Dari Tribun Timur Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Gombak

Dari tribun barat gelanggang pacuan kuda bukit gombak – Sudah lama sekali saya tidak menyaksikan secara langsung kuda berpacu di Gelanggang Pacuan Kuda.

Ilustrasi gambar (Matrapendidikan.com)

Tapi kali ini kesempatan itu datang. Saya bersama rekan sejawat guru dan tenaga kependidikan sengaja datang ke Bukit Gombak dengan konvoi kendaraan bermotor roda dua.

Sebenarnya hari itu, Senin 17 Oktober 2022 bukanlah hari Libur Nasional. Pemerintah Kab. Tanah Datar mengambil kebijakan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk meliburkan guru dan siswa.

Pemda Tanah Datar mengundang guru, siswa dan orangtua siswa datang beramai-ramai untuk menyaksikan Alek Kabupaten Tanah Datar Pacu Kuda hari terakhir di Bukit Gombak Kab. Tanah Datar.

Rombongan kami datang lebih cepat sehingga bisa memilih tribun untuk duduk menonton lebih leluasa. Kami memilih tribun barat gelanggang pacuan kuda Dang Tuanku Bukit Gombak.

Ilustrasi gambar (Matrapendidikan.com)

Alasannya lebih dekat lokasinya dari tempat memarkir motor di sebelah barat gelanggang pacuan kuda.

Saya dan rekan sejawat terpaksa duduk manis di tribun sambil menunggu race awal dengan sabar.

Saya jadi kagum sendiri dengan kondisi tribun. Deretan berjenjang tempat duduk penonton terbuat dari kayu atau papan.

Berbeda ketika menonton pacu kuda tahun 70-an dan 80-an. Duduk di tribun dengan alas dari kepingan bambu sehingga susah kalau duduk berlama-lama.

Itu bukan di Bukit Gombak yang saya alami dulu tetapi di arena pacuan kuda Ampang Kualo Solok.

“Itu dulu, pak. Sekarang sudah berbeda,” celetuk seorang anak muda protes dengan cerita saya.

Saya hanya tersenyum ramah kepada sang anak muda yang cukup cantik di dampingi seorang temannya itu.

Lalu saya membalas celetuknya.

“Betul katamu, nak. Dulu dan sekarang memang beda. Dulu bapak masih muda. Pergi nonton pacu kuda bersama pacar.

Berbeda zaman sekarang, saya sudah mulai tua dan pergi ke arena pacu kuda ini bersama bapak-bapak dan ibuk-ibuk,” balas saya makin senyum, sedikit nakal.

Sang anak muda hanya nyengir sambil berlalu dan menghilang di kerumunan orang ramai.

Ada satu lagi kisah unik karena membuat saya sempat  meneteskan air mata di tribun barat gelanggang pacuan kuda Bukit Gombak.

Seorang bapak muda mengendong bayi dengan wahana pengendong bayi. Naik ke jenjang tribun yang lebih tinggi.

Di belakang sang bapak muda, mengekor seorang ibu muda belia nan cantik dan berkulit putih. Tanpa make up kecuali lipstik tipis mengoles bibirnya yang tipis.

Saya terpana saat sang ibu muda itu duduk di tribun atas kira-kira dua jenjang dari saya.

Sang bayi kini sudah berpindah ke tangan ibu. Spontan saya ingin menjepret dan mengabadikannya melalui kamera ponsel. 

Tanpa terasa air mata saya menetes memandangnya. “Dia mirip dengan anak gadis saya, sangat mirip...” gumam saya spontan.

“Yang perempuan itu rumahnya dekat dengan rumah iami,” balas perempuan setengah baya yang duduk di sebelah saya.

Lapeh taragak jo anak yo, pak?” timpal perempuan di sebelahnya.

"Benar, buk..." Balas saya sembari mengangguk.

“Anak bapak dimana? Apa sudah berkeluarga?”

“Bekerja di Jakarta, buk. Saya belum bermenantu...”

Itulah sepenggal kisah dari tribun barat gelanggang pacuan kuda Dang Tuanku Bukit Gombak sebagai curhat.***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel