Teori Kognitif dan Implikasinya dalam Pembelajaran

Teori kognitif dan implikasinya dalam pembelajaran - Alasan penulisan judul ini ialah bahwasannya teori ini merupakan teori yang paling sulit dipraktikan dalam kehidupan nyata, namun sangat berguna bagi peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga saya ingin mengupas lebih dalam judul ini.

Teori Kognitif dalam pembelajaran (Matrapendidikan.com)

Definisi “Cognitive” berasal dari kata “Cognition” yang mempunyai persamaan dengan “knowing” yang berarti 'mengetahui'. Dalam arti yang luas kognition/kognisi ialah perolahan penataan, penggunaan pengetahuan (Muhibbin, 2005: 65). 

Definisi Kognitivisme atau  teori belajar kognitif adalah teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Tokoh-tokoh Kognitivisme yaitu Jean Piaget, Jarome Bruner, Ausebel dan Robert M. Gagne.

Aplikasi teori kognitivisme dalam pembelajaran

Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual dan proses internal. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. 

Kelebihan dan kelemahan teori kognitivisme

Kelebihannya yaitu : (a) menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri; (b) membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.

Kekurangannya yaitu : (a) teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan; (b) sulit di praktikkan khususnya di tingkat lanjut; (c) beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.

Ada 3 teori belajar yang beritik tolak dari teori kognitivisme, yaitu teori perkembangan Piaget, teori kognitif Brunner dan teori bermakna Ausubel.

Dari ketiga macam teori di atas jelas masing-masing mempunya implikasi yang berbeda, namun secara umum teori kognitivisme lebih mengarah pada bagaimana memahami struktur kognitif siswa, dan ini tidaklah mudah.

Dengan memahami struktur kognitif siswa, maka dengan tepat pelajaran bahasa disesuaikan sejauh mana kemampuan siswanya.

Dalam teori ini ada dua bidang kajian yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar, yaitu (Suyono, el. 2011: 75): 

1.Belajar tidak sekedar melibatkan stimulus dan respon tetapi juga melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks.

2.Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.

Menurut psikologi kognitivistik, belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti sesuatu dengan jalan mengaitkan pengetahuan baru kedalam struktur berfikir yang sudah ada.

Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Sehingga, pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sangat menentukan keberhasilan mempelajari informasi pengetahuan yang baru (Muhaimin, dkk. 2012: 198).

Implementasi Teori Balajar Psikologi Kognitif dalam Pembelajaran

Di atas sudah disinggung bahwa ada 3 teori belajar yang bertitik tolak dari teori kognitivisme ini yaitu: Teori perkembangan Piaget, teori kognitif Brunner dan Teori bermakna Ausubel.

Ketiga tokoh teori penting ini yang dapat mengembangkan teori belajar kognitif (Ahmadi, el. 2015: 35).

Teori Kognitif Piaget Brunner Ausubel, Proses belajar terjadi menurut pola tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umur siswa.

Jean Piaget mengemukakan bahwa proses belajar akan terjadi apabila ada aktivitas individu berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan dan perkembangan individu merupakan suatu proses sosial.

Menurut Piaget, pengetahuan dibentuk oleh individu melalui interaksi secara terus menerus dengan lingkungan.

Ada empat tahap perkembangan kognitif menurut Piaget, yaitu :

a. Tahap sensorimotor (usia 0-2 tahun).

Individu memahami sesuatu atau tentang dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensoris, (seperti melihat, dan mendengar) dan dengan tindakan-tindakan motorik fisik.

Dengan kata lain, pada usia ini individu dalam memahami sesuatu yang berada di luar dirinya melalui gerakan, suara atau tindakan yang dapat diamati atau dirasakan oleh alat inderanya. Selanjutnya sedikit demi sedikit individu mengembangkan kemampuannya untuk membedakan dirinya dengan benda benda lain.

b. Tahap pra-operasional (usia 2-7 tahun). 

Individu mulai melukiskan dunia melalui tingkah laku dan kata-kata. Tetapi belum mampu untuk melakukan operasi, yaitu melakukan tindakan mental yang diinternalisasikan atau melakukan tindakan mental terhadap apa yang dilakukan sebelumnya secara fisik.

Pada usia ini individu mulai memiliki kecakapan motorik untuk melakukan sesuatu dari apa yang dilihat dan didengar, tetapi belum mampu memahami secara mental (makna atau hakekat) terhadap apa yang dilakukannya tersebut.

c. Tahap operasional konkret (usia 7-11 tahun).

Individu mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian yang bersifat konkret. Individu sudah dapat membedakan benda yang sama dalam kondisi yang berbeda.

d. Tahap operasional formal (11 tahun ke atas). 

Sementara Salvin menjelaskan bahwa pada operasional formal terjadi pada usia 11 sampai dewasa awal.

Pada masa ini individu mulai memasuki dunia “kemungkinan” dari dunia yang sebenarnya atau individu mengalami perkembangan penalaran abstrak.

Individu dapat berpikir secara abstrak, lebih logis dan idealis. Kecepatan perkembangan setiap individu melalui urutan, dan setiap tahap tersebut berbeda dan tidak ada individu yang melompati salah satu dari tahap tersebut.

Piaget membagi proses belajar kedalam tiga tahapan yaitu (Nurhadi, 2018: 13; Winfred F Hill, 2010: 157): 

1. Asimilasi

Proses pengintgrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada (John, 1969: 9).

Contoh : seorang siswa yang mengetahui prinsip-prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka terjadilah proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dipahami oleh anak) dengan prinsip perkalian (informasi baru yang akan dipahami anak) (Nugroho, 2015: 295). 

2. Akomodasi

Proses penyesuaian antara struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Penerapan proses perkalian dalam situasi yang lebih spesifik (Wijayanti, 2015: 85).

Contohnya : siswa telah mengetahui prinsip perkalian dan gurunya memberikan sebuah soal perkalian (Georgia (2010: 254). 

3. Equilibrasi

Proses penyesuaian yang berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Hal ini sebagai penyeimbang agar siswa dapat terus berkembang dan menambah ilmunya.

Tetapi sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya, maka diperlukan roses penyeimbang (Wijayanti, 2015: 86).

Tanpa proses ini perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tidak teratur, sedangkan dengan kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu menata berbagai informasi yang diterima dengan urutan yang baik, jernih, dan logis (Nurdyansayah, 2016: 50). 

Dari ketiga macam teori di atas jelas masing-masing mempunya implikasi yang berbeda, namun secara umum teori kognitivisme lebih mengarah pada bagaimana memahami struktur kognitif siswa.

Dengan memahami struktur kognitif siswa, maka dengan tepat pelajaran bahasa disesuaikan sejauh mana kemampuan siswanya.

Selain itu juga model penyusunan materi pelajaran bahasa arab hendaknya disusun berdasarkan pola dan logika tertentu agar lebih mudah dipahami.

Penyusunan materi pelajaran bahasa arab di buat bertahap mulai dari yang paling sederhana ke kompleks. Hendaknya dalam proses pembelajaran sebisa mungkin tidak hanya terfokus pada hafalan, tetapi juga memahami apa yang sedang dipelajari, dengan demikian jauh akan lebih baik dari sekedar menghafal kosa kata (Nurhadi, 2018: 21).

Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa.

Proses belajar yang dialami seorang anak berbeda pada tahap-tahap lainnya. Oleh karena itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya (Pahliwandari, 2016: 159)

Teori Kognitivisme dalam Kegiatan Pembelajaran  

Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Kegiatan pembelajaran yang berpihak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan (Syah, 2013: 109).

Dalam menemukan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana yang dilakukan dalam pendekatan behavioristik.

Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa.

Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut (Budiningsih, 2015: 43-44):

1). Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berfikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu. 

2).Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik terutama jika mendengarkan benda-benda kongrit. 

3).Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. 

4).Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah memiliki si belajar. 

5).Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks. 

6).Belajar memahami akan lebih bermakna daripada belajar mneghafal. 

7).Adanya perbedaan individual pada diri siswa pelu diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa (Pahliwandari, 2016: 161). (Penulis : Frisca Laurencia, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiah (STIT) Madani, Yogyakarta.

Daftar pustaka

-Anidar Jum. (2017). Teori Belajar Menurut Aliran Kognitif serta Implikasinya dalam Pembelajaran. Jurnal At-Taujih: Bingkai Bimbingan dan Konseling Islami, Vol. 3 No.2, Universitas Imam Bonjol Padang.

-Bu guruku. Implikasi Teori Kognitif Dalam Kegiatan Belajar Pembelajaran. Diakses pada 25 Mei 2022, dari https://buguruku.com/implikasi-teori-kognitif-dalamkegiatan pembelajaran/

-Edukasiinfo, (2021). Pengertian Teori Belajar Kognitif dan Implikasinya dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Diakses pada 25 Mei 2022, dari https://www.edukasinfo.com/2021/03/pengertian-teori-belajar-kognitifdan.html?m=1

-Ekawati Mona. (2019).  Teori Belajar Menurut Aliran Psikologi Kognitif serta Impilikasisnya dalam Proses Belajar dan Pembelajaran. Jurnal E-Tech, Vol. 07, Nomor IV, SDS IT Mutiara.

-Nurhadi. (2020). Teori belajar Kognitivisme serta Aplikasinya dalam Pembelajaran. Jurnal Edukasi dan Sains, Vol  2, Nomor 1.

-Novelti. (2021). Implikasi Aliran Psikologi Kognitif dalam Proses Belajaran dan Pembelajaran. Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat.

Nurfahanah. (2012). Implikasi Teori Perkembangan tradisi dalam Kegiatan Belajar. Jurnal Ilmiyah Ilmu Pendidikan, Vol. XII, No.2, Umiversitas Negeri Padang.

-Sutarto. (2017). Teori Kognitif dan Implikasinya Dalam Pembelajaran. Islamic Counseling, Vol 1, No. 02, Stain Curup.

- Reza Muhammad. (2021). Teori belajar Kognitif dan Impilikasainya dalam pembelajaran.

Diakses pada 25 Mei 2022, dari https://www.mandandi.com/2021/05/teori-belajar-kognitif-danimplikasinya.html?m=1 

-Zenius untuk guru. (2022).  Penerapan Teori Belajar Kognitif di Kelas. Diakses pada 25 Mei 2022, dari https://www.zenius.net/blog/teori-belajar-kognitif.***