereka.

Menurut Sabdulloh (2010:12) sekolah dapat diartikan sebagai lingkungan pendidikan yang secara sengaja dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan ketat seperti harus berjenjang dan berkesinambungan, sehingga disebut pendidikan formal, dan sekolah adalah lembaga khusus, suatu wahana, suatu tempat untuk menyelenggarakan pendidikan, yang di dalamnya terdapat suatu proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Perilaku yang ditunjukkan oleh siswa-siswi di dalam kelas dan mengarah kepada bentuk pelanggaran bisa dikategorikan sebagai suatu perilaku yang tidak baik atau perilaku misbehavior. 

Terdapat beberapa contoh fenomena perilaku misbehavior yang terjadi di lingkungan sekolah yaitu seperti hasil penelitian Campbell, Rodriques, Anderson dan Barnes (2013) yang menemukan bahwa 35,8% dari siswa berperilaku mengganggu ketika di dalam kelas.

Dikutip dari USA Today, bahwa persentase siswa yang menghormati Gurunya turun dari 79% menjadi 31%.

Kemudian hasil wawancara yang dilakukan oleh Metropolitan Life Survey of the American Teacher (MLSAT) (dalam Wicaksono, 2013).

Pada 1000 guru, 1234 siswa, dan 100 polisi, didapatkan hasil bahwa mereka setuju Perilaku mengganggu, kenakalan atau perilaku yang tidak pantas, dan siswa yang agresif membuat kedisiplinan dan pembelajaran di kelas menjadi tidak kondusif dan kekerasan di sekolah dapat menekan konsentrasi belajar peserta didik di sekolah.

Misbehavior dapat didefinisikan sebagai perilaku anak yang mengganggu pembelajaran, baik dari materi akademik ataupun perilaku sosial.

Charles (1999), mendefinisikan misbehavior adalah perilaku yang dianggap tidak sesuai pada Situasi tertentu ketika perilaku itu muncul.

Kemudian Kyriacou (1997), mendefinisikan perilaku misbehavior siswa sebagai perilaku yang merusak kemampuan guru untuk membentuk dan mempertahankan kegiatan belajar yang efektif di kelas.

Misbehavior didalam kelas dapat mengganggu atmosfer kelas dan proses belajar mengajar, serta menghalangi siswa ataupun guru untuk mencapai tujuan mereka dan mengarahkan kepada masalah menejemen waktu.

Faktor-faktor yang menyebabkan siswa melakukan misbehavior

Yuan dan Che (2012) menyatakan bahwa terdapat tiga faktor yang penyebab siswa melakukan perilaku misbehavior, yaitu :

a) Siswa itu sendiri, dimana siswa menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan karena mereka merasa lebih diperhatikan dibandingkan ketika mereka menunjukkan perilaku yang menyenangkan dan siswa tidak mendapatkan penghargaan dari guru ketika mereka bisa menunjukkan perilaku yang baik.

Selain itu, siswa merasa bosan dan kehilangan minat dengan pelajaran juga menjadi penyebab utama munculnya perilaku misbehavior.

b) Guru, perilaku misbehavior yang ditunjukkan oleh siswa bisa jadi merupakan reaksi mereka terhadap perilaku guru yang tidak dapat diterima oleh siswa tersebut.

Perilaku guru yang dimaksud adalah seperti guru yang membosankan, guru yang kurang disiplin, ataupun guru yang suka membanding-bandingkan siswanya.

c) Lingkungan, masalah perilaku pada siswa di dalam kelas tidak bisa dipisahkan dari faktor yang berasal dari masyarakat atau lingkungan.

Anak belum memiliki penilaian yang benar tentang perilaku yang benar dikarenakan usia dan pengalaman sosial biasanya cenderung meniru perilaku disekitar mereka, yang dapat dijelaskan sebagai teori belajar sosial.

Dari teori belajar sosial ini sangat mudah untuk mengetahui bahwa anak yang melihat kekerasan dari televisi, dapat dikaitkan dengan perilaku agresif yang mungkin muncul.

Selain itu keluarga dapat memainkan peran penting dalam terbentuknya perilaku buruk pada anak.

Anak yang berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi rendah, anak dari keluarga single parent, kurangnya menejemen di dalam rumah, kurangnya pengawasan orangtua, dan kurangnya interaksi dengan keluarga biasanya menyebabkan siswa menunjukkan masalah perilaku.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menindaklanjuti perilaku misbehavior

Yuan dan Che (2012) juga menjelaskan tiga cara yang dapat digunakan untuk menindaklanjuti perilaku misbehavior pada siswa, yaitu :

1) Guru lebih baik mencegah perilaku misbehavior dibanding memperbaiki perilaku siswa yang tidak baik.

2) Guru menjelaskan peraturan di dalam kelas atau kontrak belajar pada pertemuan pertama siswa dan guru.

3) Guru mencari tau alasan penyebab terjadinya perilaku misbehavior pada siswa, kemudian memberikan penanganan sesuai dengan masalah yang dihadapi siswa.

Guru dapat menggunakan penghargaan dan hukuman, dimana hukuman diberikan ketika siswa menunjukkan perilaku misbehavior, sedangkan penghargaan diberikan ketika siswa melakukan perilaku yang diinginkan guru.

Pemberian penghargaan dan hukuman sekecil apapun akan memberikan peran yang besar dalam mengarahkan perilaku siswa dalam kelas.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa misbehavior adalah perilaku siswa yang tidak sesuai dengan situasi dan biasanya dapat mengganggu pembelajaran, serta mengganggu kemampuan guru untuk dapat mempertahankan pembelajaran yang efektif dan kondusif. 

Faktor yang mempengaruhi perilaku ini dapat disebabkan dari siswa sendiri, guru, dan juga lingkungan sekitar siswa, seperti keluarga.

Self management

Self-management merupakan istilah yang umum dipakai untuk menggambarkan kemampuan individu dalam mengorganisir kapasitas-kapasitas mental dalam mencapai tujuan (goal).

Dalam kajian psikologi, istilah yang lebih tepat menggambarkan self-management adalah self-regulation atau pengaturan diri yang dikemukakan oleh Albert Bandura, untuk mendeskripsikan bahwa manusia dapat berpikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri; sehingga mereka bukan semata-mata menjadi objek pengaruh lingkungan 

(Retnowati, 2014). Kemampuan regulasi diri merupakan kemampuan yang dimiliki oleh setiap manusia, yang perlu dikembangkan dan diarahkan, karena perilaku yang dihasilkan oleh regulasi diri ini tidak bisa terjadi secara alamiah.

Dalam usaha memodifikasi perilaku diperlukan kontrol pada pengambilan keputusan dan tindakan-tindakan.

Menurut Frayne & Geringer (2000) seseorang yang memiliki self-management yang efektif, maka individu tersebut akan dapat mencapai tujuan yang dicapai.

Hal ini karena individu yang memiliki manajemen yang efektif akan mampu memaksimalkan potensi-potensi dirinya baik potensi dari dalam maupun dari luar dirinya. 

Strategi self-management adalah strategi perubahan tingkah laku atau kebiasaan dengan pengaturan dan pemantauan yang dilakukan oleh individu itu sendiri dalam bentuk latihan pemantauan diri, pengendalian rangsangan serta pemberian penghargaan pada diri sendiri (Ratri, 2011). 

Secara teori, model self-management menekankan pada pentingnya tiga kunci yang saling berhubungan yaitu: individu memonitor perilaku mereka, mengevaluasi performa mereka, dan menggunakan informasi apa saja yang mereka dapatkan untuk mengatur perilaku mereka di masa depan.

Menurut Rahmadani (2011), prosedur self-management terdiri dari kombinasi antara self-monitoring (dikenal juga dengan self-observation), selfrecording, self-evaluation dan self-reinforcement atau self-punishment.

Tujuan dari strategi self-management adalah agar individu secara teliti dapat menempatkan diri dalam situasi-situasi yang menghambat tingkah laku yang hendak mereka hilangkan dan belajar untuk mencegah timbulnya perilaku atau masalah yang tidak dikehendaki.

Dalam artian individu dapat mengelola pikiran, perasaan dan perbuatan mereka sehingga mendorong pada penginderaan terhadap hal-hal yang tidak baik dan peningkatan terhadap hal-hal yang baik dan benar (Amin, 2017).

Program self-management ini sangat menarik, karena dapat memberikan tanggung jawab kepada anak untuk merubah perilaku mereka, mendorong keterlibatan yang aktif dalam proses pembelajaran,dan mendorong keterampilan yang dapat digunakan anak-anak sepanjang hidup mereka.

Selain itu, self-management mudah dilakukan, mudah diadaptasi untuk digunakan secara individu, dan dapat mengatasi berbagai perilaku target yang tidak baik.

Cormier dan Cormier (2009) mengungkapkan beberapa kelebihan strategi self-management diantaranya yaitu :

1) Penggunaan strategi pengelolaan diri dapat meningkatkan pengamatan seseorang dalam mengontrol lingkungannya serta dapat menurunkan ketergantungan seseorang pada konselor atau orang lain;

2) Strategi pengelolaan yang murah dan praktis;

3) Strategi pengelolaan diri mudah digunakan;

4) Strategi pengelolaan diri menambah proses belajar secara umum dalam berhubungan dengan lingkungan baik pada situasi bermasalah atau tidak.

Adapun efek positif dari self-management adalah meningkatkan perhatian, meningkatkan produktivitas akademik, dan mengurangi perilaku mengganggu di dalam kelas.

Maka Dapat disimpulkan bahwa self-management adalah strategi yang sangat bagus yang dapat digunakan oleh setiap individu(siswa) dalam mengendalikan dirinya sendiri untuk menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan, dengan menggunakan beberapa kombinasi 

strategi seperti membuat goal setting, pemantauan terdahap perilakunya sendiri, membuat catatan terhadap perilakunya dan juga pemberian penguatan pada diri sendiri.

Hubungan self-management terhadap kecenderungan misbehavior

Beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan strategi self-management dalam berbagai tingkat setting pendidikan berhasil menunjukkan bahwa strategi ini efektif dalam mengurangi masalah perilaku, seperti diseruptive behavior dan memperkuat berbagai perilaku positif dalam kelas.

Seperti yang dijelaskan oleh Charles (2005), bahwa anak yang memasuki usia 9-11 tahun, ketika mereka memasuki jenjang kelas 4, siswa akan lebih mandiri dan sudah menyadari perlunya peraturan, strategi ini sesuai karena siswa akan mengatur perilakunya secara mandiri terhadap peraturan yang ditentukan, untuk bisa mendapatkan penguatan yang mereka inginkan, seperti yang telah dijelaskan bahwa model self-management menekankan pentingnya tiga kunci yang saling berhubungan: individu memonitor perilaku mereka, mengevaluasi performa mereka, dan menggunakan informasi apa saja yang mereka dapatkan untuk mengatur perilaku mereka di masa depan.

Self-Management juga harus digunakan bersamaan dengan strategi penguatan, dimana hal tersebut sangat penting agar siswa fokus pada perilaku yang sesuai ketika melakukan self-management (National Center on Intensive Intervention, 2016).

Selain itu, Yuan dan Che (2012), mengungkapkan guru dapat menggunakan penerapan penghargaan dan hukuman, dimana pemberian penghargaan dilakukan ketika siswa tidak menunjukkan perilaku misbehavior dan menunjukkan perilaku yang diinginkan oleh guru. 

Monica and Gani (2016), mengatakan kemampuan mengatur diri dapat mencegah individu dari keadaan malas atau penyimpangan kepribadian.

Penelitian oleh Briesch dan Daniels (2013), mengenai penggunaan self-management yang diterapkan secara individu pada tiga siswa Afrika dan Amerika di suatu lingkungan sekolah menengah di perkotaan, dengan meminimalkan manajemen dari guru kelas berhasil menunjukkan peningkatan on-task behavior pada tiga siswa tersebut.

Selain itu, penggunaan strategi self-management ini dapat digunakan pada seluruh kelas. Siswa akan mencatat dan mengevaluasi perilaku mereka sendiri serta perilaku seluruh kelas berdasarkan peraturan kelas.

Hasil yang di dapatkan adalah menurunnya perilaku buruk pada siswa yang ditargetkan dan penurunan umum pada perilaku mengganggu di kelas, disamping itu self-management juga sangat berpengaruh dan berperan penting dalam meningkatkan prestasi belajar para peserta didik.***

(Penulis: Mifta Nuljannah, mahasiswi STIT Madani Yogyakarta)