Strategi Penerapan Pendidikan Moral

Strategi penerapan pendidikan moral – Strategi pendidkan moral adalah pendekatan atau upaya yang dilakukan untuk menumbuh-kembangkan sikap, tingkah laku dan budi pekerti anak. Indikator keberhasilan strategi ini akan terlihat dari pergaulan anak sehari-hari.

Untuk mendukung upaya penerapan pendidikan moral perlu adanya program dan kebijakan pendidikan moral yang mendukung. Ini bertujuan untuk mewujudkan sasaran apa yang ingin dicapai. 

Dalam hal ini adalah pembinaan moral anak ke arah yang lebih baik. Ini sudah dikemukakan pada bagian pertama pembahasan ini.

strategi,pendidikan,moral

Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel memberdayakan jalur pendidikan moral dan bagian terakhir dari 3 tulisan yang membahas perihal pendidikan moral anak. Strategi ini sesungguhnya bukanlah hal baru namun tidak ada salahnya kita ungkapkan kembali pada kesempatan ini.

1.Keteladanan

Memberi contoh dan teladan kepada anak dinilai sebagai strategi paling efektif dalam pembentukan moral anak. Strategi doktrin yang sering dilakukan pihak orang tua, guru dan orang dewasa lainnya. Sering menimbulkan pembangkangan dan tudingan kepada pemberi doktrin.

Sebaliknya, mengajarkan sesuatu nilai moral dan etika disertai contoh dan bukti nyata justru lebih menunjukkan hasil yang signifikan. Orang tua menyuruh anak shalat dan mengerjakan amal kebaikan. Orang tua memang melaksanakan shalat dan suka bersedekah, mengasihi anak yatim dan bersikap ramah terhadap tamu.

Seorang guru mengajarkan pola hidup sederhana dan dicontohkan secara nyata dengan sikap dan perbuatan kesederhanaan, rendah hati dan jujur. Tidak sebaliknya. Siswa disuruh sederhana namun fakta yang mereka lihat pada guru malah jauh dari kesederhanaan.

Yang paling mendesak barangkali adalah memberikan contoh yang nyata bagaimana etika berbicara dengan yang lebih muda, dengan teman sebaya, dan dengan orang tua serta guru. Begitu pula sikap dan tingkah laku bergaul di tengah masyarakat, ini perlu dicontohkan dengan nyata kepada anak oleh orang tuanya.

2. Pembiasaan Diri

Kebiasaan-kebiasan unik dan positif dalam keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat, perlu dikembangkan secara berkesinambungan. Kebiasaan-kebiasaan  tersebut mengarah pada pembentukan moral anak.

Misalnya, pemberian hukuman kepada anak/siswa yang melakukan kesalahan sebagai bukti tanggung jawab terhadap tingkah laku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Pemberian penghargaan verbal maupun non verbal kepada anak/siswa yang melakukan kebiasaan baik.

3.Peraturan dan tata tertib

Dalam keluarga memiliki aturan dan tata tertib terntentu yang harus ditaati sehingga anak terbiasa untuk patuh dan taat pada setiap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Di lembaga sekolah sudah pasti memiliki peraturan dan aturan tertentu. Penegakan peraturan dan tata tertib tersebut mesti dengan pendekatan persuasif. Hukuman dan sanksi yang diberikan kepada siswa yang melanggar mestilah bersifat mendidik dan memberi efek kesadaran diri.

4.Aktivitas dan hobi

Anak-anak tidak hanya beraktivitas dan belajar secara rutin di sekolah maupun ti rumah. Anak juga butuh bermain dengan sesama teman, menyalurkan hobi dan kegemarannya. 

Dalam hal ini, ada nilai sosial pergaulan seperti saling menghargai melalui ucapan maupun tingkah laku. Kegiatan olah raga mengandung nilai sportifitas, menerima kekalahan dan kemenangan.

Tentu saja masih masih banyak strategi lain dalam menerapkan pendidikan moral kepada anak. Namun demikian prinsipnya adalah sekecil apapun usaha pengembangan nilai moral dan etika pada anak, sudah sangat berarti mereduksi krisis moral pada anak dan remaja.

Share this :

12 Responses to "Strategi Penerapan Pendidikan Moral "

  1. broblem utamanya sekarang saya kira keteladanan. maka perlu sungguh-sungguh terutama bagi diri sendiri yang sadar moral berupaya agar jadi teladan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas. Pola keteladanan harus diterapkan secara sungguh-sungguh mulai dari diri sendiri, orang tua maupun guru di sekolah serta pemuka masyarakat. Terima kasih ya, mas?

      Hapus
  2. anak yang cerdas perlu dibekali pendidikan moral

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerdas fikiran dan moral, itu sesungguhnya tujuan pendidikan. terima kasih mbak Elsa...

      Hapus
  3. yang nomor 1 sama nmor 3 itu patut di terapkan mas terutama pada pembiasaan diri ..
    yang sudah mas katakan diatas memang benar kebiasaan-kebiasaan seperti itu dapat mengarah pada pembentukan moral anak tersebut .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih dukungannya, mas...

      Hapus
  4. Kalau saya lebih sepakat pada pembiasaan diri itu pak, sebab sama seperti makan nasi, kita sudah biasa dan jika ditukar dengan jagung tentu nasi tetap jadi makanan utama, begitu juga dengan penerepan pendidikan moral :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, pak Ibrahim. Mudah-mudahan dengan pembiasaan atau melakukan budaya baik dalam keluarga, upaya pembinaan moral anak menunjukkan perkembangan yang menggembirakan...

      Hapus
  5. yang utama adalah, cara bagaimana seorang guru bisa memahami karakter dari masing-masing anak didiknya sehingga guru pembimbing dengan mudah mentransfer ilmu yang dimiliki ke anak didik dengan sasaran yang tepat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali mbak. Terima kasih dukungannya.

      Hapus
  6. pendidikan moral memang saat ini penting sekali untuk diterapkan bagi palajar agar moral mereka bisa bagus kalau sudah besar ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak Ririn. Rusaknya moral orang dewasa saat ini, salah satunya memang karena strategi pendidikan moral belum dilaksanakan dengan baik...

      Hapus