Memberdayakan Jalur Pendidikan Moral

Memberdayakan jalur pendidikan moral - Membicarakan pendidikan moral ibarat menggunjingkan penyakit dan obatnya. Krisis moral yang terjadi saat ini, bukanlah penyakit yang tak pernah diobati. Namun kita seakan terjerumus kepada pameo, semakin diobati semakin bertambah parah penyakit yang ada.

Pembahasan kali ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya, program dan kebijakan pendidikan moral. Program dan kebijakan selama ini sudah cukup bagus untuk membina moral anak bangsa. Namun krisis moral semakin meruyak menggerogoti anak bangsa. Inilah yang dimaksud oleh pameo di atas.

memberdayakan,pendidikan,moral

Artinya apa? Obat untuk mencegah penyakit sudah tepat namun strategi dan metode  pemakaian obat  belum sungguh-sungguh diterapkan. Pihak yang terkait dengan pendidikan anak masih setengah hati atau memakai filosofi kapan sempat saja untuk  menerapkan program yang ada.

Oke, melanjutkan pembahasan dimaksud, kita akan coba menelaah jalur pendidikan moral yang sudah sering disosialisasikan secara langsung maupun media massa yang ada.

1.Jalur pendidikan keluarga

Keluarga merupakan jalur pendidikan pertama dan utama pembinaan dan pengembangan moral anak. Dalam keluarga terdapat ayah dan ibu dengan sejumlah anak sebagai anggota keluarga.

Ayah sebagai pemimpin dalam keluarga mempunyai otoritas tinggi untuk menegakkan pendidikan moral kepada anak. Begitu pula keberadaan seorang ibu, membimbing anak ke arah nilai-nilai yang positif dengan penuh kasih sayang. Menanamkan nilai moral, etika dan sopan santun secara nyata kepada anggota keluarga.

Pertanyaannya adalah, sudahkah diterapkan hal-hal tersebut di atas? Kalau sudah, apakah strategi dan metodenya sudah tepat? Terakhir, bagaimana hasilnya, minimal menurut pengamatan kita sendiri? Bagaimana prilaku anak-anak kita di tengah keluarga sendiri maupun di tengah orang-orang tempat mereka bergaul?

2.Jalur pendidikan sekolah

Sekolah merupakan lembaga kolektif pendidikan moral. Dikatakan pendidikan kolektif karena struktur dan muatan kurikulum pendidikan memuat berbagai aspek yang dibutuhkan siswa, yaitu aspek kognitif (intelektual), afektif (sikap dan tingkah laku) dan psikomotorik (keterampilan dan kecakapan hidup).

Dalam praktiknya, pengembangan nilai moral dan etika dilakukan secara samar. Artinya, tidak menunjukkan program yang jelas dan terstruktur. Masih adakah mata pelajaran Budi Pekerti, Akhlak Mulia, Ibadah dan sejumlah mata pelajaran moral lainnya? Yang terjadi justru pengembangan nilai moral maupun karakter anak cenderung diintegrasikan ke dalam mata pelajaran umum dan muatan lokal.

Pola integrasi nilai moral ke dalam mata pelajaran yang ada, mempunyai kelemahan tersendiri. Guru mata pelajaran tidak mungkin dalam waktu yang terbatas mengintegrasikan nilai moral secara komprehensif. Sebab, guru mempunyai tujuan dan  target kurikulum yang harus diselesaikan sesuai alokasi waktu yang tersedia.

Jika alokasi waktu yang terbatas, maka kurikulum 2013 mengakomodasi maslah tersebut dengan menambah alokasi waktu mata pelajaran PKn dari 2 menjadi 3 jam, begitu pula Pendidikan Agama Islam dengan penambahan jam yang sama. Persoalannya, sudah cukupkah usaha menambah alokasi waktu tersebut?

3.Jalur Pendidikan Masyarakat

Masyarakat berperan penting dalam pembentukan moral anak. Lingkungan sosial masyarakat lebih besar pengaruhnya terhadap pembinaan moral anak. Memberdayakan organisasi masyarakat yang ada, seperti Karang Karuna, Remaja Mesjid, PKK, dan kelompok dan struktur sosial lainnya, memiliki kiprah berarti untuk mengembangkan pendidikan moral  anak di tengah masyarakat. Persoalannya adalah, beranikah anggota masyarakat meluruskan prilaku anak yang menyimpang, melanggar norma adat, sosial, dan agama?

Ketiga jalur pendidikan di atas, kiranya berpotensi untuk pembinaan pendidikan moral anak. Namun demikian, semua itu akan menjadi omong kosong belaka jika tidak diimplementasikan secara berangsur-angsur sejak dini.

Bagaimana strategi penerapan pendidikan moral kepada anak? Akan dibahas pada artikel berikutnya. Terima kasih

Share this :

8 Responses to "Memberdayakan Jalur Pendidikan Moral"

  1. perlu totalitas dari berbagai lini masyarakat ya pak untuk benar2 memberdayakan pendidikan moral ini, mulai dari lingkup terkecil keluarga sampai lingkup terbesar yaitu masyarakat. namun banyak orang tua juga yang terkecoh hanya mengandalkan pendidikan moral disekolah sebagai tumpuan perkembangan moral anaknya padahal semua pasti harus dimilai dari cakupan yang tekecil vernama keluarga...terima kasih pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas Jery. Menyerahkan soal pendidikan moral anak ke sekolah semata merupakan kekeliruan orang tua karena jalur pemberdayaan moral mencakup keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Terima kasih inspirasinya, mas Jery...

      Hapus
  2. kalo ketiga jalur tersebut bisa sinergi, tidak perlu ada kekhawatiran akan perkembangan moral anak..ditunggu strategi penerapannya :)
    trimakasi pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mas. memumupus kekhawatiran perkembangan moral anak berarti memberdayakan sinergisitas ke tiga jalur pendidikan tersebut.

      Hapus
  3. keluarga adalah jalur pendidikan pertama yang diterima anak karena sebelum ia masuk ke sekolah maka ia akan belajar dulu dari tempat dimana ia tumbuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalur keluarga ini sering kita anggap sebagai dasar pembinaan moral anak. Jika dasar pembinaan moral kurang bagus, sulit kiranya akan berkembang dengan baik di lingkungan selanjutnya...Terima kasih mbak Elsa.

      Hapus
  4. emang moral bangsa ini yg perlu diperbaiki yamas.kalau ke-3 hal diatas bisa bener2konskwen dilaksanakan pasti hasilnya bukan hanya pintar tp juga berakhlak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali mas. Itu juga menjadi tujuan pendidikan yang hakiki, cerdas di otak dan cerdas di akhlak dan budi pekerti. Terima kasih ya, mas?

      Hapus